Masalah bau sampah disebabkan oleh sistem penghilang bau yang belum berfungsi dengan baik hingga pengolahan limbah cair yang masih kurang maksimal.
18 Feb 2025 16:28 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Pengolahan sampah berbasis Refuse Derived Fuel atau RDF Plant di Rorotan, Jakarta Utara, menimbulkan bau tak sedap akibat beberapa fasilitas belum berfungsi optimal. Pemerintah Provinsi Jakarta berjanji akan memperketat pengawasan dan memperbaiki operasional RDF Plant di Rorotan agar kejadian bau sampah hingga ke permukiman warga tidak terulang lagi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta Asep Kuswanto, Selasa (18/2/2025), mengatakan, masalah bau sampah yang diprotes warga disebabkan oleh sistem penghilang bau yang belum berfungsi dengan baik, pengolahan limbah cair yang masih kurang maksimal, hingga cerobong yang perlu diperbaiki. Akibatnya, asap yang terbawa oleh angin hinggap ke permukiman warga setempat.
Saat ini, RDF Plant Rorotan masih dalam tahap komisioning atau uji coba. Uji coba tersebut mulai dilakukan dengan menggunakan sampah rumah tangga.
Dari uji coba ini, terlihat bahwa beberapa fasilitas yang seharusnya sudah beroperasi optimal ternyata belum berjalan dengan baik sehingga menimbulkan bau tak sedap.
”Selama ini kita uji coba menggunakan sampah dari pohon ranting. Namun, saat mulai menggunakan sampah rumah tangga, baru terlihat fasilitas belum beroperasi dengan optimal,” kata Asep.
Asep mengaku, keluhan terkait bau ini dirasakan oleh warga sekitar Rorotan. Meski demikian, ia memastikan perbaikan terus dilakukan oleh pihak pelaksana proyek.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/aa83e058-9fe9-33ca-85bc-5b2e3feb98f5_jpg.jpg)
”Kami harap kondisi dari RDF Rorotan ke depan akan semakin baik dan tidak lagi mencemari warga, baik itu dari bau maupun dari asapnya. Kami akan terus mengawasi pelaksanaan RDF Rorotan,” ujar Asep.
Di sisi lain, RDF Plant Rorotan dinilai merupakan solusi yang canggih untuk pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif. RDF Plant Rorotan juga dilengkapi dengan teknologi pengendalian bau yang canggih. Fasilitas ini memiliki deodorizer untuk menetralkan bau amonia dan hidrogen sulfida melalui proses oksidasi.
Menurut Asep, fasilitas RDF Plant Jakarta juga dilengkapi dengan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Mobile yang mampu memantau secara real-time berbagai parameter.
Nantinya, setelah resmi dioperasionalkan, RDF Rorotan yang dibangun sejak Maret 2024 ini akan mengolah 2.500 ton sampah setiap hari. Jumlah ini setara dengan sepertiga dari total sampah warga Jakarta yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang setiap hari.
Sebelumnya, RDF Rorotan dikatakan akan beroperasi resmi pada pertengahan Februari 2025. Namun, hingga kini RDF Rorotan masih dalam tahap uji coba.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/ae34a800-a3ed-3f4b-b312-d64f86f79a68_jpg.jpg)
Project Manager Pembangunan RDF Plant Jakarta KSO Wika-Jaya Konstruksi Angga Bagus meminta maaf terkait insiden kebocoran bau busuk yang mengganggu masyarakat Rorotan dan sekitarnya. Masyarakat yang paling banyak mengeluh akibat munculnya bau busuk itu adalah mereka yang tinggal di kompleks perumahan mewah Jakarta Garden City.
”Kami sangat menyesal atas insiden yang sempat dirasakan warga sekitar RDF Plant Rorotan. Kami memastikan kejadian tersebut tidak terulang kembali,” kata Angga.
Meski sempat bocor dan mengeluarkan bau busuk, Angga memastikan saat ini seluruh sistem telah disempurnakan dan siap beroperasi secara optimal.
Tim teknis RDF Plant Jakarta telah melakukan evaluasi terhadap bekerjanya sistem deodorizer agar fasilitas ini dapat beroperasi sesuai standar lingkungan.
Pembangunan RDF Plant ini diharapkan bisa menyelesaikan masalah sampah di Jakarta melalui pengolahan menjadi bahan bakar alternatif. Hasil dari pengolahan sampahnya dapat dimanfaatkan oleh industri semen di Indonesia.
Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta, Bun Joi Phiau, meminta pengelola RDF di Jakarta mengevaluasi kesiapan untuk pengelola sampah setelah terjadinya kebocoran yang mengakibatkan tersebarnya bau tidak sedap. Ia menilai, infrastruktur sensitif seperti RDF Plant Rorotan harusnya siap berfungsi secara optimal terlebih dahulu sebelum dilakukan uji coba.
”Seharusnya, pengelola memastikan kesiapan operasional RDF Plant Rorotan terlebih dahulu sebelum menerima sampah pertama untuk didaur ulang,” katanya.
Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jakarta Ida Mahmudah mengatakan, tidak hanya dari sisi infrastruktur sarana dan prasarana, kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk memastikan kelancaran operasional RDF Rorotan juga harus dipersiapkan dengan baik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/17/b29126a4-3f98-466d-8d91-62e6d388f7df_jpg.jpg)
Menurut Ida, pembangunan RDF Plant ini memang diharapkan bisa menyelesaikan masalah sampah di Jakarta melalui pengolahan menjadi bahan bakar alternatif. Hasil dari pengolahan sampahnya dapat dimanfaatkan oleh industri semen di Indonesia.
Ida berharap pembangunan RDF Plant di wilayah lain seperti Jakarta Barat dapat segera direalisasikan untuk menyelesaikan masalah sampah di DKI Jakarta. Apalagi, daya tampung TPST Bantar Gebang juga semakin berkurang.
”Mudah-mudahan nanti ada anggaran lagi untuk bikin RDF Plant yang ada di Jakarta Barat menggunakan lahan milik Dinas Pertamanan dan Hutan Kota,” katanya.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Rini Kustiasih