Tahun Baru Bertubi dalam Sebulan, YOLO pun Menjadi YONO

Seiring tahun berganti, gaya hidup orang kota pun bertransformasi. Dari YOLO bergeser ke YONO. Perubahan karena tekanan atau kesadaran?

26 Jan 2025 09:00 WIB · Opini

Oleh Neli Triana

Neli Triana (NEL)

Perayaan tahun 2025 dalam penanggalan Masehi memang telah berlalu. Namun, euforia menyambut tahun baru tidak dibiarkan mereda. Menutup Januari, ada tambahan hari libur, di antaranya Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili. Tanggal merah bertubi. Libur panjang lagi.

Meskipun demikian, sebagian orang memilih tidak mengikuti hasrat bersenang-senang. Menjadikan pergantian tahun sebagai awal perubahan ke arah lebih baik, alih-alih terus mengikuti gaya hidup YOLO, FOMO, mereka kini bertekad menjalani YONO. Singkatan-singkatan apakah itu?

YOLO (you only live once) disebut sebagai gaya hidup yang lekat dengan generasi X atau milenial dan kemudian menghinggapi pula generasi Z. YOLO menekankan pentingnya menikmati hidup saat ini, bukan tersandera meratapi masa silam atau terlalu fokus membangun masa depan.

Gaya hidup ini dipuja, tetapi sekaligus dicaci. Sikap untuk menjalani hidup bahagia di masa sekarang cenderung mementingkan diri sendiri, tidak peduli orang lain, apalagi soal lingkungan keberlanjutan. Namun, sebelum ikut memuja atau membenci YOLO, lebih baik memahami dulu apa itu gaya hidup.

Istilah gaya hidup mulai dikenal publik di awal tahun 1900-an atau ketika dunia memasuki era modern dengan perkembangan teknologi mesinisasi yang menyulut revolusi industri dan pesatnya perkembangan perkotaan.

Pesatnya perkembangan perkotaan turut membuka mata tentang adanya perbedaan cara hidup yang mencolok antara perdesaan dan kawasan urban. Di lingkungan kota, semakin besar dan kompleks, ditemukan pula beragam gaya hidup warganya.

Swafoto dari puncak Padar

Alfred Adler kemudian menjadi salah satu ilmuwan yang memopulerkan istilah gaya hidup. Bagi dokter medis dan psikolog asal Australia tersebut, gaya hidup adalah bagian dari kebutuhan sekunder yang bisa berubah bergantung zaman atau keinginan seseorang.

Walaupun tidak semuanya kasat mata, gaya hidup dapat sedikit banyak terungkap dari cara berpakaian, kebiasaan, atau pilihan-pilihannya dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana pengeluaran atau pengelolaan uangnya, dan beberapa hal lainnya. Setiap orang bisa menilai gaya hidup orang lain. Baik buruknya sangat subyektif dan tentu saja tak selalu benar.

Menurut Adler, gaya hidup seseorang dipengaruhi pengalaman masa kecil dan pengaruh keluarga dan lingkungan terdekat. Namun, kreativitas individu tetap menentukan pilihan gaya hidupnya. Adler meyakini adanya kesatuan individu, yaitu pemikiran, perasaan, emosi, dan perilaku tunduk pada gaya hidup pilihannya.

Penulis buku Adler’s Way of Life itu menyatakan, pilihan gaya hidup yang berarti juga menunjukkan ia bagian dari suatu kelompok atau lingkungan sosial. Ini adalah cara setiap orang untuk menunjukkan eksistensi diri, jati diri.

Ia meyakini pada hakikatnya setiap individu atau kelompok masyarakat memiliki kapasitas untuk selalu dapat hidup berdampingan dengan pihak lain, apa pun perbedaan gaya hidup yang dimiliki.

Kembali ke YOLO yang digandrungi orang-orang kelahiran sekitar satu abad setelah Adler memopulerkan gaya hidup, sambutan positif dan negatif terhadapnya selalu meramaikan perbincangan global. Istilah ini mulai menyabet perhatian publik dunia ketika menjadi trending topic di Twitter (X) sekitar tahun 2011.

Artikel berjudul ”From #FollowFriday to YOLO: Exploring the Cultural Salience of Twitter Memes” oleh Alex Leavitt dalam buku Twitter and Society (2014), menjelaskan bahwa YOLO adalah cara menikmati hidup secara maksimal dan bebas.

Quote

’You only need one’ atau YONO yang mengingatkan bahwa kebutuhan kita itu tidak sebanyak yang kita mau. Gaya hidup ini menolak disetir oleh iklan, pemengaruh, atau tren di media sosial.

Akibatnya, penganut gaya hidup ini cenderung mengejar kesenangan yang diwujudkan dalam perilaku konsumtif terhadap kebutuhan nonprimer, seperti berlibur, nonton konser musik, hingga berbelanja baju sampai produk kosmetik atau perawatan kulit dan tubuh.

Gaya hidup ini kemudian dituding membahayakan bagi masa depan individu, masyarakat secara umum, bahkan lingkungan.

Tren YOLO memunculkan FOMO (fear of missing out) atau ketakutan ketinggalan sesuatu sehingga selalu ingin tahu apa yang tren dan mengikuti arus. Lagi-lagi asal eksis yang diyakini banyak orang sebagai wujud kebahagiaan. Unggahan di media sosial menunjukkan hal ini. Gaya hidup ini dituding membahayakan bagi masa depan manusia dan lingkungan.

Sayangnya, publik lupa bahwa YOLO sebenarnya tak melulu tentang konsumerisme. Mengingatkan pada diri sendiri bahwa ia layak bahagia apa pun kondisinya adalah penggugah semangat hidup.

Apa daya semangat itu ditangkap sebagai peluang bagi pihak tertentu. Ada pula yang meyakini bahwa YOLO dan FOMO sengaja dikreasikan demi membidik sisi psikologis manusia yang selalu ingin tampil berbeda, tetapi juga sukarela meniru pihak lain. Para selebritas sampai pemengaruh dikerahkan demi membawa YOLO dan FOMO sebagai gaya hidup arus utama.

Salah satu pusat perbelanjaan yang menawarkan pengalaman berbelanja dan rekreasi di Queen City Mall, Kota Semarang, Jawa Tengah, 24 November 2023.
Suasana di salah satu sudut gerai sepatu bermerak di toko ritel perlengkapan olahraga basket, di pusat belanja Central Park Mall, Jakarta, Senin (23/9/2024).

Dunia industri menguras semua energi baik YOLO untuk membuat masyarakat merasa perlu membeli produk mereka. Dari sekadar nongkrong di kedai kopi kekinian yang berseliweran di Tiktok, memiliki tumbler bermerek seharga jutaan rupiah, sampai liburan mewah ala artis. Jika penghasilan tak mencukupi, tenang ada produk kartu kredit sampai paylater.

Penganut YOLO dengan literasi keuangan buruk sekadar mengagungkan kehidupan hedon berbuah banyak masalah, dari kesulitan keuangan sampai masalah mental yang terkadang berujung mematikan.

YONO yang menyadarkan

Ketika YOLO sedang kuat-kuatnya membuai semua lapisan masyarakat, pandemi Covid-19 membungkamnya. Berbagai kritik terhadap gaya hidup ini bergaung lebih keras. Didukung tekanan ekonomi dan kebebasan individu yang nyaris terampas kala itu membuat orang berpikir ulang tentang hidup dan kebahagiaan.

Bertahan hidup dengan berbasis pada kesederhanaan, berhemat, mensyukuri dan memaksimalkan yang ada ternyata menumbuhkan kebahagiaan. Gaya hidup frugal mengemuka tanpa membuat YOLO tersingkir. Justru menikmati apa pun yang ”terhidang” saat ini selagi masih bernapas, membuat YOLO menemukan kembali semangat murninya.

Ketika pandemi berlalu dan kondisi ekonomi perorangan ternyata tak segera melambung membaik mengikuti situasi serupa secara nasional ataupun global, orang berusaha tetap mencapai bahagia dengan jurus yang dikenalnya dengan modifikasi. Muncullah YONO.

YONO (you only need one) yang mengingatkan bahwa kebutuhan kita itu tidak sebanyak yang kita mau. Gaya hidup ini menolak disetir oleh iklan, pemengaruh, atau tren di media sosial. YONO memaksa diri untuk berpikir apa yang benar dibutuhkan dan apa yang dimaui hanya karena FOMO atau tuntutan menjadi bahagia di luar nalar.

YONO juga mengikuti keprihatinan global ketika masalah lingkungan menimbulkan bencana di berbagai belahan dunia. Mengerem konsumerisme menjadi perjuangan bersama untuk menekan laju kerusakan bumi. Cara-cara hidup individu hingga pengelolaan kawasan dan industri yang berkelanjutan menjadi satu-satunya pilihan.

Mendekati akhir 2024 pun muncul tantangan untuk tidak berbelanja di luar kebutuhan primer di tahun baru. Gaung tantangan itu meredup ketika Januari 2025 datang. Akan tetapi, situasi ternyata belum banyak berubah, pemutusan hubungan kerja masih berlanjut di semua lini usaha. Meskipun ada kabar kenaikan upah minimum regional dan pembatalan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai, harga barang-barang tetap melonjak.

YONO pada akhirnya tetap menjadi gaya hidup paling logis yang dapat dianut saat ini. Apakah salah jika tetap ingin menonton konser musisi idola atau berpetualang di Raja Ampat? Selama dapat mempersiapkannya dengan baik dan tahu pasti tidak akan ada masalah membelit setelahnya, mengapa tidak.

Urbanites, seperti kata Adler, gaya hidup itu pilihan dan berubah kapan pun terserah individu bersangkutan. Mau YOLO atau YONO, pikirkan baik-baik. Sudah tidak zamannya sekadar hanyut mengikuti arus tren.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan