TIMUR TENGAH

Tragedi SD Minab dan Etika AI di Perang Iran

Dua peristiwa itu memunculkan pertanyaan. Jika AI yang digadang-gadang sangat presisi itu dipakai, mengapa ada SD menjadi sasaran?

12 Mar 2026 14:00 WIB · Internasional

AFP/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI/ISNA

Oleh Irene Sarwindaningrum

Penggunaan kecerdasan buatan di perang Iran akhirnya dikonfirmasi Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul di tengah desakan penyelidikan tragedi sekolah dasar di Kota Minab.

Dalam laporan pada Rabu (11/3/2026) siang waktu New York atau Kamis dini hari WIB, The New York Times mengulas lagi serangan pada 28 Februari 2026 itu. Penyelidikan internal militer AS menyimpulkan, SD itu diledakkan rudal Tomahawk AS.

Sekolah itu masuk daftar sasaran karena Komando Operasi Tengah (CENTCOM) AS memakai data lama. Belum diketahui mengapa data lama tetap dipakai dan bagaimana sasaran dipilih sehingga SD di Minab jadi target serangan.

Terpisah, Panglima CENTCOM AS Laksamana Brad Cooper membenarkan serangan ke Iran menggunakan kecerdasan buatan. ”Kami menggunakan beragam alat AI canggih. Sistem-sistem ini membantu kami menyaring data dalam jumlah sangat besar hanya dalam hitungan detik,” katanya dalam video yang disiarkan CENTCOM pada Rabu.

Cooper mengatakan, sistem itu membantu para komandan AS mengambil keputusan dengan cepat. Proses yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam, bahkan kadang berhari-hari, dipangkas menjadi hanya hitungan detik.

Namun, kata dia, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. ”Manusia akan selalu membuat keputusan akhir tentang apa yang ditembak, apa yang tidak ditembak, dan kapan menembak,” ujarnya.

Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence alias akal imitasi (AI) dalam sistem otonom menjadi perdebatan etis paling panas saat ini. Penggunaannya di medan perang dinilai meletakkan nyawa manusia di tangan robot.

This screen grab obtained from video released by the US Central Command on their X account @CENTCOM on March 10, 2026 shows what they say is an Iranian naval vessel just before it is struck by a projectile "near the Strait of Hormuz" as part of "Operation Epic Fury" on March 10, 2026. The US military said on March 10 that it has destroyed 16 Iranian mine-laying vessels "near the Strait of Hormuz," following reports Tehran is mining the key waterway that has been virtually closed due to the Middle East war. "US forces eliminated multiple Iranian naval vessels, March 10, including 16 minelayers near the Strait of Hormuz," the United States Central Command said in a post on X that included video footage of various boats being struck by projectiles and exploding. (Photo by US Central Command (CENTCOM) / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT " AFP PHOTO / US CENTRAL COMMAND " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Dalam pengeboman SD Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran selatan, sejumlah bukti awal memperkuat dugaan rudal AS yang menghantam sekolah itu tak lama setelah kegiatan belajar pagi dimulai. Geolokasi video, citra satelit, dan fragmen munisi menunjukkan rudal yang digunakan kemungkinan adalah Tomahawk yang diproduksi AS.

”Melihat pihak-pihak yang berperang, itu menunjukkan serangan oleh AS karena Israel tidak diketahui memiliki rudal Tomahawk,” kata NR Jenzen-Jones, Direktur Armament Research Services, lembaga intelijen yang menganalisis persenjataan, seperti dikutip dari The Guardian.

Presiden AS Donald Trump membantah. Ia justru menuduh Iran. Ia mengatakan, serangan itu dilakukan Iran karena rudal-rudal Teheran sangat tidak akurat. Ia juga mengatakan Iran memiliki Tomahawk.

Pernyataan ini tak disertai bukti. Juru bicara militer AS hanya menyatakan serangan ke sekolah itu masih diselidiki.

In this picture obtained from Iran's ISNA news agency, mourners attend the funeral of children killed in a reported strike on a primary school in Iran�s Hormozgan province, in Minab on March 3, 2026. Iranian media have reported hundreds of Iranian casualties, including at a girl's school, although AFP reporters have not been able to verify tolls independently. The war launched by the United States and Israel against Iran spread across the Middle East, threatening to plunge the global economy into chaos, with Lebanon and Gulf energy exporters dragged into the conflict. (Photo by AMIRHOSSEIN KHORGOOEI / ISNA / AFP)
TOPSHOT - This US Navy handout photo released by US Central Command public affairs on March 8, 2025 shows Arleigh Burke-class guided-missile destroyer USS Thomas Hudner (DDG 116) firing a Tomahawk land attack missile, while underway, in support of Operation Epic Fury on March 5, 2026. The US-Israeli bombing campaign unleashed on February 28 has provoked Iranian retaliation against US allies across the region, with President Donald Trump saying on March 6 that only "unconditional" Iranian surrender would end the war. (Photo by various sources / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  US NAVY PHOTO VIA US CENTRAL COMMAND PUBLIC AFFAIRS " - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Dua peristiwa itu memunculkan pertanyaan. Jika AI yang digadang-gadang sangat presisi dipakai, mengapa ada SD menjadi sasaran? Sejauh ini memang belum ada bukti bahwa AI memilih sekolah itu sebagai sasaran. Namun, setidaknya tragedi di SD di Minab itu menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam perang tidak otomatis melindungi warga sipil. 

”Tidak ada bukti bahwa AI menurunkan jumlah kematian warga sipil atau kekeliruan penargetan. Bisa jadi justru sebaliknya,” kata Craig Jones, ahli geografi politik di Newcastle University, Inggris. Ia meneliti penargetan militer merujuk penggunaan AI di perang Rusia-Ukraina, dikutip dari jurnal ilmiah Nature, 5 Maret 2026.

Quote

Tidak ada bukti bahwa AI menurunkan jumlah kematian warga sipil atau kekeliruan penargetan. Bisa jadi justru sebaliknya.

Kegagalan membedakan bangunan sipil dan target militer menjadi persoalan serius dalam penggunaan AI di medan perang. Tanpa menarik pelatuk pun, AI bisa jadi ikut berkontribusi dalam salah sasaran pengeboman.

Dari pemeriksaan citra satelit, The Guardian melaporkan, SD Shajareh Tayyebeh berada bersebelahan dengan kompleks barak Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) di Minab, tak jauh dari Selat Hormuz.

Citra satelit menunjukkan bangunan itu jelas-jelas fasilitas pendidikan. Ada mural warna-warni di dinding dan lapangan bermain. Manusia akan dengan mudah mengenalinya sebagai sekolah. Namun, entah bagaimana AI mengenalinya.

Maven dan Lavender

Penggunaan AI dalam perang Iran pertama kali dilaporkan The Wall Street Journal, Sabtu (7/3/2026). Harian berbasis di AS itu menulis, perang Iran menghantam target dalam jumlah besar dalam waktu singkat dengan presisi yang belum pernah terlihat.

Dalam kurang dari 100 jam pertama, operasi Epic Fury AS dan Israel menghantam hampir 2.000 sasaran di Iran. Hingga hari ke-11 perang, jumlah itu telah melampaui 5.500 target, termasuk kediaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Menurut laporan bangunan itu digempur 30 bom bersamaan.

Admiral Charles Bradford "Brad" Cooper II, Commander of US Central Command speaks during a joint press conference with US Secretary of Defense Pete Hegseth, at US Central Command (CENTCOM) headquarters at MacDill Air Force Base in Tampa, Florida, on March 5, 2026. (Photo by Octavio JONES / AFP)
Infografik Serangan AS-Israel ke Iran

Cooper tak menyebut sistem AI yang digunakan AS di Iran. Namun, AS mempunyai sistem AI militer bernama Maven Smart System (MSS). Pengembangannya dimulai pada 2017 lewat Project Maven.

MSS dikembangkan Palantir untuk militer AS dan memakai AI Claude milik Anthropic. Palantir adalah perusahaan perangkat lunak asal AS yang mengembangkan sistem analisis data dan AI untuk pemerintah, militer, dan korporasi.

Menurut dokumen resmi Badan Intelijen Geospasial Nasional AS (NGA), Maven dipakai untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan melacak obyek dalam citra dan video. Pendeknya, sistem itu dirancang untuk mempercepat analisis intelijen dan keputusan penargetan militer.

Sebelum serbuan Iran, pada Mei 2024 Pentagon memberi kontrak 480 juta dolar AS kepada Palantir untuk mengembangkan prototipe MSS.

Israel belum mengonfirmasi penggunaan AI dalam perang Iran. Namun, sejumlah laporan menunjukkan, militer Israel telah lebih dulu memakai beragam sistem AI. Perangkat AI itu dilaporkan digunakan dalam gempuran ke Jalur Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Dalam gambar satelit yang disediakan oleh Vantor ini, bangunan yang rusak terlihat di kediaman resmi Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Iran, Minggu (1/3/2026).

Investigasi media berbasis Israel, +972 Magazine dan Local Call, mengungkap, sistem AI bernama Lavender dipakai untuk membantu mengidentifikasi target pengeboman.

Menurut investigasi itu, Lavender digunakan untuk menandai warga Gaza sebagai sasaran potensial untuk kemungkinan dibunuh. Disebutkan pula, sistem ini sangat minim pengawasan manusia.

Sistem Lavender dilaporkan mengidentifikasi sekitar 37.000 orang yang dilabeli target potensial berdasarkan dugaan keterkaitan mereka dengan Hamas. Laporan itu memicu perhatian Washington. Gedung Putih di bawah Presiden Joe Biden menelaah laporan tersebut.

Namun, militer Israel membantah. Menurut Israel, sistem berbasis AI hanya membantu analisis manusia. Pemeriksaan tetap dilakukan perwira senior dan mempertimbangkan hukum internasional.

Selain Lavender, investigasi +972 juga melaporkan sistem AI bernama Habsora atau The Gospel. Berbeda dengan Lavender untuk menandai orang, Habsora dipakai untuk menandai bangunan dan struktur yang dinilai memiliki fungsi militer.

Asap membumbung di belakang Azadi, atau menara kebebasan, setelah serangan militer AS-Israel di Teheran, Iran, Selasa (3/3/2026).

Sistem AI militer Israel lainnya bernama Where’s Daddy?. AI ini dipakai untuk membantu mengetahui kapan target berada di rumah. Seorang mantan perwira intelijen Israel yang dikutip +972 menyebut teknologi ini memungkinkan militer mengoperasikan ”pabrik pembunuhan massal”.

Sejumlah ahli mengkhawatirkan kemungkinan AI salah baca data dan salah menerjemahkan. Mereka juga khawatir soal ketergantungan berlebihan pada sistem yang lebih cepat daripada verifikasi manusia.

”Bias konfirmasi dapat membuat orang tak memeriksa lagi. Sebagian orang mungkin malas, tetapi yang lain mungkin takut melawan mesin lalu salah dan membuat kekeliruan,” kata Tal Mimran, pengajar kebijakan siber dan mantan perwira hukum cadangan militer Israel.

Cabut batas etika

Arah penggunaan AI dalam sistem militer semakin menggelisahkan. Hanya sehari sebelum serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari, Pentagon bentrok dengan Anthropic. Pentagon ingin mencabut batasan etis yang diterapkan perusahaan terhadap Claude.

Batasan etis itu, perusahaan tidak mau mencabut larangan agar Claude dipakai untuk senjata otonom yang bisa memilih dan membunuh tanpa keputusan manusia. Meski di bawah ancaman, Anthropic tak mau melepas batasan penggunaannya untuk pengawasan massal di AS.

ARLINGTON, VIRGINIA - SEPTEMBER 19: U.S. Secretary of War Pete Hegseth delivers remarks during the Department of War 2025 National Prisoner of POW/MIA Recognition Day ceremony at the Pentagon on September 19, 2025 in Arlington, Virginia. The POW/MIA Recognition Day honors service members who were prisoners of war and those who are still missing in action.   Kevin Dietsch/Getty Images/AFP (Photo by Kevin Dietsch / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, tak ada niatan AS menggunakan AI untuk dua hal itu. Namun, keinginan mencabut batasan etis AI di sistem militer pun semakin menggelisahkan banyak pihak.

Zar Motik Adisuryo, pengamat AI dari Global Policy Lead, dan representatif nasional Indonesia untuk AI Safety Asia, menilai, persoalan utama saat ini adalah belum adanya aturan atau larangan yang benar-benar mengikat untuk membatasi penggunaan AI dalam perang. ”Panduan etisnya itu sekarang ada framework ethical AI UNESCO,” kata Zar.

Namun, panduan itu baru sebagai rujukan etis, belum menjadi aturan hukum yang mengikat.

Di forum-forum PBB di Geneva, Swiss, perdebatan soal robot pembunuh terus berulang dari tahun ke tahun. Namun, perdebatan masih berhenti di ruang diplomatik dan kajian ilmiah. Sementara itu, anak-anak telah menjadi korban di medan perang yang menggunakan AI.

(Reuters/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra