Sudah mengenal kekuatan satu sama lain, Liverpool dan Arsenal sangat berhati-hati di Anfield. Momen magis Szoboszlai menjadi pembeda di laga level tinggi tersebut.
01 Sep 2025 02:29 WIB · Olahraga
LIVERPOOL, MINGGU — Laga Liverpool dan Arsenal terasa seperti duel antara petinju yang saling menghormati. Mereka menahan diri agar tidak mengaktifkan pukulan andalan lawan. Siapa sangka, tuan rumah Liverpool ternyata menyimpan tinju rahasia yang diluncurkan lewat gelandang Dominik Szoboszlai di pengujung laga.
Arsenal akhirnya merasakan kepahitan Real Madrid, yakni saat tendangan bebas menentukan takdir laga. Tampil solid selama 82 menit, tim tamu dihukum lewat tendangan bebas ajaib Szoboszlai dari jarak 30 meter. Gol itu cukup untuk menentukan kemenangan Liverpool 1-0 di Stadion Anfield, Minggu (31/8/2025) WIB.
Bola tembakan Szoboszlai melengkung tajam, melewati pagar betis Arsenal dan mengenai tiang sebelum masuk gawang. Bukan hanya kiper Arsenal, David Raya, mungkin juga tidak ada penjaga gawang di dunia ini yang bisa menyelamatkan eksekusi spektakuker itu. ”Bola seperti terus menjauh dari jangkauanku,” kata Raya.
Szoboszlai berkata, latihan dan keberanian menjadi kuncinya. ”Kami terus berlatih tembakan bebas walaupun tidak sejauh ini. Saya mencoba mengambil risiko. Saya percaya diri dan mencoba itu. Saya harus berterima kasih kepada Trent (Alexander-Arnold) karena sebelumnya dia yang mengambil tendangan bebas,” ujarnya.
Selain momen ajaib itu, tidak banyak hal penting yang terjadi di Anfield. Lihat saja jumlah tembakan tepat sasaran yang hanya total empat kali selama 90 menit waktu normal (Liverpool 3, Arsenal 1). Sementara itu, nilai peluang total kedua tim bahkan tidak lebih dari satu xG atau expected goals (Liverpool 0,45 xG dan Arsenal 0,55 xG).
Kedua tim itu seperti petinju yang hanya beradu jab, berhati-hati sambil mencari momentum. Alhasil, terutama di paruh pertama, umpan-umpan lebih banyak dilakukan di separuh lapangan sendiri. Saat berhasil merebut bola, Liverpool dan Arsenal juga tidak gegabah untuk melakukan transisi. Mereka saling menghormati.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/01/79fa87019eb26f8c44c51d04ba773778-Britain_Soccer_Premier_League_41_.jpeg)
Arsenal sedikit unggul di paruh pertama. Duet gelandang jangkar Declan Rice dan Martin Zubimendi sangat sabar mengorkestrasi serangan. Liverpool dibuat frustrasi, hanya mencatat dua tembakan selama 45 menit. Menurut Squawka, itu adalah jumlah paling sedikit bagi Liverpool dalam paruh pertama di Anfield sejak Oktober 2021.
”Mendengar Jamie (Carragher), kami dinilai terlalu terbuka saat lawan Bournemouth. Jadi kami berpikir ingin menjadikan laga ini membosankan,” ujar Slot, Pelatih Liverpool Arne Slot, dengan nada bercanda. ”Untuk jawaban serius, kami kesulitan karena mereka menekan dengan seluruh gelandang ke pertahanan kami,” lanjutnya.
Liverpool berbenah seusai turun minum. Didukung puluhan ribu penggemar, mereka lebih berani menekan tinggi. Szoboszlai lebih banyak membantu lini tengah. Umpan untuk memulai transisi ke penyerang sayap Mohamed Salah juga lebih sering. Arsenal kesulitan mengontrol permainan, tetapi masih tidak terancam di kotak penalti sendiri.
Slot lebih berani mengambil risiko dibandingkan manajer tim tamu Mikel Arteta. Selain meminta timnya lebih agresif di paruh kedua, dia juga melakukan pergantian cepat. Gelandang Alexis Mac Allister yang kalah dominan di lini tengah digantikan Curtis Jones. Adapun gol bola mati Liverpool bermula dari aksi Jones dalam transisi.
Kesalahan terbesar Arsenal adalah terlalu nyaman. Mereka tidak memanfaatkan momentum di paruh pertama dengan tetap tampil dengan pendekatan nyaris sama. Kehati-hatian Arteta sudah terlihat di daftar starter. Dia memilih penyerang sayap Gabriel Martinelli dan gelandang Mikel Merino yang lebih defensif.
Dua pemain pengganti yang lebih ofensif, Eberechi Eze dan Martin Odegaard, baru dimasukkan pada menit ke-70. Di momen itu, Si Meriam sudah kehilangan kontrol permainan. Arsenal baru bisa mendominasi lagi setelah kemasukan. Liverpool bertahan total pada tujuh menit sisa waktu normal dan tujuh menit injury time.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/01/e785b1e7f2fcba9c188cc503bcfd438b-Britain_Soccer_Premier_League_44_.jpeg)
”Saya pikir kedua tim meningkatkan level permainan sampai tidak ada lagi margin tersisa. Banyak aksi terjadi, tetapi tidak di kotak penalti. Laga itu hanya bisa ditentukan dengan dua kemungkinan, kesalahan individu atau momen magis. Tadi, itu ditentukan oleh momen magis,” kata Arteta, yang belum pernah menang di Anfield.
Szoboszlai layak dinobatkan sebagai pahlawan kemenangan. Selain karena gol satu-satunya di Anfield, gelandang tim nasional Hongaria itu juga sukses menjalankan peran darurat sebagai bek sayap. Szoboszlai mampu melimitasi ancaman dari Martinelli di sisi sayap walaupun bukan bermain di posisi aslinya.
Hasil itu sekaligus mengakhiri paceklik kemenangan Liverpool atas Arsenal. Si Merah menang untuk pertama kali dalam tujuh pertemuan terakhir. Slot mengungguli Arteta setelah dua kali imbang pada pertemuan musim lalu. Adapun Liverpool menyambut jeda internasional sebagai pemuncak klasemen Liga Inggris (9 poin).
Di sisi lain, tim tamu memperlihatkan beberapa hal positif. Salah satunya adalah kedalaman skuad yang tidak dimiliki musim lalu. Mereka datang ke Anfield tanpa dua penyerang utama, Bukayo Saka dan Kai Havertz. Sialnya, Si Meriam harus kehilangan bek andalan William Saliba saat laga baru berlangsung lima menit.
Sebelumnya, duel tersebut disebut-sebut sebagai pertarungan dua kutub antara serangan dan pertahanan. Liverpool dengan serangan paling mematikan, sementara Arsenal dengan pertahanan paling kokoh. Di bagian pertama musim ini, di Anfield, serangan terbukti lebih unggul. Si Merah perlu berterima kasih kepada Szoboszlai. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto