Tiga krisis planet menguat pada 2024 ini. Namun, upaya mengatasinya melalui perundingan global tidak menunjukkan kemajuan yang menjanjikan.
26 Des 2024 16:12 WIB · Nasional
Rekor suhu panas diikuti hujan lebat ekstrem di sejumlah negara, badai tropis menguat dan tambah merusak, terumbu karang memutih dan mati, satu dari tiga spesies pohon di dunia terancam punah, serta sampah plastik semakin memenuhi lautan. Rasanya tiada hari tanpa berita yang menghancurkan tentang lingkungan.
Peristiwa-peristiwa ini merupakan gejala dari tiga krisis planet: perubahan iklim, hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, serta polusi. Krisis ini tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga masa depan kehidupan manusia.
Perubahan iklim menjadi isu paling mendesak. Rekor suhu panas pada 2023 dan bisa dipastikan akan kembali terjadi pada 2024. Suhu November 2024 telah mencapai 1,62 derajat celsius di atas tingkat pra-Revolusi Industri.
Hal itu berarti hampir sepanjang tahun suhu Bumi lebih panas 1,5 derajat celsius dibandingkan dengan 1850-1900. Dengan tren ini, tahun 2015-2024 akan jadi 10 tahun terpanas yang pernah tercatat. Di Indonesia, dampak kenaikan suhu itu bisa dilihat dengan penyusutan drastis es di Puncak Jaya, Papua.
Survei lapangan yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 11-15 November 2024 menemukan penurunan signifikan, baik luasan maupun ketebalan es yang ada di Puncak Jaya. Luasan es di Puncak Jaya kini tinggal 0,11- 0,16 kilometer persegi dari sebelumnya 0,23 kilometer persegi pada 2022.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/10/5a77f88efa02bf8b933c816dfaed26fc-kenaikan_suhu_bumi.png)
Sementara itu, ketebalan es di Puncak Jaya tinggal 4 meter. Angka ini jauh lebih tipis dibandingkan dengan 2010 yang ketebalannya masih 32 meter (m), lalu merosot menjadi 5,6 meter pada November 2015-Mei 2016. Dengan tren penyusutan ini, es di Puncak Jaya diprediksi bakal sepenuhnya hilang pada 2026, yang artinya kita hanya bisa melihatnya pada tahun ini.
Suhu yang memanas juga berarti cuaca yang semakin ekstrem. Berbagai peristiwa cuaca berbahaya dan dahsyat pada 2024 menjadi lebih mungkin terjadi dan merusak akibat perubahan iklim.
Beberapa kejadian cuaca ekstrem meliputi, antara lain, badai Helene menewaskan 228 orang dan kerugian 124 miliar dollar AS di Amerika Serikat, kebakaran hutan hebat di Amazon, hujan lebat ekstrem di India, banjir terdahsyat di Spanyol yang menewaskan ratusan orang, dan gelombang panas selama Olimpiade Musim Panas.
Sepanjang 2024, Indonesia juga mengalami berbagai cuaca ekstrem mematikan, seperti banjir dan longsor yang menewaskan belasan orang di Ternate pada Agustus 2024.
Suhu yang terus memanas berarti menyempitnya ruang kehidupan karena ekosistem di planet ini berjalan dalam relung iklim sempit. Suhu memanas bakal mempersempit relung Bumi yang menopang kehidupan: kenaikan suhu mencairkan es di kutub dan mempercepat kenaikan muka air laut, selain memutihkan terumbu karang yang mengancam kehidupan di lautan.
Rekor suhu panas dua tahun terakhir didukung oleh fenomena El Nino kuat yang terjadi sejak 2023 dan baru berakhir di pertengahan 2024. La Nina yang muncul di akhir tahun ini akan sedikit meredakan kenaikan suhu.
Namun, suhu tahun 2025 kemungkinan masih akan tinggi, setidaknya di atas 1,2 derajat celsius lebih panas dibandingkan dengan 1850-1900, yang secara permanen telah terjadi akibat akumulasi pemanasan global, bahkan tanpa faktor El Nino.
Perubahan iklim hanya satu dari tiga krisis yang kini melanda planet ini. Tiga krisis planet merupakan istilah yang dipakai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menggambarkan tiga krisis lingkungan global saling berhubungan dan mengancam fondasi perdamaian, kesejahteraan, dan keamanan: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/26/83891b2b-6e87-420f-83c4-bb2d058457db.jpg)
Laporan Living Planet WWF 2024 mengungkap penurunan populasi satwa liar hingga 73 persen selama 50 tahun terakhir, sebagaimana diukur Living Planet Index (LPI). Penurunan ini, yang diamati antara tahun 1970 dan 2020, mengindikasikan keanekaragaman hayati planet kita dalam ancaman besar, dengan konsekuensi parah bagi ekosistem dan kelangsungan hidup manusia.
Sementara LPI yang dikembangkan oleh Zoological Society of London, memantau hampir 35.000 tren populasi di 5.495 spesies, mengungkap kenyataan yang suram, yakni dunia liar kita dalam bahaya dan sistem yang kita andalkan memburuk dengan cepat.
Tiga krisis lingkungan global saling berhubungan dan mengancam fondasi perdamaian, kesejahteraan, serta keamanan: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.
Tak hanya fauna, penyusutan spesies juga terjadi pada pepohonan, yang menjadi fondasi sistem kehidupan di Bumi. Laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN), pada Oktober 2024 menyebut, satu dari tiga spesies pohon di dunia terancam punah. Sedikitnya 16.425 dari 47.282 spesies yang dinilai IUCN berisiko punah.
Spesies pohon yang terancam punah berada di 192 negara di seluruh dunia. Pohon-pohon terkenal, seperti magnolia, termasuk yang paling terancam punah, sementara pohon ek, mapel, dan eboni juga terancam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/09/02/20210902-ANU-Spesies-punah-edit_1630598226.png)
Dengan data terbaru ini, pohon sekarang mencakup lebih dari seperempat spesies dalam Daftar Merah IUCN, dan jumlah pohon yang terancam lebih dari dua kali lipat jumlah semua burung, mamalia, reptil, dan amfibi yang terancam jika digabungkan.
Proporsi tertinggi pohon yang terancam punah ditemukan di area kepulauan, termasuk Indonesia. Pepohonan di kepulauan, terutama pulau kecil, berisiko akibat penggundulan hutan, spesies invasif, hama, dan penyakit. Perubahan iklim kian mengancam pohon, terutama di daerah tropis, melalui kenaikan permukaan laut dan badai lebih kuat serta lebih sering terjadi.
Di Indonesia, satu spesies telah dinyatakan berstatus Punah (Extinct), yakni Etlingera heyneana, tanaman monokotil yang masuk dalam famili Zingiberaceae. Tanaman ini dulu tersebar di hutan di Jawa dan terakhir kali diamati pada 1921 dan dinilai punah oleh IUCN pada 2019.
Dua spesies lainnya berstatus Punah di Alam (Extinct in The Wild), yaitu Mangifera casturi, mangga kasturi endemik Kalimantan, dan Amomum sumatranum atau jahe hutan Sumatera.
Kepunahan spesies ini menandai ancaman ambruknya ekosistem. Situasi memburuk dengan pencemaran lingkungan, terutama polusi udara, yang semakin parah.
Data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), polusi udara merupakan penyebab terbesar penyakit dan kematian dini di dunia, dengan lebih dari 7 juta orang meninggal dini setiap tahun. Saat ini, sembilan dari 10 orang di seluruh dunia menghirup udara yang mengandung tingkat polutan melebihi pedoman.
Pencemaran berikutnya yang juga amat berbahaya berasal dari plastik. Polutan ini telah mencemari air, tanah, dan udara. Dari palung laut terdalam di Pasifik hingga puncak-puncak gunung tertinggi telah ditemukan cemaran plastik.
Bahkan, mikroplastik dan nanoplastik juga telah ditemukan di semua organ tubuh manusia, termasuk plasenta dan janin manusia, menyebabkan ancaman serius pada kesehatan.
Tiga krisis planet yang mengancam kelangsungan hidup manusia di masa depan ini bukannya tidak disadari. Hal itu yang mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar perundingan tentang perubahan iklim, keragaman hayati, dan polusi plastik.
Tahun ini, perundingan iklim PBB berlangsung di Baku, Azerbaijan. Disebut sebagai ”COP (Conference of the Parties) Keuangan”, perundingan iklim pada November 2024 dinilai jauh dari harapan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/27/53548b301734c132a5684d5dc1098cda-IMG_0362.jpg)
Negara-negara kaya yang secara historis jadi pemicu utama emisi gas rumah kaca hanya mau memberikan dana iklim 300 miliar dollar AS per tahun kepada negara berkembang dan miskin, dari kebutuhan 1,3 triliun dollar AS per tahun.
Dana ini dibutuhkan negara-negara miskin dan berkembang untuk menghadapi dampak bencana iklim yang makin merusak, sekaligus melakukan transisi ke emisi nol bersih. Jika tak mencukupi—dan dipastikan kurang—mereka dipaksa berutang.
Tak hanya itu, COP29 di Baku gagal mempertegas capaian dalam perundingan tahun lalu di Uni Emirat Arab untuk meninggalkan bahan bakar fosil. Arab Saudi dan sekutunya, para produsen minyak dan gas, mengacaukan perundingan tahun ini dengan tak memberikan ruang memperjelas pengakhiran bahan bakar fosil.
Mereka enggan berkomitmen untuk menjauh dari sumber energi kotor, sesuatu yang ditekankan oleh negara-negara kaya sebagai imbalan atas dana 300 miliar dollar AS tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/30/d0c9561c-1600-474c-89ef-411b1f5af417.jpg)
Arab Saudi, selain Rusia, kembali menjadi negara di balik kegagalan upaya perundingan untuk mengakhiri polusi plastik, di Busan, Korea Selatan, akhir November 2024. Negara produsen minyak, yang menjadi bahan baku utama plastik primer ini, memblokade setiap upaya pembatasan produksi plastik.
Sekalipun kelompok lebih besar, terdiri dari lebih dari 100 negara, mendukung pendekatan komprehensif untuk mengakhiri polusi plastik, blokade beberapa negara ini membuat perundingan berakhir tanpa kesepakatan.
Ironisnya, Indonesia yang bukan negara utama penghasil minyak bumi dan termasuk paling terdampak dari pencemaran mikroplastik tidak berada dalam barisan 100 negara yang mendukung pendekatan komprehensif mengakhiri polusi plastik. Indonesia bahkan termasuk yang menolak mengurangi produksi plastik dan hanya mendukung tata kelola plastik di level hilir.
Sikap tak progresif Indonesia juga ditunjukkan dalam perundingan iklim. Indonesia lebih sibuk mencari dana dari perdagangan karbon dan seperti menutup mata pada jeritan negara-negara kepulauan kecil yang kesulitan menghadapi dampak bencana iklim. Padahal, sebagian pulau kecil kita terdampak, bahkan kota-kota di pantai utara Jawa menuju tenggelam permanen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/27/495924eeab791ccef8a54d9efe133927-2041128AIK1.jpg)
Sedikit kabar baik berasal dari Pertemuan ke-16 Konferensi para Pihak (COP16) PBB tentang Keanekaragaman Hayati di Cali, Kolombia. Untuk pertama kali keberadaan masyarakat adat dan masyarakat lokal kini diakui dan diberi ruang terlibat dalam pengambilan keputusan tentang pelestarian keanekaragaman hayati global.
Para delegasi akhirnya sepakat untuk membentuk Badan Tambahan (Subsidiary Body) berdasarkan Pasal 8j Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal yang akan memungkinkan masyarakat adat dan lokal berpartisipasi langsung dalam implementasi perlindungan hayati.
Perkembangan ini memberikan sedikit harapan di tengah krisis kepunahan spesies, kehilangan keanekaragaman genetik, dan ancaman keruntuhan ekosistem. Namun, hal ini tak akan cukup mengerem tiga krisis planet yang saling terkait itu. Harus diakui, jalan keluar mengatasi tiga krisis ini sekarang menyempit.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy Rachmawati