Risiko terbatasnya pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG dari Timur Tengah diantisipasi dengan mengelola suplai dari kawasan lain.
01 Mar 2026 16:55 WIB · Ekonomi & Bisnis
PANDU WIYOGA
JAKARTA, KOMPAS — PT Pertamina Persero memperkuat mitigasi di wilayah operasional bisnis logistik minyak dan gas guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Perseroan juga memprioritaskan keselamatan pekerja dengan pemantauan intensif.
Pertamina adalah pemasok utama energi Indonesia, dari penyediaan minyak mentah hingga kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan gas alam cair (LPG) domestik. Perseroan itu pun memitigasi risiko operasional yang berpotensi terdampak oleh dinamika di Timur Tengah pascaserangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan dinamika energi global dan telah melakukan mitigasi guna menjaga kelancaran rantai pasok global dan ketahanan energi nasional.
”Sebagai garda terdepan energi nasional, Pertamina memperketat pengawasan dan mengupayakan ketahanan pasokan crude (minyak mentah), BBM, dan LPG tetap aman untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia,” kata Baron dalam rilis resmi, Minggu (1/3/2026).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/7ee80abe-b5ff-4e45-ae6a-925e0a66a790.jpeg)
Pertamina mengawasi secara insentif berbagai lini operasionalnya, dari pekerja, operasionalisasi, serta armada yang berada di kawasan Timur Tengah. Setidaknya, ada tiga unit bisnis strategis Pertamina yang bersinggungan langsung dengan dinamika di Timur Tengah.
Ketiganya adalah PT Pertamina International Shipping (PIS) Non Captive terkait aktivitas pengangkutan energi global; Pertamina Internasional EP (PIEP) yang menjalankan operasi hulu di Basra, Irak; serta Pertamina Patra Niaga yang bergerak dalam bidang pengadaan minyak mentah dan produk turunannya dari sumber di kawasan Timur Tengah.
Risiko terbatasnya pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG dari Timur Tengah diantisipasi dengan mengelola suplai dari kawasan lain.
”Pertamina telah menyiapkan langkah mitigasi risiko serta memperkuat komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia), dan otoritas setempat guna menjaga kelancaran operasional dan keamanan kru,” tutur Baron.
Risiko terbatasnya pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG dari Timur Tengah diantisipasi dengan mengelola suplai dari kawasan lain. Pertamina memiliki portofolio sumber pasokan yang beragam dari beberapa negara mitra, termasuk dari produksi dalam negeri.
”Diversifikasi ini memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan suplai di tengah dinamika geopolitik,” ujar Baron.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/04/04/b3bf89b8-3960-4426-ac89-44008a1ee9f6.png)
Selain itu, Pertamina juga mengoptimalkan pengoperasian kilang domestik untuk menjaga keseimbangan produksi dan distribusi.
Pertamina diketahui mengimpor sebagian besar produk energi fosilnya dengan estimasi kebutuhan nasional yang mencapai 1,6 juta barel minyak per hari (BOPD). Sebagai perbandingan, produksi nasional hanya mencapai 583.000 BOPD.
Untuk produk minyak mentah, sepanjang 2025, Pertamina mengimpor sekitar 387.000 BPOD. Sekitar 19 persen impor minyak mentah itu berasal dari Timur Tengah (Kompas, 24/6/2025).
Pengiriman produk minyak dan gas dari Timur Tengah itu kemungkinan terhambat dengan ditutupnya Selat Hormuz di Iran untuk pelayaran internasional. Ini merupakan tanggapan Iran atas serangan gabungan AS dan Israel ke Iran yang telah memakan ratusan korban, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2/2026).
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Gangguan di jalur ini pun telah mengerek harga minyak dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/20/22afb627-bd2b-42d4-b7b7-8d4418263872_png.png)
Mengutip Investing.com, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Berjangka per Sabtu (28/2/2026) ada di level 67 dolar AS per barel, naik 7,8 persen dalam sebulan dan 16 persen sejak awal tahun. Adapun harga minyak Brent ditutup di level 72 dolar AS per barel dengan kenaikan bulanan 9 persen dan sejak awal tahun lebih dari 19 persen.
Pengamat komoditas Stephanus Paulus Lumintang, saat dihubungi Kompas, memproyeksikan harga minyak dunia akan melanjutkan peningkatannya pada pekan depan. Selain komoditas energi, komoditas dunia seperti emas dan perak juga akan terkerek karena kondisi geopolitik terkini.
”Yang akan terdampak dalam waktu dekat menurut pandangan saya adalah harga emas, silver, dan minyak. Nilai tukar rupiah juga akan terguncang,” katanya, Minggu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/b0c5142c00d38957787a43fd59886c49-Screenshot_20260301_154056_Samsung_Internet.jpg)
Harga emas dunia terakhir sudah kembali melonjak ke level 5.200 dolar AS per troy ons, usai melemah pada awal Februari ke bawah level 5.000 dolar per troy ounce. Harga perak bahkan lebih menguat signifikan dengan kenaikan 13 persen dalam seminggu ke harga 93 dolar AS per ons. Adapun nilai tukar rupiah kini melemah ke level Rp 16.800 per dolar AS.
Kendati demikian, ia memperkirakan dalam jangka pendek kondisi ini belum akan berdampak secara langsung terhadap rantai pasok komoditas.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Nur Adji