Tiga Nama yang Menunda Gencatan Senjata Tiga Jam

Israel dan Hamas memulai kesepakatan genjatan senjata dan membebaskan sandera Israel dan tahanan Palestina.

20 Jan 2025 13:08 WIB · Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Akhirnya gencatan senjata di Gaza, Palestina, bisa terwujud, Minggu (19/1/2025) pukul 11.15 waktu setempat, tertunda selama tiga jam, dari rencana semula pukul 08.00 waktu setempat.

Foto drone menunjukkan sebuah mobil di tengah kehancuran kota akibat serangan udara dan darat Israel di Rafah 19 Januari 2025. AP/Jehad Alshrafi

Penundaan terjadi salah satunya karena kepastian tiga nama sandera yang akan dibebaskan Hamas. Namun, setelah pihak Hamas merilis nama yang akan dibebaskan, gencatan senjata yang direncanakan berlangsung selama enam minggu sebagai bagian dari upaya menghentikan kekerasan akhirnya dimulai.

Konvoi van dan kendaraan militer yang membawa para sandera yang dibebaskan dari Gaza tiba di pangkalan militer di Israel selatan, Minggu, 19 Januari 2025.
Anggota keluarga dan kerabat tahanan Palestina, menunggu pembebasan kerabat mereka, di sebuah bukit di atas Penjara Ofer, Ramallah pada 19 Januari 2025.
Sebuah bus membawa tahanan Palestina yang telah dibebaskan tiba di kota Beitunia, Tepi Barat, Senin pagi, 20 Januari 2025.
Konvoi Palang Merah yang membawa 3 tawanan warga Israel yang dibebaskan Hamas, di Kota Gaza Minggu, 19 Januari 2025.
Emily Damari (Kiri) menyalami teman-temannya saat diangkut bersama dua sandera lainnya saat tiba di Pusat Medis Sheba Tel HaShomer di Ramat Gan pada 19 Januari 2025, setelah mereka dibebaskan dari penawanan Hamas di Jalur Gaza setelah serangan 7 Oktober 2024. Tiga sandera Israel pertama dibebaskan untuk ditukar dengan 90 warga Palestina yang ditawan Israel.

Militer Israel lantas menarik pasukan dan kendaraan militernya dari pusat kota Rafah menuju perbatasan selatan Gaza dengan Mesir ke daerah yang disebut koridor Philadelphi.

Pihak Hamas merespons dengan membebaskan tiga sandera, yakni Romi Gonen (24 tahun), Emily Damari (28 tahun), dan Doron Steinbrecher (31 tahun). Romi Gonen diculik dari festival musik Nova sewaktu Hamas diam-diam menyerbu ke Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan itu menewaskan lebih dari 260 orang pengunjung festival.

Pemuda Palestina mengibarkan bendera nasional, bendera Hamas (hijau) dan Hizbullah (kuning) dari atas bus Palang Merah yang membawa sekitar 90 tahanan yang dibebaskan oleh Israel pada dini hari tanggal 20 Januari 2025 di kota Beitunia, Tepi Barat. Massa bersorak, meneriakkan dan membunyikan klakson mobil ketika dua bus yang membawa para tahanan tiba di Beitunia. AFP/Zain Jaafar

Tak lama berselang, pihak Israel membalas pembebasan tiga warganya dengan membebaskan 90 sandera yang terdiri dari 69 perempuan dan 21 remaja lelaki yang sebelumnya ditahan di Tepi Barat dan Jerusalem. Dua bus berisi 90 sandera itu disambut meriah laksana pahlawan setiba di Kota Beitunia di Tepi Barat, Palestina. Kibaran bendera Hamas dan teriakan kegembiraan bergema di penjuru kota.

Pejuang Hamas mengawal kendaraan Palang Merah yang mengangkut sandera Israel yang dibebaskan setelah perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas berlaku di Kota Gaza Minggu, 19 Januari 2025.
Seorang tahanan Palestina disambut oleh kerabatnya usai dibebaskan oleh Israel pada dini hari tanggal 20 Januari 2025 di kota Beitunia, Tepi Barat, Ramallah. Massa bersorak, meneriakkan dan membunyikan klakson mobil ketika dua bus yang membawa para tahanan tiba di Beitunia. Pembebasan ini merupakan bagian dari perjanjian gencatan senjata Gaza yang dimulai pada 19 Januari.
Romi Gonen (kanan) dan ibunya Merav berpelukan di dekat kibbutz Reim, Israel selatan setelah Romi dibebaskan dari penawanan oleh militan Hamas di Gaza, Minggu, 19 Januari 2025.
Tahanan Palestina berusia 17 tahun Qassem Jaafra dipeluk pamannya setiba di rumahnya di lingkungan Silwan di Yerusalem timur setelah bebas dari penahanan Israel, 20 Januari 2025. Qaassem bersama dengan 90 tahanan Palestina lainnya dibebaskan sebagai balasan pelepasan 3 tawanan warga Israel yang ditahan Hamas. Pertukaran tawanan ini sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata Gaza yang mulai berlaku sehari sebelumnya.

Terwujudnya gencatan senjata kali ini tak lepas dari peran penting negara Qatar dan Mesir. Gencatan senjata ini disetujui kedua belah pihak setelah hampir satu tahun mediasi intensif oleh Qatar dan Mesir.

Ini diharapkan menjadi langkah awal mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 15 bulan di Gaza, yakni sejak 7 Oktober 2023. Saat itu Israel melancarkan serangan ke Gaza, wilayah Palestina untuk menghancurkan Hamas yang menyerang mereka dan menewaskan warganya.

Dalam konflik singkat itu, tak kurang dari 47.000 orang Palestina tewas dalam serangan Israel dan ribuan penduduk Palestina mengungsi ke tempat yang lebih aman. Di pihak Israel, 400 tentaranya juga dinyatakan tewas.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Kini warga Palestina bisa sejenak merasakan kedamaian. Banyak di antara mereka yang mengungsi kembali ke daerah asalnya untuk melihat tempat tinggalnya dan mencari sanak saudaranya yang tercerai-berai karena perang. Semoga situasi ini berlangsung lama, syukur-syukur selamanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari