Kemampuan operan pendek menjadi aspek penting bagi taktik skuad LKG BRI Indonesia di Piala Gothia 2025. Keterlambatan pemain datang latihan masih terjadi.
17 Mei 2025 19:32 WIB · Olahraga
TANGERANG SELATAN, KOMPAS — Di tengah upaya untuk meningkatkan kondisi fisik pemain, tim LKG BRI Indonesia, yang bakal bertarung di Piala Gothia 2025, mulai mempersiapkan taktik permainan. Umpan-umpan pendek bak gaya khas Spanyol, tiki-taka, menjadi napas permainan yang akan disajikan pada turnamen sepak bola remaja terakbar dunia di Gothenburg, Swedia, Juli mendatang.
Pelatih Kepala LKG BRI Indonesia Tb Wahyudin Syah menggodok 15 anak asuhannya yang berposisi nonkiper melatih kemampuan umpan-umpan pendek cepat satu hingga dua sentuhan. Hal itu menjadi menu utama dalam latihan pada Sabtu (17/5/2025) sore di Lapangan Kera Sakti, Tangerang Selatan, Banten.
Sejatinya, tim LKG BRI Indonesia beranggotakan 18 pemain yang terdiri dari dua penjaga gawang dan 16 pemain outfield. Akan tetapi, pada latihan Sabtu ini, penyerang, Rayina Pamungkas absen. Pencetak gol terbanyak Liga Kompas U-14 Powered by BRI 2024-2025 ini sedang sakit.
Sesi pertama latihan dimulai dengan kombinasi operan pendek. Para pemain dibagi ke dalam tiga kelompok kecil yang terdiri atas empat pemain. Hanya 11 pemain yang mengikuti sesi pertama karena empat pemain, yakni Puma Nandhito, Dimas Anggara, Radithya Javas Nugraha, dan Milito Setiawan Sitompul, telat datang. Ia baru hadir di lapangan 23 menit setelah latihan dimulai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/17/834542e2945330016bf44f88020318b5-IMG_3029.jpg)
Selanjutnya, pada sesi kedua, kelompok kecil diperbesar menjadi berisi lima pemain. Dalam latihan itu, Wahyu meminta anak asuhannya untuk menjaga intensitas kecepatan operan serta pergerakan aktif pemain setelah melepaskan umpan pendek.
Wahyu memperbesar lagi kelompok kecil pemain pada sesi ketiga. Pemain dibagi ke dalam dua kelompok. Empat pemain berada di sisi tengah sebagai simulasi mereka pemain yang mengontrol permainan tim.
Dari empat pemain itu, mereka menggunakan dua warna rompi berbeda, hijau dan jingga. Sisanya, empat pemain lain, membentuk lingkaran yang berperan sebagai pemantul operan bola.
Ketika pemain jingga menguasai bola, mereka bebas mengoper kepada pemain pemantul atau rekan setim sesama warna rompi. Adapun dua pemain berwarna rompi berbeda melakukan pressing kepada pemain yang menguasai bola.
Setelah itu, latihan operan pendek itu menggunakan setengah lapangan. Sebanyak 15 pemain dibagi ke dalam dua kelompok. Satu tim mengenakan rompi hijau, lalu tim lain menggunakan jersei latihan berwarna biru.
Dalam sesi itu, Wahyu mengamati anak asuhannya untuk memanfaatkan ruang-ruang di lapangan demi mengalirkan bola ke arah rekan setimnya. Di sisi lain, latihan itu juga menguji kemampuan pemain membuat keputusan tepat, terutama untuk menentukan rekan setim sasaran operan.
”Penting scanning melihat posisi lawan. Setelah oper jangan malas bergerak. Maksimal dua sentuhan pindahin bola, kalian juga buka ruang,” teriak Wahyu dari sisi tengah lingkaran lapangan ketika menyaksikan anak asuhannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/17/1ff46500aee0ece7e409588661af42d3-IMG_3014.jpg)
Setelah satu jam menjalani latihan ala tiki-taka itu, Wahyu melatih skema penyelesaian akhir timnya. Ia membagi pemain kembali ke dalam dua kelompok. Tujuh pemain berposisi sayap, sisanya pemain berposisi tengah, gelandang tengah, dan bek tengah bergabung dalam satu grup.
Kelompok pemain sayap lebih dulu melakukan cutback atau umpan silang. Lalu, kelompok lain menyelesaikan peluang itu dengan mengarahkan tembakan satu sentuhan ke arah penjaga gawang, Fikri Pratama Gunawan atau Fazil Darvesh.
Sebelum melepaskan umpan, pemain harus berlari cepat atau sprint dari garis tengah lapangan. Pemain penerima umpan juga harus melakukan sprint agar tidak ketinggalan momen untuk menyambut umpan silang rekannya.
Dalam sesi latihan itu, Wahyu beberapa kali meneriaki anak asuhannya yang berlari terlalu lambat. Para pemain juga mendapat catatan dari Wahyu karena umpan silang yang tidak tepat sasaran dan kurang mengerahkan kekuatan sehingga alur bola dalam operan itu sangat pelan. Salah satu pemain yang mendapat catatan Wahyu adalah Puma.
Pemain-pemain yang berposisi gelandang tengah dan bek tengah juga kerap gagal mengimbangi kecepatan sprint pemain sayap, seperti Muhammad Fadlan, Abdalrahman Yakoub, dan Oksal Kristian Gani. Satu bek yang mampu berlari dengan kecepatan konstan dan menyelesaikan umpan dengan baik adalah Abdullah Husain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/17/08aa264a98ffca8acca08458fb9bacbe-IMG_2977.jpg)
Para pemain juga diasah melakukan skema transisi positif. Kelompok kecil terdiri atas tiga pemain saling oper bola dari tengah lapangan, kemudian mereka menciptakan momen untuk melepaskan tembakan ke arah gawang.
Wahyu mengungkapkan, sesi latihan yang dijalani timnya masih berfokus untuk meningkatkan kemampuan fisik. Meski begitu, ia membalut latihan itu dengan skema operan-operan pendek yang sejatinya memaksa pemain untuk menampilkan mobilitas tinggi.
Tak ketinggalan, latihan penyelesaian akhir itu juga memadukan skema taktik dan fisik. Hal itu krusial salah satunya untuk taktik fast break atau serangan balik.
”Latihan fisik tetap paling utama. Fisik penting bagi para pemain. Tetapi, saya melakukan manipulasi dengan mencampur pula latihan taktik. Kami sudah harus mempersiapkan taktik karena turnamen sudah semakin dekat,” ucap Wahyu, yang melatih Oneway Soccer School di Liga Kompas musim ini.
Fadlan bersemangat dengan sesi latihan yang dijalani bersama rekan-rekan setim. ”Saya sangat bersemangat menjalani latihan hari ini. Semoga kemampuan kami bisa terus berkembang agar bisa tampil maksimal di Swedia,” katanya.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti