Tragedi Ghibli dan Kemudahan Teknologi yang Membunuh Makna

Dalam sebuah wawancara, Miyazaki menyebutkan bahwa penggunaan AI dalam animasi adalah ”penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri”.

03 Apr 2025 09:05 WIB · Opini

Oleh Bambang Putra Ermansyah

Dalam industri anime, sepertinya tidak ada nama yang lebih dikagumi dan dihormati melebihi Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli. Banyak anime besutan Miyazaki bersama Ghibli yang dianggap sebagai masterpiece. Sebut saja Princess Mononoke, My Neighbors Totoro, Spirited Away, hingga yang terbaru The Boy and The Heron.

Ghibli dikenal karena keindahannya secara visual serta dalamnya eksplorasi emosional dalam setiap film yang dibesutnya (baik yang melibatkan Miyazaki maupun yang tidak). Kualitas yang masih belum menemukan tandingannya dalam industri anime ini adalah bukti betapa kerja keras dari para animator yang secara jujur dan meluapkan seluruh waktu, tenaga, dan perasaan mereka bisa begitu berdampak sehingga terabadikan dalam bentuk karya seni.

Beberapa hari belakangan ini, ada sebuah gelombang yang menyapu perhatian pegiat media sosial kepada Ghibli. Sayangnya, kali ini bukan karena Ghibli merilis proyek terbarunya atau update mengenai masa depan studio legendaris ini. Namun, yang kali ini membuat Ghibli dibincangkan adalah karena fitur baru dari ChatGPT yang dapat mengubah foto menjadi gambar dengan gaya khas anime Ghibli.

Hal ini memicu kembali perdebatan yang cukup serius: apakah kita sudah masuk ke era matinya orisinalitas? Apakah kecerdasan buatan atau akal imitasi (artificial intelligence/AI) akan menjadi pembunuh para pekerja kreatif atau seniman?

Banyak influencer alias pemengaruh ataupun orang-orang biasa yang aktif di media sosial yang mencoba fitur ini. Dengan hanya waktu singkat, pengguna bisa mengubah foto-foto mereka menjadi ”versi” Ghibli, tanpa melalui proses rumit seperti yang harus dilakukan oleh para animator atau desainer karakter profesional.

Secara sekilas, semuanya terkesan menyenangkan. Kita bisa mengubah foto lama kita bersama sahabat masa kecil, misalnya, menjadi gambar bernuansa Ghibli. Namun, sebenarnya di sinilah letak persoalannya, di mana kemudahan yang diberikan oleh AI sering kali menghapus nilai dari kerja keras manusia serta proses kreatif yang berliku.

Bagi yang menggemari anime-anime besutan Studio Ghibli, mereka pasti sangat akrab dengan detail animasi yang memukau, yang pastinya dihasilkan dari proses pembuatan yang melelahkan dan demikian telitinya. Ghibli bahkan dikenal masih menggunakan proses kreatif yang ortodoks, di mana setiap adegan, frame demi frame, dilukis dengan menggunakan tangan sang seniman dan animator.

Di balik setiap gerak animasi yang halus, dari setiap warna yang dipilih, serta dari dunia yang tak hanya indah, tetapi hidup dengan semburat emosi, semuanya dilukis dengan jerih payah yang teramat sangat.

Miyazaki sendiri sebenarnya sudah cukup lama mengkritik dengan pahit perihal penggunaan AI dalam dunia seni ataupun proses kreatifnya. Dalam sebuah wawancara, ia bahkan menyebutkan bahwa penggunaan AI dalam animasi adalah ”penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri”.

Baginya, proses kreatif dan produksi animasi bukanlah sekadar menciptakan gambar bergerak semata, melainkan juga tentang menghidupkan dan menjadikan gambar bergerak tersebut memiliki jiwa dan perasaan.

Memang, kita mau tidak mau harus membicarakan dampak dari penggunaan AI terhadap industri kreatif secara keseluruhan. Para pekerja seni yang menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk mengasah keterampilan mereka dalam bidang seni yang mereka tekuni kini harus berhadapan dengan AI yang dapat mereplikasi hasil kerja hingga teknik mereka hanya dalam hitungan detik.

Dengan demikian, yang dikhawatirkan adalah jika hal ini terus dibiarkan tanpa adanya regulasi yang jelas dan ketat, bukan tidak mungkin industri kreatif seperti anime dan ilustrasi bisa terdampak dalam bentuk yang paling buruk, baik dari sisi ekonomi hingga dari sisi etis.

Kita harusnya sadar bahwa pada hakikatnya seni bukanlah sebatas estetika semata, melainkan juga merupakan sarana untuk menyampaikan perasaan, gagasan, dan realitas kehidupan. Dalam The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction, Walter Benjamin menyorot bahwa seni memiliki apa yang ia sebut dengan ”aura”, yakni sebuah keunikan dan orisinalitas personal yang lahir dari pengalaman, luapan perasaan, dan proses kreatif manusia.

Dalam Ways of Seeing, John Berger pun mengungkapkan hal yang kurang lebih sama. Ia menuliskan bahwa seni tidak boleh dipahami sebagai produk yang begitu saja bisa direplikasi karena seni selalu melibatkan konteks emosional dan refleksi pengalaman manusia.

Hal ini tampak jelas dalam animasi yang dibesut oleh Ghibli, dari bagaimana setiap gerak dan ekspresi karakter dirancang agar dapat menangkap pesan dan perasaan yang ingin disampaikan oleh seluruh pekerja kreatifnya dengan cara yang sebenarnya hanya bisa dimaknai oleh manusia yang berperasaan.

Seni selayaknya menjadi pintu masuk untuk memahami apa yang terdalam dari dunia, dari masyarakat, dari emosi manusia yang terkadang tidak bisa disampaikan melalui cara-cara yang konvensional. Jika kita begitu saja membiarkan bahkan merayakan pengembangan AI yang dapat mengambil alih proses dari industri kreatif ini, maka dapat dipastikan bahwa kita akan kehilangan sesuatu yang jauh melampaui dari sekadar goresan gambar. Kita akan kehilangan pengalaman manusiawi yang telah membuat seni menjadi sesuatu yang memiliki makna di luar sebatas ”gambar”, ”rangkaian kata”, atau ”komposisi bunyi”.

Selayaknya, kita harus bertanya secara reflektif, apakah kita benar-benar ingin hidup di dunia di mana kreativitas manusia telah digantikan oleh algoritma? Apakah kita benar-benar siap untuk merelakan luapan perasaan yang kerap kita temukan dari lukisan-lukisan Monet dan Van Gogh, atau dari bait-bait kotor Bukowski demi efisiensi dan kemudahan?

Tentu saja, kita tidak bisa secara naif mengharapkan agar perkembangan dan pemanfaatan AI dalam seni dan proses kreatif untuk dihentikan. Yang bisa kita harapkan adalah kebijaksanaan dari pihak pengembang dan pengguna. Kita tidak boleh menghina orisinalitas seorang pekerja seni hanya karena kita memegang teknologi yang bisa mereplikasi karya mereka menjadi bentuk dan tujuan yang kita inginkan.

Seniman telah selama berabad-abad mengabadikan dirinya dengan menciptakan keindahan yang mengisi keseharian kita. Namun, ketika teknologi mulai menggerus hajat hidup mereka, akankah kita berpaling kepada produk generatif yang tanpa jiwa, tanpa proses, dan tentu saja: tanpa luapan emosi?

Bambang Putra Ermansyah, Mahasiswa Magister Universitas Padjadjaran


Kerabat Kerja

Penulis:

Bambang Putra Ermansyah
 | 

Editor:

Neli Triana