Pemerintah Indonesia wajib mengantisipasi dampak ekonomi atas meningkatnya ketegangan kawasan di Timur Tengah.
04 Okt 2024 17:03 WIB · Ekonomi
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/02/5192ffe0-be70-49fc-a9e4-bd4acedba055_jpg.jpg)
Timur Tengah dikenal sebagai negara penghasil minyak utama di dunia. Konflik yang terjadi di kawasan tersebut pada umumnya akan membuat harga minyak melonjak. Apabila harga minyak melonjak, rentetannya akan merambat ke harga-harga barang dan jasa di seluruh dunia. Pasalnya, minyak adalah komoditas penting yang menjadi penggerak utama industri.
Di Indonesia, lonjakan harga minyak, apabila disertai dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, akan berdampak pada harga jual bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, khususnya yang nonsubsidi. Sejak serangan rudal Iran ke Israel pada Rabu (2/10/2024), harga minyak mentah jenis Brent melonjak dari sebelumnya 71 dollar AS per barel menjadi 77 dollar AS per barel.
Apabila harga BBM naik, tak ayal akan menimbulkan inflasi. Harga-harga komoditas ataupun harga jasa, terutama jasa angkutan, berpotensi melonjak. Situasi ini bakal memperburuk kondisi ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih dari dampak panjang pandemi Covid-19.
Baca juga: Ketegangan Timur Tengah Rentan Melemahkan Ekonomi Asia Pasifik
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/30/d348adbf-20d6-44c3-a9e2-b87e96fa468b_png.png)
Indeks bursa di Israel dan sekutunya anjlok setelah ratusan rudal Iran menyerbu Israel. Sementara harga minyak melonjak. Serangan Iran ditujukan untuk membalas ulah Israel terhadap Hamas di Palestina dan Hizbullah di Lebanon.
Dalam penutupan perdagangan Selasa (1/10/2024), indeks bursa Tel Aviv di Israel terkoreksi 1,7 persen. Padahal, perdagangan Selasa dibuka dengan kenaikan indeks dibandingkan pada Senin.
Serangan itu tidak hanya merontokkan bursa Israel. Di Amerika Serikat, indeks Dow, S&P500, dan Nasdaq kompak merosot. Nasdaq paling buruk, 1,5 persen. Sementara Dow dan S&P terkoreksi masing-masing 0,4 persen dan 0,9 persen.
Penurunan juga terpantau di bursa Australia, Jerman, Perancis, dan Uni Eropa. Hanya bursa London, Inggris, yang justru mencatatkan kenaikan. ”Pasar sangat sensitif terhadap skenario apa pun yang lebih buruk dari ini,” kata Hasnain Malik, kepala strategi ekuitas pasar berkembang dan pasar terdepan di Tellimer.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Kian Memanas, Waspadai Ancaman Resesi Ekonomi Dunia
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/02/682bf848-c439-43df-8a05-a038dc62bf7a_jpg.jpg)
Ketua Bidang Industri dan Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bobby Gafur Umar mengatakan, konflik yang terjadi di Timur Tengah dapat dipastikan memicu kenaikan harga energi, khususnya minyak dan gas bumi. Pasalnya, konflik terjadi di tengah kawasan penghasil minyak dan gas di Timur Tengah yang menyumbang hampir sepertiga pasokan minyak dunia.
Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani menilai konflik yang terjadi di Timur Tengah ini juga berpotensi menciptakan inflasi untuk sejumlah harga komoditas global. Kenaikan harga barang juga akan turut menekan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sehingga kontrol pemangku kebijakan moneter menjadi sangat penting.
”Jika konflik terjadi berkepanjangan, imbasnya juga akan menaikkan harga beberapa komoditas global. Ini akan berdampak ke situ, dan ini juga sudah kelihatan, sudah mulai terasa,” kata Shinta.
Baca juga: Dampak Konflik Timur Tengah Mulai Diperhitungkan Dunia Usaha
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/03/cd4000fe-ba9f-4a85-9981-c24c93f968a1_png.png)
Konflik geopolitik di wilayah Timur Tengah dapat terus menggerus nilai tukar rupiah dan menyebabkan anggaran subsidi energi membengkak. Ketegangan geopolitik tersebut berpotensi terus berlanjut sehingga fundamental ekonomi Indonesia perlu dipastikan agar tetap memiliki daya tahan.
Di sisi lain akan terjadi pembengkakan anggaran dalam postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), seperti anggaran subsidi energi (bahan bakar minyak/BBM). Oleh sebab itu, pemerintah harus memprioritaskan anggaran yang bisa membangkitkan sektor bisnis lebih produktif dan berdampak jangka panjang untuk pertumbuhan ekonomi.
Dosen Universitas Bakrie Asmiati Malik berpendapat, kemungkinan perang akan terus berlangsung tecermin dari perkembangan tiga komponen, yakni harga emas, minyak, dan nilai tukar dollar AS. Ketiga komponen tersebut menunjukkan tren kenaikan dengan kenaikan signifikan pada harga emas dunia.
Oleh sebab itu, Indonesia sebaiknya memperkuat fundamental ekonominya dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5 persen. Salah satunya dengan diversifikasi tujuan dan jenis barang ekspor sehingga tidak tergantung pada negara-negara yang terlibat dalam perang fraksi.
Baca juga: Butuh Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah pada Rantai Pasok dan Rupiah
Penulis:
ARIS PRASETYOEditor: