KELISTRIKAN 

Tragedi ”Blackout” Listrik Sumatera, dari Kekacauan Ekonomi hingga Hilangnya Nyawa

Selama dua hari listrik padam di Sumatera, banyak pabrik dan UMKM berhenti beroperasi, lalu lintas kacau, sinyal telekomunikasi putus, dan stok pangan membusuk.

25 Mei 2026 19:02 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Oleh Nikson Sinaga

Padamnya sambungan listrik secara total atau blackout di Sumatera bagian utara adalah tragedi. Wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, hingga Jambi tak hanya sekadar gelap gulita. Kerugian ekonomi dan sosial yang ditanggung masyarakat sangat besar. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan pemerintah dinilai tak siap merespons blackout sehingga dampak kerugian sangat dalam.

Dunia usaha menjerit akibat pemadaman listrik yang baru bisa diatasi secara keseluruhan setelah dua hari itu. Sejumlah pabrik memilih berhenti beroperasi karena harga solar industri juga sedang melambung tinggi sehingga semakin rugi kalau harus menyalakan genset dalam waktu lama.

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga terpukul karena alat produksi tak bisa bekerja. Peternak dan petambak menjerit. Ayam-ayam mati di kandang, ikan mengapung karena mati di kolam.

”Kalau dihitung kerugian orang per orang akibat padam listrik di Sumatera bagian utara, nilainya pasti sangat-sangat besar,” kata ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, Murbanto Sinaga, Senin (25/5/2026).

Warga mengantre di sejumlah SPBU yang masih beroperasi saat SPBU lainnya tutup karena listrik yang padam di Medan, Sumatera Utara, Minggu (24/5/2026).

Murbanto menyebut, padamnya listrik telah menciptakan kekacauan ekonomi dan sosial di Sumatera bagian utara (Sumbagut). Di kota-kota besar, dampak dari blackout lebih parah.

Sebagian besar jaringan telekomunikasi padam menyusul blackout pada Jumat (22/5/2026) pukul 18.44. Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) juga tak beroperasi sehingga antrean di SPBU yang masih buka sangat panjang. Beberapa mesin ATM pun tak berfungsi.

Lampu lalu lintas juga padam sehingga terjadi kemacetan sangat parah. Di beberapa persimpangan, arus lalu lintas bahkan sampai stagnan selama berjam-jam. ”Kita bisa melihat bahwa pemerintah jelas tidak siap mengatasi persoalan seperti blackout listrik Sumbagut,” kata Murbanto.

Di media sosial, masyarakat menumpahkan pengalaman, unek-unek, dan cerita mengenai kerugian yang besar. Ada yang terpaksa membawa blender ke ATM untuk menumpang mencolok listrik agar bisa menggiling bumbu dapur. Para ibu yang mempunyai bayi terpaksa menginap di hotel karena bayinya tak berhenti menangis menahan panas di rumah.

Warga lainnya, khususnya pelaku UMKM, berburu genset ke berbagai toko yang kalaupun ada harganya berkali lipat dari harga normal. Ada juga yang berbagi cerita mencari lilin dari warung ke warung, tetapi semuanya ludes.

Ibu-ibu di Deli Serdang, Sumut, menunjukkan stok pangan segar, seperti ikan, daging, buah, dan sayur di kulkas yang terpaksa dibuang karena membusuk setelah lebih dari 24 jam listrik sama sekali tidak menyala. Ikan-ikan di akuarium juga ikut mati.

Masyarakat beraktivitas normal kembali setelah pasokan listrik yang sempat padam total atau blackout pulih kembali di Medan, Sumatera Utara, Senin (25/5/2026).

Yang paling memilukan, dua pegawai toko meninggal dan dua lainnya kritis karena keracunan asap genset di Kabupaten Batubara, Sumut. Di Sumbar, dua remaja juga meninggal karena keracunan asap genset.  

Murbanto menyebut, blackout listrik Sumbagut terlalu mahal jika berlalu begitu saja tanpa pembelajaran apa pun bagi PLN, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Pemerintah harus mengambil tindakan darurat untuk mengurangi dampak kerugian. ”Selain itu, langkah jangka panjang juga harus disiapkan agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” katanya.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah mengatakan, blackout listrik Sumatera sangat memukul industri karena berlangsung cukup panjang. Beberapa pabrik karet remah terpaksa berhenti beroperasi saat pemadaman terjadi.

”Saat ini, harga solar industri juga sedang meroket. Beberapa pabrik memilih berhenti beroperasi sepanjang Sabtu (23/5) untuk menghindari kerugian yang semakin dalam,” kata Edy.

Pemadaman listrik bergiliran melanda Sumatera dengan durasi hingga 12 jam per hari. Di Jambi, pemadaman masih terjadi hingga Minggu. Tampak warung makan di sepanjang Jalan Lintas Jambi-Muara Bungo, bertahan dengan cahaya lilin, Sabtu (23/5/2026).

Edy mengatakan, operasionalisasi industri pengolahan karet remah menggunakan listrik PLN. Adapun generator pembangkit digunakan sebagai cadangan untuk waktu singkat. Semakin lama pemadaman, tambahan biaya pengolahan semakin besar.

Dengan harga solar industri yang saat ini sekitar Rp 30.000 per liter, biaya pengolahan membengkak lebih dari dua kali lipat. Beberapa pabrik terpaksa beroperasi meski merugi agar bisa mengejar target produksi untuk memenuhi kontrak penjualan.

Quote

Kita bisa melihat bahwa pemerintah jelas tidak siap mengatasi persoalan seperti ”blackout” listrik Sumbagut.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/5/2026), Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN Edwin Nugraha Putra mengatakan, PLN melakukan evaluasi menyeluruh kelistrikan Sumatera agar kejadian blackout tidak terulang lagi.

Edwin menyebut, pada dua jam pertama setelah blackout, PLN berhasil memeriksa dan memastikan seluruh gardu induk dalam kondisi baik. Berikutnya, PLN bisa mulai menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga diesel dan gas. Dalam lima jam pertama, menurut Edwin, PLN sudah menghidupkan 20-30 persen listrik di Sumbagut.

Suasana pemadaman listrik di Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, Jumat (22/5/2026) malam.

Edwin mengatakan, listrik sudah menyala semua di Sumbagut pada Minggu (24/5/2026) pukul 06.15 WIB. Namun, pemadaman bergilir dilakukan kembali karena masih ada kekurangan pasokan listrik 200-300 megawatt akibat belum semua pembangkit listrik beroperasi, khususnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batubara.

”PLTU yang menggunakan batubara bisa beroperasi lagi setelah 20-30 jam. Pada Senin ini, pembangkit besar seperti PLTU Pangkalan Susu di Langkat sudah beroperasi dan masuk ke sistem,” kata Edwin.

Edwin menjelaskan, sistem kelistrikan Sumbagut ditopang oleh dua jalur utama transmisi yang menyalurkan daya listrik dari pembangkit-pembangkit di Sumatera bagian selatan ke Sumbagut, yakni koridor timur 500 kV dan koridor barat 275 kV. Dua koridor saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) itu putus total pada Jumat (22/5/2026) pukul 18.44 diduga karena cuaca buruk.

Untuk mencegah berulangnya kejadian serupa, PLN akan melakukan pengecekan berulang untuk melihat kondisi sambungan transmisi dengan menggunakan perangkat sinar inframerah. Jika memang kondisi kabel sudah retas, akan muncul perbedaan suhu. Dalam jangka panjang, kata Edwin, PLN akan memperkuat sistem transmisi listrik di Sumatera.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati