TNI AL Perkuat Arsitektur Keamanan  Kawasan

Penguatan arsitektur keamanan maritim kawasan dapat ditempuh lewat diplomasi dan komunikasi. Salah satunya melalui Simposium Internasional Keamanan Laut MNEK 2025.

18 Feb 2025 07:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh Edna Caroline Pattisina

JAKARTA, KOMPAS - Dalam rangka Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2025, TNI AL menggelar Simposium Internasional Keamanan Laut. Rangkaian kegiatan ini diharapkan memperkuat arsitektur keamanan maritim kawasan lewat diplomasi dan komunikasi.

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, Senin (17/2/2025), sebagai pembicara kunci, mengatakan, forum ini memiliki nilai strategis dalam upaya memperkuat arsitektur keamanan maritim kawasan. Para peserta yang berasal dari Angkatan Laut 38 negara bisa berbagi informasi tentang bagaimana menangani situasi kemanusiaan yang menjadi fenomena global.

”Kita berkumpul di sini untuk mendiskusikan dan saling bertukar pikiran satu sama lain untuk mengatasi situasi kemanusiaan yang menjadi fenomena global. Angkatan Laut dan para instansi maritim harus berdiskusi dan berkontribusi satu sama lain untuk mengatasi permasalahan kemanusiaan,” kata Sjafrie saat membuka acara yang berlangsung di Bali ini.

Quote

Kegiatan ini akan memperkuat kerja sama internasional yang akan menentukan keberhasilan dalam menjaga keamanan dan stabilitas maritim.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin membuka Simposium Internasional Keamanan Maritim, Senin (17/2/2025) di Bali

Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali mengatakan, tema simposium kali ini adalah Addressing Maritime Security Challenges Through Cooperation and Technology. Ia mengatakan, acara ini bisa menjadi ajang diplomasi maritim, mempererat persahabatan antarnegara, dan berkolaborasi dalam memajukan kerja sama multilateral.

”Saya sangat senang fokus kegiatan ini adalah pada kemajuan teknologi dan kerja sama antara kekuatan maritim. Kegiatan ini akan memperkuat kerja sama internasional yang akan menentukan keberhasilan dalam menjaga keamanan dan stabilitas maritim,” ujar Ali.

Ali menggarisbawahi pentingnya kerja sama seluruh angkatan laut dan pemangku kepentingan maritim di kawasan. Ia mengatakan, hanya dengan komitmen dan kerja sama, masalah kegiatan ilegal di laut bisa diatasi.

Apalagi di kawasan yang sebagian besar perbatasan berupa laut ini. Oleh karena itu, simposium ini memiliki makna penting karena bisa menjadi ajang seluruh delegasi juga berdiskusi untuk mencegah konflik demi memecahkan masalah kemanusiaan.

KSAL Laksamana Muhammad Ali menekankan pentingnya kerja sama demi menjaga keamanan perbatasan negara-negara di kawasan, Senin (17/2/2025)

”Indonesia berbatasan dengan 10 perbatasan laut dengan negara tetangga. Untuk itu, kita harus bersinergi. Contohnya kita memiliki Coordinated Patrol. Di sini nanti kita akan kembangkan kerja sama dengan negara-negara di seluruh regional,” katanya.

Hadir sebagai pembicara dalam acara ini, antara lain, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno; Wakasal Laksamana Madya Erwin S Aldedharma; Commander of the United States Pacific Fleet, Admiral Stephen Thomas Koehler; dan Commander of the Armed Forces of French Polynesia, RADM Guillaume Pinget.

Berikutnya, Chief of the Royal Australian Navy, Vice Admiral Mark Hammond; Chief of Republic Singapore Navy, Rear Admiral Sean Wat; Executive Secretary of Indonesia Coast Guard Rear Admiral Samuel Kowaas; dan Controller Personnel Services, Indian Navy, Vice Admiral Vineet Mccarty.

Formasi kapal perang

Sehari sebelumnya, seluruh peserta MNEK meninjau formasi kapal perang dengan on board di KRI Radjiman Wedyodiningrat-992 (KRI RJW-992) dan berlayar di Selat Badung, Bali, Minggu (16/2/2025).

 

International Fleet Review yang diikuti 19 kapal perang dari 38 negara, Minggu (16/2/2025)

International Fleet Review (IFR) merupakan kegiatan berskala internasional yang dicanangkan oleh TNI AL dan merupakan momen pertemuan Angkatan Laut seluruh dunia yang hadir pada 5th MNEK 2025. Seluruh KRI TNI AL dan kapal perang asing yang terlibat, berlayar membentuk formasi saat IFR di Selat Badung, Bali.

Sementara KRI RJW-992 berlayar mengelilingi Selat Badung selama 90 menit dengan dikawal oleh KRI Bung Karno-369 yang merupakan kapal perang kepresidenan berjenis Korvet.

IFR adalah simbol dari kerja sama internasional, memperkuat diplomasi Angkatan Laut, memastikan stabilitas dan keamanan laut, serta mewujudkan interoperabilitas di kawasan. Sebanyak 38 negara dengan jumlah total alutsista asing yang terlibat sebanyak 19 kapal perang, tujuh heli, dan tiga MPA dilibatkan dalam MNEK 2025 yang diinisiasi oleh TNI AL. Sementara itu, TNI AL mengerahkan 19 KRI yang bergabung menjadi satu.  

Para pemangku kebijakan maritim dari 38 negara berdiskusi intensif tentang tantangan bencana alam di kawasan dan cara mengatasinya bersama-sama, Minggu (16/2/2025).

Dengan tema Maritime Partnership for Peace and Stability, MNEK 2025 menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan maritim non-perang. Latihan ini berfokus pada upaya penanggulangan bencana alam dan bantuan kemanusiaan (humanitarian assistance/disaster relief - HA/DR), sejalan dengan misi TNI AL dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Latihan Multilateral ini dirancang untuk mengatasi bencana alam. Caranya dengan langsung membuat gugus tugas untuk menolong negara yang kesulitan.

Dalam rangkaian kegiatan MNEK 2025, TNI AL menyelenggarakan program kemanusiaan seperti Engineering Civic Action Programme (ENCAP) dan Medical Civic Action Programme (MEDCAP), yang mencakup pemeriksaan kesehatan dan operasi medis. Selain itu, program pelestarian lingkungan juga dilaksanakan, termasuk penanaman pohon mangrove dan pelepasan tukik penyu.

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Edna Caroline Pattisina
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono