Rasa kantuk saat mengemudi dalam perjalanan mudik Lebaran tidak perlu dilawan. Menepi dan beristirahatlah sejenak karena keselamatan harus menjadi prioritas utama.
25 Mar 2025 17:35 WIB · Humaniora
Memastikan kondisi fisik pengemudi sehat dan prima sudah menjadi kewajiban bagi setiap pemudik. Jika pengemudi tidak fit dan kelelahan, dapat memicu ketiduran singkat atau microsleep yang bisa berujung pada kecelakaan.
Berdasarkan laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), microsleep merupakan kondisi saat seseorang kehilangan kesadaran atau perhatian akibat merasa lelah atau mengantuk. Umumnya, microsleep berlangsung sekitar sepersekian detik hingga 10 detik penuh. Durasinya bisa saja lebih lama jika seseorang benar-benar sudah memasuki waktu tidur.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/2961334c-4cb4-4d6b-931b-0be2ecabec21_jpeg.jpeg)
Microsleep sering terjadi pada saat seseorang menjalani aktivitas yang monoton, seperti berkendara atau bekerja di depan layar komputer dalam waktu lama. Pada saat microsleep, otak seolah memasuki fase tidur singkat, meskipun tubuh masih dalam keadaan terjaga. Hal ini dapat terjadi bahkan dengan mata terbuka dan pandangan kosong.
Tanda-tanda seseorang mengalami microsleep, antara lain, kepala tiba-tiba terangguk, mata berkedip berlebihan, serta kesulitan memproses informasi atau kebingungan ketika diajak berbicara. Dalam kasus tertentu, seseorang yang mengalami microsleep bisa saja mengemudi atau mengoperasikan mesin tanpa disadari keluar dari jalur yang benar.
Penyebab utama dari microsleep adalah kelelahan atau kurang tidur. Selain itu, gangguan tidur seperti sleep apnea dan insomnia, kondisi medis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kegemukan, depresi, penggunaan obat-obatan tertentu, efek samping dari penyalahgunaan alkohol atau narkoba juga dapat meningkatkan risiko terjadinya microsleep.
Dokter Spesialis Neurologi dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono Jakarta, Asnelia Devicaesaria menganjurkan para pengemudi kendaraan pemudik untuk mencegah microsleep dengan sejumlah cara. Pertama, istirahatlah sejenak minimal 15-30 menit setelah mengemudi selama empat jam atau jika memungkinkan bergantian mengemudi dengan orang lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/23/ad552f3ada527dd219b3eb3154d8858c-cropped_image.jpg)
”Pengemudi harus benar-benar mengoptimalkan batas waktu di tempat istirahat selama 30 menit. Kalau dia bisa tidur sejenak dengan kualitas yang baik, akan aman kok. Penumpangnya juga harus pengertian, jangan sampai berisik mengganggu waktu istirahat sopir,” kata Asnelia saat dihubungi, Selasa (25/3/2025).
Selanjutnya, pengemudi perlu melakukan peregangan ringan, seperti menggerakkan bahu, leher, tangan, dan kaki agar badan tetap rileks. Jika tidak puasa, minumlah air putih untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi selama perjalanan, bukan mengonsumsi kafein yang efeknya hanya sementara.
Sementara jika pengemudi berpuasa, ia harus menjaga pola makan dan minum saat sahur dengan makanan bergizi yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak sehat akan memberikan energi yang lebih lama. Saat berbuka, hindari makanan berat yang bisa membuat kantuk setelah berbuka.
”Kurangi asupan gula yang berlebihan karena bisa risiko akan mengantuk pada saat berkendara,” ujarnya.
Selain itu, pilihlah waktu perjalanan yang tepat. Jika memungkinkan, perjalanan mudik sebaiknya dilakukan pada malam hari setelah berbuka puasa karena tubuh cenderung aman dan lebih terjaga untuk mengemudi. Namun, ketika memasuki waktu tidur malam, pemudik sangat disarankan untuk mencari penginapan dan melanjutkan perjalanan setelah sahur.
”Kalau 30 menit tidak cukup mengatasi microsleep, menginaplah. Karena tidur malam itu penting untuk membersihkan racun otak dan memperbaiki sel tubuh, kesegarannya enggak bisa diganti tidur siang,” tutur Asnelia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/03/7479f3e6-7e47-4e78-8049-7e94ed9204bf_png.png)
Riset pemodelan intensi dan perilaku mengemudi saat kondisi mengantuk yang dilakukan Rani Rahmadiyani dan Ari Widyanti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2023 mengungkapkan, 79 persen responden setidaknya pernah mengalami satu kali pengalaman mengemudi dalam keadaan mengantuk. Bahkan, 32 persen di antaranya pernah nyaris mengalami kecelakaan fatal.
Responden yang mengaku nyaris mengalami kecelakaan fatal itu mengungkapkan bahwa mereka tidak sadar mengalami microsleep. Penelitian dilakukan dengan menyebar kuesioner kepada 217 responden yang terdiri dari 115 laki-laki dan 112 perempuan Indonesia dengan usia rata-rata 31 tahun. Mereka semua sudah memiliki surat izin mengemudi.
”Alasan paling umum terjadinya kantuk dalam berkendara adalah kurangnya kesadaran akan rasa kantuk (32 persen), keinginan untuk segera tiba di tempat tujuan (29 persen), dan kurangnya ketersediaan tempat istirahat yang layak sepanjang jalur perjalanan (15 persen),” tulis Rani dalam jurnalnya, dikutip dari Sciencedirect.
Untuk meminimalkan microsleep, sejumlah mobil kelas atas seperti GWM Tank 500 HEV sudah dilengkapi sistem untuk memonitor tingkat kelelahan pengemudi dalam fitur Advanced Driving Assistance System (ADAS). Fitur ini akan mengukur tingkat kelelahan pengemudi dengan memantau perilaku berkendara pengemudi.
Sistem ini menggunakan kamera, sensor, dan algoritma kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi tanda-tanda kelelahan. Setiap kali pengemudi tampak kelelahan, suara peringatan akan berbunyi mengingatkan pengemudi untuk kembali fokus menyetir.
Selain itu, kursi baris depan mobil ini juga menggunakan pengaturan elektris, ditambah fitur kursi pijat, serta ventilated yang bisa menyegarkan kembali kondisi pengemudi dan penumpang di sampingnya yang mendampingi.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Caecilia Mediana