Vikram Sinha kembali memimpin Indosat dalam lima tahun ke depan. Perusahaan telekomunikasi ini pun terus bertransformasi dengan menjadikan AI sebagai tumpuan.
09 Jul 2026 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/25/30f552bf-1d68-47be-a646-c3e74d7c144c.jpg)
JAKARTA, KOMPAS — PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk melanjutkan transformasi bisnis dengan menjadikan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) sebagai tumpuan pertumbuhan baru dalam lima tahun ke depan. Untuk memastikan kesinambungan itu, Indosat memperpanjang masa jabatan pimpinan eksekutifnya.
Indosat mengumumkan perpanjangan masa jabatan Vikram Sinha sebagai Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) itu melalui siaran pers pada Senin (6/7/2026). Keputusan Dewan Komisaris tersebut akan diformalkan dalam rapat umum pemegang saham tahunan perusahaan mendatang.
”Persetujuan Dewan Komisaris untuk memperpanjang masa jabatan Vikram Sinha selama lima tahun ke depan mencerminkan keyakinan kami terhadap kepemimpinannya beserta jajaran manajemen dalam terus menciptakan nilai jangka panjang bagi Indonesia,” ujar President Commissioner Indosat Nezar Patria dalam keterangan tertulis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/08/e5cc4f5e6cf97557e179a2b709dcf840-FAK_3014.jpg)
Menurut Nezar, keputusan itu didasarkan pada kemajuan signifikan yang dicapai perusahaan sejak Indosat merger dengan PT Hutchison 3 Indonesia pada 2022. Vikram turut memimpin penggabungan kedua operator seluler itu. Merger entitas bisnis ini menjadi salah satu tonggak transformasi perusahaan.
Kini, lanjut Nezar, Indosat memasuki fase transformasi berikutnya dengan mempercepat implementasi AI North Star. Kerangka strategi ini menjadi acuan perusahaan untuk mengintegrasikan AI ke seluruh organisasi sekaligus memperluas bisnis berbasis AI. Tujuannya, memperdalam loyalitas pelanggan serta membangun ekosistem kedaulatan AI Indonesia.
Nezar menilai, strategi untuk mengembangkan AI telah mendorong pertumbuhan bisnis Indosat. Dalam laporan keuangan Indosat triwulan I-2026, perusahaan membukukan pendapatan Rp 15,22 triliun. Pendapatan itu tumbuh sekitar 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 13,58 triliun.
Hingga triwulan I-2026, pendapatan terbesar operator seluler yang memiliki 94 juta pelanggan ini masih berasal dari layanan seluler dengan kontribusi Rp 12,70 triliun dari total Rp 15,22 triliun. Pendapatan dari layanan data, seperti kuota internet hingga solusi digital, ini tercatat tumbuh 11,2 persen secara tahunan.
Selain bisnis seluler, segmen multimedia, komunikasi data, dan internet (MIDI) juga tumbuh signifikan sebesar 17,5 persen menjadi Rp 2,31 triliun. Segmen ini, antara lain, mencakup layanan teknologi informatika, internet untuk korporasi, solusi AI, hingga layanan komputasi.
Adapun EBITDA atau laba operasional perusahaan sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi meningkat 13 persen secara tahunan menjadi Rp 7,2 triliun. Dewan Komisaris pun mendukung ambisi Indosat untuk menggandakan EBITDA, sebagai bentuk keyakinan terhadap arah strategis jangka panjang perseroan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/09/33d683d3b3f9142e416e81dcdd4c2125-20260609TOK7.JPG)
”Memasuki babak transformasi berikutnya, dengan fokus memperluas sovereign (kedaulatan) AI dan mewujudkan ambisi EBITDA perseroan, Dewan Komisaris terus menaruh kepercayaan kepada kepemimpinan Vikram Sinha,” ujar Nezar yang juga Wakil Menteri Komunikasi dan Digital.
Sebelumnya, Vikram mengatakan, Indosat fokus menjalankan transformasi berbasis AI. Sejak 2024, misalnya, pihaknya berkolaborasi dengan Nvidia, perusahaan semikonduktor dari Amerika Serikat, untuk mengembangkan infrastruktur komputasi awan (cloud).
Melalui anak usahanya, Lintasarta, Indosat menyediakan layanan graphics processing unit (GPU), yang dapat mengakselerasi aplikasi AI. Layanan itu memungkinkan perusahaan mengakses komputasi AI berkinerja tinggi tanpa harus membangun infrastruktur sendiri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/25/20107863-aca5-4617-a905-9dea1d3b8849.jpg)
Indosat juga mengembangkan Sahabat-AI, platform terbuka yang dirancang untuk membuat teknologi AI semakin mudah diakses dan relevan dengan kebutuhan lokal melalui pemahaman terhadap bahasa serta budaya Indonesia. Model bahasa besar (LLM) AI ini bahkan dirancang dalam beberapa bahasa daerah.
Pihaknya juga telah mengembangkan fitur AI-powered Anti-Spam dan Scam yang dapat mendeteksi indikasi penipuan pada layanan pesan singkat maupun suara dengan tingkat akurasi lebih dari 90 persen. Melalui berbagai kemitraan strategis dengan sektor publik maupun swasta, Indosat turut mengembangkan talenta digital, serta kewirausahaan untuk mendukung lahirnya generasi tenaga kerja digital.
”Dengan strategi transformasi berbasis AI ini, Indosat dapat lebih relevan dalam setiap interaksi, tecermin dari keeratan yang semakin kuat, pengalaman pelanggan yang lebih baik, dan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Vikram.
Secara terpisah, Izzudin Al Farras, Kepala Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menilai, perusahaan telekomunikasi mengembangkan AI, antara lain, untuk meningkatkan efisiensi operasional. Operator seluler juga memperluas lini bisnis ke AI tidak terlepas pertumbuhan pelanggan yang cenderung melambat.
”Selama ini, pendapatan operator telekomunikasi itu stagnan, sekitar 5 persen. Ketika ada kerja sama dengan perusahaan AI, perlahan (pendapatannya) meningkat,” ujar Farras. Pengembangan AI juga penting di tengah ketatnya persaingan bisnis operator seluler, seperti perang tarif internet.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/0778da6bd0893ee0429d909345679dda-20260228_194302.jpg)
Heru Sutadi, Direktur Eksekutif Indonesia Information dan Communication Technology (ICT) Institute, lembaga yang fokus pada isu informatika dan komunikasi, sepakat, persaingan bisnis di industri ini cukup ketat. Apalagi, berbagai operator seluler telah memperluas bisnisnya ke AI.
Survei terbaru Global System for Mobile Communications Association (GSMA) Intelligence, asosiasi operator telekomunikasi dunia, terhadap 580 perusahaan di Asia Tenggara merekam tren tersebut. Survei ini, antara lain, mendata potensi pengeluaran perusahaan dalam mengadopsi dan menjadikan AI sebagai lini bisnis baru.
Perusahaan seluler di Indonesia diperkirakan mengalokasikan rata-rata 10 persen dari pendapatan mereka untuk transformasi digital pada 2025-2030. Dua pertiga responden menempatkan AI dalam tiga prioritas pengeluaran utama mereka sedangkan lebih dari separuh responden menilai internet of things (IoT) berbasis 5G masih penting.
Dalam lima tahun ke depan, persaingan tidak lagi hanya antaroperator telekomunikasi, tetapi juga antarperusahaan yang mampu menguasai AI, data, dan layanan digital.
”Dalam lima tahun ke depan, persaingan tidak lagi hanya antaroperator telekomunikasi, tetapi juga antarperusahaan yang mampu menguasai AI, data, dan layanan digital,” ujar Heru. Terlebih lagi, sejumlah perusahaan teknologi global telah mengembangkan model AI. OpenAI, misalnya, memiliki ChatGPT, Google punya Gemini, dan Deepseek dengan model AI asal China.
Indosat pun perlu bersaing dengan berbagai perusahaan yang menjadikan AI sebagai fokus bisnis. ”Jika mampu memanfaatkan momentum ini dengan baik, Indosat tidak hanya akan memperkuat posisinya di Indonesia, tetapi juga berpeluang menjadi salah satu pemain AI dan digital terdepan di kawasan,” ungkap Heru.
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan