Tottenham dan MU Pasang ”Kacamata Kuda” ke Liga Europa

Tottenham dan Manchester United bak pinang dibelah dua, sama-sama terpuruk di Inggris. Duel mereka di final Liga Europa bakal ekstrem karena sarat pertaruhan.

17 Mei 2025 16:48 WIB · Olahraga

Oleh Yulvianus Harjono

Terpuruknya Tottenham Hotspur dan Manchester United di Liga Inggris adalah hal langka, mirip komet Halley yang tampak dari Bumi hanya setiap 75 tahun sekali. Suporter Spurs, juga MU, saat ini menjadi generasi paling tabah karena menyaksikan timnya menjadi yang terburuk dalam setengah abad.

Bintang Spurs, Son Heung-min, hanya tertunduk lesu setelah timnya dipukul tuan rumah Aston Villa, 0-2, pada laga pekan ke-37 Liga Inggris di Stadion Villa Park, Birmingham, Inggris, Sabtu (17/5/2025) dini hari WIB.

Padahal, selama ini, Villa adalah salah satu lawan favorit pemain asal Korea Selatan ini. Dari 11 kali pertemuan sebelumnya melawan tim asal Birmingham itu, Spurs mengemas 7 gol dan 4 asis. Kali ini, Son tidak berdaya mengangkat performa Spurs yang telah kehilangan tujuan dan gairah bermain di sisa Liga Inggris musim ini.

Kekalahan dari Villa itu mempertegas keterpurukan Spurs. Kekalahan itu menjadi yang kelima dari enam laga terakhir di Liga Inggris. Bahkan, jika ditarik lebih jauh, kekalahan itu menjadi yang ke-21 dari 37 laga yang telah mereka jalani di Liga Inggris pada musim ini.

Tak heran, Spurs kini terbenam di peringkat ke-17 Liga Inggris dengan 38 poin. Posisi mereka hanya lebih baik dari tiga tim yang telah dipastikan terdegradasi, yaitu Ipswich Town (22 poin), Leicester City (22), dan Southampton (12). Padahal, musim lalu, Spurs asuhan Ange Postecoglou masih mampu finis kelima dan meraih tiket ke Liga Champions Eropa.

Klasemen sementara Liga Inggris hingga Sabtu (17/5/2025) sore waktu Indonesia.

”Sungguh tidak bisa diterima, mereka kalah hampir setiap pekan (di Liga Inggris). Sungguh memalukan. Mereka tak punya hati, gairah, untuk memenangi laga,” ujar Jamie O’Hara, mantan pemain Spurs, dikutip Goal.com.

Posisi Spurs saat ini adalah yang terburuk di era Liga Primer Inggris yang dimulai pada 1992. Terakhir kali sebelumnya mereka terpuruk di liga seperti saat ini adalah pada musim 1976-1977. Ketika itu, mereka finis terbuncit, yaitu ke-22, di Divisi Satu yang menjadi kasta tertinggi sepak bola Inggris saat itu. Mereka pun terdegradasi.

Ironisnya, Spurs termasuk aktif berbelanja pemain, seperti Dominic Solanke dan Archie Gray. Nilai skuad mereka mencapai 746 juta euro atau setara Rp 13,7 triliun. Dengan nilai itu, Spurs artinya menghabiskan rerata 20,2 juta euro (Rp 368 miliar) demi setiap poin yang mereka raih pada musim ini.

Quote

Spurs tidak punya momentum, begitu pula MU. Ini bisa menjadi final paling ekstrem di Liga Europa. Chris Sutton

Mereka hanya lebih buruk dari MU (21,9 juta euro per poin) dan Southampton (21,4 juta euro per poin) dalam hal imbal-balik investasi dengan prestasi. Situasi itu tentu membuat geram pemilik baru Spurs, miliarder Joe Lewis, dan rekannya, Daniel Levy.

Ada banyak alasan mengapa tim asal London utara pengoleksi dua gelar juara Liga Inggris itu bisa terpuruk sedalam saat ini. Salah satu masalah di antaranya adalah ketidakmampuan mereka untuk bertahan dengan baik. Gawang Spurs telah kebobolan 61 gol pada musim ini, sekitar separuh di antaranya dialami di babak pertama.

Konversi nilai skuad klub Liga Inggris dengan jumlah poin yang diraih per laga.

Namun, Postecoglou menuding badai cedera pemain sebagai alasan tren performa buruk mereka. Musim lalu, ketika mayoritas pemain mereka bugar, Spurs sempat bersaing di papan atas.

Musim ini, dikutip Transfermarkt, setidaknya 18 pemain mereka, termasuk Son Heung-min, berkali-kali absen. Mereka absen di total setidaknya 153 laga. Angka itu adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan klub-klub lain, seperti Arsenal (18 pemain di 151 laga) dan MU (15 pemain di 146 pemain laga).

Penebusan

Saat ini, satu-satunya hal yang bisa menebus musim buruk mereka adalah Liga Europa. Spurs akan menghadapi MU pada final Liga Europa di Bilbao, Spanyol, Rabu (21/5/2025). Duel ini ibarat final Piala Dunia bagi kedua klub. Tim yang juara juga mendapatkan ”bonus” tiket tampil di Liga Champions Eropa musim depan.

Tak heran, Spurs sudah memasang ”kacamata kuda” sejak jauh-jauh hari demi laga final itu. Mereka tak perlu bersusah payah mengejar posisi kelima di Liga Inggris demi tiket prestisius itu. Satu-satunya halangan mereka tersisa adalah ”Setan Merah”, julukan MU, yang ironisnya juga terpuruk di Liga Inggris. MU kini berada di peringkat ke-16, hanya unggul satu poin dari Spurs.

Demi tampil maksimal di final, Spurs rela ”mengorbankan” laga-laga di Liga Inggris. Sebagai contoh, saat melawan Villa, Postecoglou sengaja menyimpan sejumlah pemain kunci, seperti Solanke, Guglielmo Vicario, Brennan Johnson, Richarlison, dan Pedro Porro. Ia mencegah para pemain itu cedera.

Pemain Tottenham Hotspur Pedro Porro (kanan) merayakan golnya ke gawang Eintracht Frankfurt pada laga pertama perempat final Liga Europa di Stadion Tottenham Hotspur, London, Inggris, Jumat (11/4/2025) dini hari. Laga itu berakhir imbang 1-1.

Sebaliknya, ia memberikan menit bermain yang lebih besar untuk Son Heung-min agar ia bisa lebih bugar setelah sempat cedera. ”Kami masih punya waktu untuk menyiapkan dia (Son Heung-min). Dia adalah katalis tim. Dia pula yang barangkali paling paham betapa berharganya trofi (Liga Europa) untuk klub ini maupun dirinya sendiri,” ujar Postecoglou.

Kontras dengan Spurs, Manajer MU Ruben Amorim memiliki pendekatan berbeda dalam menurunkan pemainnya di Liga Inggris, akhir pekan ini. Ia memilih memainkan sejumlah pemain di skuad inti, seperti kiper Andre Onana, Bruno Fernandes, dan Rasmus Hojlund, saat timnya melawan Chelsea, Sabtu dini hari WIB.

Namun, MU ternyata tetap kalah 0-1 di Stadion Stamford Bridge, London. Kekalahan itu menjadi yang ke-18 bagi MU pada Liga Inggris musim ini, sekaligus menegaskan musim terburuk mereka sejak 51 tahun silam atau edisi 1973-1974.

Setidaknya, menurut Amorim, para pemainnya bisa merasakan atmosfer kompetitif pada laga tersebut. Hal itu, menurut dia, penting untuk mengasah mental menjelang laga final Liga Europa. ”Kami punya waktu lima hari untuk mempersiapkannya (laga final). Tekanan tentu ada. Namun, saya terbiasa dengan tekanan itu,” tutur Amorim yang mengoleksi dua trofi juara Liga Portugal dan tiga Piala Liga Portugal sebagai juru taktik.

Ekspresi Manajer Manchester United Ruben Amorim (kanan) saat meninggalkan lapangan seusai timnya melawan West Ham United pada laga Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (11/5/2025). Tuan rumah MU kalah, 0-2.

Duel final di Bilbao bahkan bisa menjadi penentu nasib manajer kedua klub itu, Postecoglou dan Amorim. Mereka bisa saja kehilangan pekerjaan jika tim mereka kalah pada laga nanti.

”Spurs tidak punya momentum, begitu pula MU. Ini bisa menjadi final paling ekstrem di Liga Europa. Akan jadi bencana jika salah satu dari klub ini harus kehilangan manajer,” ujar Chris Sutton, mantan pemain Liga Inggris, menggambarkan magnitude laga final Liga Europa nanti. (BBC/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulvianus Harjono
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul