China terus mengalami depopulasi karena banyak faktor, termasuk urbanisasi, diskriminasi jender, dan perlambatan ekonomi.
18 Jan 2025 18:00 WIB · Internasional
HONG KONG, SABTU — Populasi di China tercatat kembali turun pada 2024. Dengan demikian, populasi di negara berpenduduk terbanyak kedua di dunia ini telah turun selama tiga tahun berturut-turut. Tren ini akan semakin cepat terjadi di masa depan sehingga menjadi tantangan bagi perekonomian negara.
Badan Statistik Nasional China, Jumat (17/1/2025), melaporkan, jumlah populasi warga sebanyak 1,408 miliar jiwa pada akhir 2024. Jumlah ini turun 1,39 juta jiwa dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Penurunan terjadi karena angka kelahiran naik, tetapi angka mortalitas masih lebih besar, mencapai 10,93 juta kematian. Sementara angka kelahiran 9,54 juta kelahiran. Hal ini berarti ada 6,77 kelahiran per 1.000 orang sepanjang 2024.
”Sebagian besar penurunan populasi China ada pada alasan struktural yang mengakar. Tanpa transformasi struktural fundamental, mulai dari peningkatan jaring pengaman sosial hingga penghapusan diskriminasi jender, tren penurunan populasi tidak dapat dibalik,” kata Yun Zhou, asisten profesor sosiologi di University of Michigan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/6e855abd-e9b5-4613-a7bd-42211133b553_jpeg.jpg)
Angka kelahiran di China terus turun selama beberapa dekade. China menerapkan kebijakan satu anak selama 1980-2015. Waktu itu, petinggi negara khawatir jumlah penduduk akan melampaui kemampuan memproduksi pangan sendiri.
Selain itu, faktor urbanisasi ikut memengaruhi fenomena tersebut, seperti yang terjadi di Jepang dan Korea Selatan. Banyak penduduk China pindah dari perdesaan ke perkotaan sehingga jumlah penduduk kota menjadi 943,3 juta jiwa. Jumlah penduduk desa turun menjadi 464,78 juta jiwa. Di kota, biaya untuk memiliki anak jauh lebih mahal, seperti untuk pendidikan dan pengasuhan anak.
Kondisi tersebut diperparah dengan terbatasnya lapangan pekerjaan, biaya hidup tinggi, ekonomi melambat, dan migrasi ke luar negeri. Alhasil, anak muda China enggan menikah atau mulai berkeluarga. Mereka memilih untuk mengejar pendidikan dan karier.
Para ahli demografi menjelaskan, diskriminasi jender, kesulitan perempuan mengakses tunjangan pengasuhan anak, dan tuntutan kuno atas peran perempuan mengurus rumah tangga ikut memperburuk masalah.
Angka pernikahan sempat bertumbuh 12,4 persen pada 2023. Akan tetapi, itu merupakan pernikahan yang tertunda karena pandemi Covid-19. Peningkatan pernikahan pada 2023 berkontribusi pada peningkatan angka kelahiran 2024. Angka kelahiran diproyeksikan turun lagi pada 2025.
”Dalam jangka panjang, tren penurunan kelahiran, penyusutan populasi secara keseluruhan, dan penuaan dini tetap tidak berubah,” tutur Zhao Litao, peneliti senior di Institut Asia Timur, National University of Singapore.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/28/354f6950-465c-4b86-8f82-c0448220414c_jpg.jpg)
China bergabung dengan Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara Eropa Timur yang mengalami depopulasi. Data Badan Statistik Nasional yang baru memperkuat kekhawatiran China soal perekonomian negara. Jangan sampai China menua sebelum menjadi negara maju.
Ketika jumlah penduduk berkurang, jumlah tenaga kerja dan konsumen turut menurun. Sementara usia harapan hidup bertambah panjang. Perekonomian bakal tertekan dengan meningkatnya biaya perawatan warga lansia dan tunjangan pensiun.
Populasi warga usia 60 tahun ke atas yang masuk kategori pensiun di China saat ini sebanyak 310,31 juta orang atau 22 persen dari total populasi pada 2024. Angka ini diprediksi meningkat menjadi lebih dari 400 juta orang pada 2035.
Alhasil, wacana untuk mengubah usia pensiun secara bertahap muncul sejak September 2024. Dengan jumlah pelajar yang semakin sedikit, beberapa sekolah dan taman kanak-kanak yang kosong diubah menjadi panti jompo.
Padahal, sistem jaminan sosial China mulai goyah di tengah pengeluaran besar-besaran negara untuk militer dan infrastruktur. Warga China mulai menolak membayar dana pensiun. Akademi Ilmu Pengetahuan China yang dikelola negara menyatakan, sistem pensiun akan kehabisan dana tahun 2035.
”Kecuali jika ada kebijakan yang kuat untuk mendorong kelahiran diterapkan, proporsi populasi lansia akan terus meningkat,” ucap He Yafu, pakar demografi independen di China, menegaskan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/05/11/247a2561-536a-409c-b857-22d1ae7e1208_jpg.jpg)
Pemerintah China sudah meluncurkan serangkaian langkah untuk menggenjot angka kelahiran. China mengizinkan keluarga untuk mempunyai tiga anak sejak 2021. Selain itu, keluarga dengan tiga anak akan mendapat bantuan keuangan dan tempat tinggal. Namun, metode ini hanya memberikan efek positif sementara.
Pada November 2024, Dewan Negara mengumpulkan pemerintah daerah untuk mengarahkan sumber daya yang bertujuan memperbaiki krisis populasi. Pertemuan ini juga membahas penyebaran rasa hormat pada pernikahan dan kelahiran anak pada usia yang tepat.
Jumlah perempuan China usia produktif, yaitu 15-49 tahun, diperkirakan akan turun tajam menjadi di bawah 100 juta pada akhir abad ke-21. Semenjak pemberlakuan kebijakan satu anak, rasio jenis kelamin di China tak seimbang karena keluarga cenderung memilih mempertahankan anak laki-laki. Badan Statistik Nasional China mencatat, rasio jenis kelamin adalah 104,34 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.
Pada Desember 2024, Pemerintah China mendesak kampus-kampus untuk mengintegrasikan pendidikan pernikahan dan ”cinta” ke dalam kurikulum. Tujuannya, menyebarkan pandangan positif tentang pernikahan, cinta, kesuburan, dan keluarga.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik W