Potret kesibukan di area pertanian pohon cemara untuk perayaan Natal di Jerman.
08 Nov 2025 10:00 WIB · Internasional
AP/Martin Meissner
Hamparan pepohonan hijau membentang di perbukitan Sundern, wilayah Sauerland, Jerman, Senin (3/11/2025). Belasan pekerja dengan pembagian tugas yang berlainan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Seorang pekerja dengan gergaji mesin tampak memotong batang pohon cemara. Pekerja yang lain membungkus pohon yang telah ditebang dengan jaring.
Sebuah traktor juga terlihat hilir mudik membawa pohon yang telah rapi dibungkus jaring, mengumpulkan pada satu tempat untuk diberi label, dan mengangkutnya ke kota. Pohon cemara dalam berbagai ukuran tinggi itu akan menjadi pohon natal, sebuah tradisi lama yang masih dipertahankan hingga kini.
Kesibukan di perkebunan cemara itu biasa terlihat saat memasuki bulan November. Puluhan perkebunan pohon cemara yang berada di perdesaan mulai menebang pohon cemara mereka sebagai persiapan perayaan tradisi yang telah berusia lebih dari 500 tahun.
Orang Jerman telah merayakan Natal dengan pohon-pohon hias selama berabad-abad. Pada abad ke-19, tradisi ini menyebar ke berbagai tempat di Eropa. Para imigran membawa tradisi ini ke sejumlah negara, salah satunya Amerika Serikat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/07/17da5561-c3dd-4401-b41f-c0d5756a72e9_jpg.jpg)
”Bagi kami, sekarang sebenarnya sudah menjelang Natal. Panen sudah mulai di sini dan segala sesuatunya menjadi sedikit sibuk,” ujar Eberhard Hennecke, salah satu petani yang ditemui di Sundern, Senin. Wilayah Sauerland barat menghasilkan sepertiga pohon natal di Jerman.
Dulu, kebanyakan pohon dijual di kota-kota. Namun, kini sebagian warga lebih tertarik datang memilih pohon dan menebangnya sendiri. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Beberapa perkebunan pohon kini menawarkan anggur mulled dan camilan untuk menarik pembeli.
Suasana hening akan berubah saat para keluarga datang di akhir pekan ke perkebunan. Mereka akan memilih pohon natal bersama-sama, menebangnya dan membawanya pulang untuk hiasan rumah mereka. Itu membahagiakan. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan