Masyarakat khususnya di daerah rawan masih perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
14 Nov 2025 17:01 WIB · Lingkungan
AFP
JAKARTA, KOMPAS — Masyarakat khususnya di daerah rawan masih perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Cuaca ekstrem ini masih berpotensi terjadi beberapa hari ke depan karena faktor dinamika cuaca.
Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto mengemukakan, peningkatan intensitas hujan beberapa hari terakhir ini dipicu oleh aktifnya sejumlah faktor dinamika atmosfer berskala global, regional, hingga lokal.
Gabungan dinamika atmosfer tersebut diprediksi meningkatkan potensi cuaca ekstrem dan dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
”Beberapa faktor utama yang berperan pada dinamika cuaca periode ini antara lain siklon tropis Fung-Wong, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), serta gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby Ekuator yang diprediksi masih aktif di wilayah Indonesia hingga pertengahan November 2025,” ujar Guswanto dalam keterangannya, Jumat (14/11/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/29/e399e433f8a1342126a2d0fe92f2670b-20251029YGA10.jpg)
Siklon tropis Fung-Wong saat ini berada di Laut Filipina timur dan bergerak ke arah barat laut menuju Luzon. Dinamika cuaca ini memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan pertumbuhan awan hujan dan kecepatan angin hingga lebih dari 25 knot di wilayah Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua bagian utara.
Sementara itu, kombinasi aktivitas MJO fase 5 (maritime continent) dengan gelombang Rossby Ekuator dan Kelvin turut meningkatkan pembentukan awan konvektif di sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat, tengah, dan timur selama sepekan ke depan.
BMKG memprakirakan adanya potensi cuaca ekstrem yang signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 10-16 November 2025. Potensi angin kencang juga masih akan terjadi di Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Bali, Daerah Khusus Jakarta, dan Banten.
Khusus pada 13–16 November 2025, potensi hujan dengan kategori lebat-sangat lebat (Siaga) masih akan terjadi di Bengkulu, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Kemudian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/a20d465fa4398585735d38821e9a4865-antarafoto_bencana_tanah_longsor_di_majenang_1763104998.jpg)
Berdasarkan analisis ini, Guswanto mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mewaspadai perubahan cuaca mendadak, seperti hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang. Masyarakat juga diimbau untuk menghindari beraktivitas di ruang terbuka saat hujan petir serta menjauhi pohon besar dan bangunan rapuh.
Peningkatan curah hujan juga diprakirakan berdampak bagi nelayan dan pengguna transportasi laut. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi di Samudra Hindia barat Sumatera-selatan Jawa, Laut Banda, Laut Flores, dan Laut Arafura.
Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah, salah satunya longsor di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Kamis (13/11/2025) malam.
Menurut laporan yang dirangkum Pusat Pengendali dan Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat siang, korban jiwa akibat longsor di Cilacap tercatat tiga orang. Kemudian, 20 orang lainnya masih dalam pencarian. Sementara 23 jiwa selamat, tetapi berada di wilayah rawan bencana.
Terkait upaya penanganan darurat bencana yang dipicu faktor cuaca dan kondisi topografi perbukitan yang kritis serta tanah labil, Kepala BNPB Suharyanto menegaskan bahwa pencarian dan pertolongan menjadi prioritas utama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/b0cf41592a80530fb4834dc4d652abf3-Screenshot_20251114_092326.png)
Sekitar 200 personel dilibatkan dalam pencarian dan pertolongan tersebut. Personel tersebut merupakan tim gabungan dari Badan SAR Nasional, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Tagana, Palang Merah Indonesia, TNI, Polri, dan sukarelawan serta masyarakat sekitar.
Menurut Suharyanto, sampai sekarang masih ada 28 warga yang tinggal di kawasan rawan bencana tanah longsor di Majenang. Ke depan, BNPB akan merelokasi warga yang tinggal di wilayah kritis agar lebih aman dan tidak kembali terancam longsor.
Relokasi dilakukan setelah upaya penanganan darurat selesai sepenuhnya. Pemerintah Kabupaten Cilacap telah memiliki lahan khusus untuk relokasi tersebut. Sementara itu, warga di sekitar lokasi diimbau mengosongkan area dari segala jenis aktivitas untuk sementara waktu demi keamanan dan keselamatan bersama.
Penulis:
Pradipta Pandu MustikaEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti