Salah satu tradisi besar olahraga Amerika Serikat adalah pesta di lot parkir atau ”tailgating”. Tradisi itu pun merasuk ke sepak bola saat gelaran Piala Dunia 2026.
21 Jun 2026 08:00 WIB · Olahraga
Kompas/Prasetyo Eko Prihananto
Elise dan kawan-kawan berjoget gembira di belakang mobil di area parkir Stadion Philadelphia menjelang laga Brasil melawan Haiti pada penyisihan Grup C Piala Dunia 2026. Kursi-kursi diangkat dari dalam mobil, kemudian ditata di sampingnya. Demikian juga kontainer pendingin bir, diletakkan di aspal parkiran yang panas.
Di atas mobil itu berkibar bendera Amerika Serikat dan bendera Brasil. Elise mengaku pendukung Brasil dari Philadelphia.
Sementara di mobil sebelahnya, rekan Elise yang mengenakan kaus timnas Brasil juga menurunkan panggangan, kontainer, meja, dan kursi-kursi. Setelah menata kursi, seseorang di antaranya mulai menyalakan panggangan untuk barbeku.
Api pun mulai membakar arang di tengah terik matahari di Lincoln Field. Panas yang menyengat sama sekali tidak mengganggu mereka.
”Apakah ini yang dinamakan tailgating,” tanya saya kepada mereka sebelum masuk ke stadion untuk meliput pertandingan Brasil melawan Haiti. ”Ya benar, ini cara kami menikmati hari pertandingan sebelum masuk ke stadion,” kata Elise.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/2b70cbc3da6f7a60c0a1ce6421e87939-cropped_image.jpg)
”Budaya ini hanya ada di Amerika, tidak ada di tempat lain. Di Brasil juga tidak ada,” kata salah satu rekan Elise menimpali. Tailgating adalah sebuah ritual para suporter berkumpul di area parkir stadion untuk makan, minum, dan bersosialisasi sebelum pertandingan dimulai.
Berawal dari kebiasaan orang-orang yang berpesta di bak belakang (atau pintu bagasi/tailgate) mobil pikap mereka, tradisi ini kini telah berevolusi menjadi pesta barbeku masif di stadion-stadion NFL.
Elise dan kawan-kawan bukan satu-satunya kelompok suporter hari itu yang berpesta di lahan parkir Stadion Philadelphia yang sehari-hari bernama Lincoln Financial Field. Beberapa jam menjelang laga itu, terlihat setidaknya tiga kelompok berpesta.
Ada yang hanya duduk-duduk dengan kursi yang ditata di belakang mobil mereka sambil minum, ada juga yang menyiapkan pesta lengkap dengan panggangan barbeku dan mendirikan tenda. Semakin mendekati pertandingan, pesta semakin meriah.
Ada pula satu kelompok suporter yang membawa perlengkapan musik DJ lengkap, termasuk sejumlah speaker berukuran besar yang ditaruh di belakang mobil double cabin. Bisa dibilang mirip ”sound horeg” di Indonesia, tetapi versi mini.
Menurut Elise, tailgating adalah tradisi warga Amerika, terutama pendukung klub-klub sepak bola Amerika, saat hendak menyaksikan klub kesayangan mereka bertanding di kandang. Stadion Lincoln sendiri sehari-hari merupakan markas klub NFL, Philadelphia Eagles.
”Kalau Eagles bertanding di kandang, para penonton pasti melakukan pesta tailgating sebelum laga di parkiran,” timpal seorang suporter.
Pelaksanaan Piala Dunia di 11 stadion di Amerika Serikat, yang semuanya adalah kandang atau markas tim NFL, membuat budaya tailgating itu merasuk ke sepak bola. Jika bagi dunia luar, sepak bola adalah tentang tribune stadion yang bergemuruh, tidak demikian dengan warga lokal Amerika yang memiliki tradisi tersendiri.
Bagi publik Amerika Serikat, pesta justru dimulai di luar stadion, tepatnya di atas aspal parkiran stadion. Asap barbeku yang merebak di belakang bagasi mobil adalah aroma khas menjelang pertandingan.
Kultur tailgating ini adalah tradisi komunal berbasis otomotif yang sangat mengakar di AS. Ada perbedaan dengan kultur penonton olahraga di belahan dunia lain, di Eropa misalnya, suporter biasanya berkumpul di pub, bar, atau alun-alun kota, lalu berjalan kaki bersama atau naik angkutan umum menuju stadion.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/d3d666d4ece9c5f8d8855dae1753a4a0-IMG_20260619_150823751.jpg)
Namun, berbeda dengan Eropa, sebagian besar stadion raksasa di AS, seperti MetLife, Lincoln Field, Stadion Dallas di Arlington, Texas, dibangun di arena pinggiran kota yang dikelilingi oleh lahan parkir yang sangat masif. Karena minimnya pub, bar, atau restoran di tempat itu, penonton pun menyulap area parkir menjadi tempat makan dan minum bersama-sama. Stadion-stadion ini bahkan mengakui tailgating dan memberikan pedoman atau aturan kepada para penonton yang hendak melakukannya.
Dalam sejarahnya, tradisi tailgating sebenarnya sudah berlangsung sangat lama. Mengutip dari laman History, tailgating di dunia olahraga Amerika pertama kali dilakukan pada 1869 saat suporter bersantap di atas kereta kuda sembari menyaksikan tim kampus Rutgers dan Princeton bertanding.
Persoalan tailgating itu sempat memicu polemik sebelum pelaksanaan Piala Dunia 2026 karena adanya rumor bahwa FIFA melarang tradisi tersebut. Hal itu terkait dengan prosedur ketat soal perimeter keamanan FIFA. Berbeda dengan NFL di mana penonton tanpa tiket bisa bebas ikut masuk hingga arena parkir, FIFA menerapkan sistem keamanan berlapis. Di Piala Dunia, hanya pemegang tiket resmi dan memiliki tiket parkir yang diizinkan masuk ke lot parkir di stadion.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/72e74951adaca532733d1542dfa0f0d2-IMG_20260619_151602759.jpg)
Hal itu otomatis membatasi ribuan suporter yang hendak ikut berpesta di stadion seperti tradisi NFL. Menyadari besarnya tradisi itu, FIFA sepertinya berkompromi. Para penggemar Eagles di Philadelphia yang juga ingin menikmati sepak bola Piala Dunia akhirnya bisa berpesta di luar stadion setelah FIFA tidak melarang kegiatan tailgating.
Mengutip sejumlah pemberitaan media di AS sebelum kick off Piala Dunia, FIFA disebut menyerahkan persoalan tailgating tersebut kepada tuan rumah sehingga setiap stadion berbeda-beda kebijakannya. Para penonton di Stadion MetLife, atau disebut Stadion New York New Jersey selama turnamen, sudah dipastikan tidak bisa melakukan tailgating karena tidak diperbolehkan adanya area parkir untuk publik di stadion. Penonton yang datang wajib memakai angkutan umum.
Karena pengetatan di area parkir stadion, tradisi tailgating ini pun sedikit melakukan adaptasi. Sejumlah kota mengalihkan konsep pesta di luar ruangan ini ke titik-titik Fans Festival atau arena terbuka lain di pusat kota. Suporter tetap bisa berkumpul untuk makan-makan, minum, dan bersosialisasi di hari pertandingan. Memang, daripada ribut gara-gara bola, mending pesta-pesta.
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto, dari Philadelphia, ASEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar