Program MBG dibuat untuk mengintervensi gizi anak bangsa. Namun, MBG juga menjadi kesempatan untuk mengedukasi anak bangsa soal pengelolaan sampah kemasan.
01 Nov 2025 08:03 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/PRIYOMBODO
Transformasi industri kemasan bisa membantu program Makan Bergizi Gratis atau MBG. MBG bukan sekadar intervensi gizi, melainkan juga bisa mengedukasi generasi soal pengelolaan sampah.
Industri kemasan punya peran penting dalam pertumbuhan ekonomi negara, terutama dalam mendukung perkembangan industri makanan dan minuman. Kemasan pun bertransformasi dari yang sekadar plastik atau aluminium foil menjadi kemasan aseptik. Kemasan aseptik dirancang untuk menjaga produk tetap steril tanpa perlu pendinginan sehingga makanan dan minuman bisa tahan lebih lama meski disimpan pada suhu tertentu.
PT Lami Packaging (Lamipak) Indonesia, merupakan salah satu produsen kemasan yang baru beroperasi selama satu tahun di Indonesia, tetapi telah mampu menghasilkan setidaknya 21 miliar kemasan. Inovasi dan teknologi menjadi kunci dalam transformasi industri kemasan tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/01/3ec32da1d110d53efb182001103b0a3c-20250801PRI8HR.jpg)
Seiring dengan bergulirnya program MBG, Lamipak juga punya peran dalam mendukung program itu berjalan dengan baik, khususnya dalam produk susu. Perusahaan tersebut setidaknya sudah menguasai 20 persen produk makanan dan minuman domestik serta 80 persennya merupakan produk luar.
Selama setahun, Lamipak sudah membuat kemasan pada 70 persen produk susu dan 25 persen produk santan yang masuk di Indonesia. Sebagian besar susu yang dibagikan MBG menggunakan kemasan buatan Lamipak.
Hal itu terungkap dalam acara Media Talk and Gathering 2025 dengan tema ”Strategic Outlook for a Sustainable Aseptic Packaging Manufacture” di Serang, Banten, pada Kamis-Jumat (30-31/10/2025) yang diselenggarakan oleh Lamipak.
Prof Epi Taufik, Dewan Pakar Badan Gizi Nasional (BGN), mengatakan, pemerintah sedang menyiapkan produk susu yang akan diproduksi untuk dikonsumsi dalam program MBG. Ia menilai, Indonesia punya potensi luar biasa dari produk susu ataupun sapi perah. Susu menjadi produk penting untuk intervensi gizi anak-anak Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/31/095009bee46cfa14eb3f7e4404d6f7c1-WhatsApp_Image_2025_10_31_at_06.53.46.jpeg)
Sayangnya, rata-rata konsumsi susu per kapita di Indonesia, ungkap Epi, saat ini baru mencapai 16,3 kilogram per tahun, jauh di bawah Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina yang memiliki tingkat konsumsi 50-100 persen lebih tinggi. Rendahnya angka ini menunjukkan perlunya upaya bersama untuk meningkatkan kesadaran gizi serta memperluas akses masyarakat terhadap produk bergizi, terutama bagi pelajar.
Produk susu Indonesia, lanjut Epi, 85 persen merupakan peternakan rakyat dengan total populasi saat ini mencapai 485.809 sapi dan 98 persennya ada di Jawa dengan total produksi lebih kurang 2 juta liter per hari. Epi menjelaskan, pemerintah mulai melirik lokasi lainnya untuk mengembangkan peternakan sapi perah.
Konsumsi susu nasional saat ini, ungkap Epi, baru mencapai 4,4 juta ton yang diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 5,5 juta ton pada tahun 2030. ”Di negara maju, anak-anak itu minum susu 6 liter per hari saat makan siang,” ucapnya.
Dengan MBG, kebutuhan susu bisa mencapai 8,9 juta ton per tahun. Lonjakan kebutuhan ini menandakan peluang besar sekaligus tantangan dalam menjaga pasokan, kualitas, dan distribusi susu di seluruh wilayah Indonesia.
”Dengan jumlah itu, kami juga membutuhkan kemasan yang punya peran penting untuk menjaga kualitas dan keamanan produk susu serta memungkinkan distribusi lebih luas dan efisien,” ujar Epi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/31/0bae2f37782694bed099419ac16df61f-IMG_20251030_210026.jpg)
Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF) Henky Wibawa menjelaskan, sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan distribusi ke wilayah terpencil yang memiliki keterbatasan infrastruktur. Produk dengan kemasan konvensional umumnya hanya bertahan 2-3 minggu, sedangkan produk dalam kemasan aseptik dapat disimpan hingga satu tahun tanpa memerlukan pendinginan. Hal ini menjadikan kemasan aseptik sangat ideal untuk menjaga kualitas dan keamanan nutrisi susu, sekaligus memastikan produk bergizi dapat menjangkau masyarakat di seluruh pelosok negeri.
Henky menyadari bahwa salah satu tantangan dalam industri kemasan adalah sampah plastik atau sampah aseptik. Namun, dengan teknologi saat ini, semua pabrik pembuat kemasan aseptik merancang produknya agar bisa didaur ulang sehingga lebih ramah lingkungan.
”MBG ini kesempatan, bukan hanya untuk intervensi gizi, tetapi juga edukasi. Di Jepang, pengelolaan sampah sudah menjadi fokus yang diajarkan sejak masih di bangku sekolah dasar. Indonesia bisa melakukan itu melalui program MBG ini,” tutur Henky.
Menurut dia, untuk menjawab tantangan itu, kemasan aseptik masih menjadi jawaban dan inovasi yang paling cocok. ”Pemanfaatan limbah kemasan aseptik kini banyak diolah menjadi barang yang bermanfaat, seperti furnitur dan banyak lagi,” ucap Henky.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/31/c950ad67ac388e39c1c121f374d2896f-IMG_20251031_104437.jpg)
Henky menambahkan, program MBG berpotensi menciptakan ekonomi sirkular. Sebagai contoh, rantai pasok produk susu untuk program ini saja sudah melibatkan banyak petani dan peternak. Ia menegaskan bahwa upaya menciptakan ekonomi sirkular ini sejalan dengan tujuan pengembangan industri kemasan.
”Dari penyediaan rumput saja sudah jadi bisnis baru, begitu juga dalam industri kemasan. Kami terus berinovasi dalam mewujudkan ekonomi sirkular yang pro-lingkungan dengan melibatkan semua rantai pasok industri pengemasan. Ekonomi sirkular menuntut kemasan harus bisa digunakan kembali,” tuturnya.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Perekonomian Ali Murtopo menyebutkan, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik, mencapai 5,12 persen. Ada banyak faktor yang mendukung itu, termasuk industri kemasan makanan dan minuman.
Selama lebih dari lima dekade, lanjut Ali, kebutuhan Indonesia terhadap kemasan aseptik sepenuhnya bergantung pada impor. Meskipun produk kemasan aseptik berlangsung impor selama lebih dari 50 tahun, industri kemasan aseptik di Indonesia menurut data terlihat terus meningkat, dari Rp 87,6 triliun pada 2022 menjadi Rp 93,2 triliun pada 2023, dan lebih dari Rp 100 triliun pada akhir 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/01/9f6cdba9d0a272d07030df2445884f6b-20250801PRI5HR.jpg)
Pasar industri kemasan aseptik di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan, terutama dengan meningkatnya permintaan akan kemasan ramah lingkungan dan teknologi pengemasan modern. Diperkirakan pasar kemasan aseptik akan tumbuh 24 persen dalam lima tahun ke depan dan Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat.
”Kami optimistis ekonomi ke depan dengan berbagai program unggulan akan terus membaik dan semua program yang dijalankan ini merupakan program yang pro-rakyat,” ucap Ali.
Managing Director Lamipak Indonesia Anton Hui menjelaskan, berdirinya Lamipak Indonesia pada Mei 2022 menjadi tonggak penting menuju kemandirian industri nasional. Dengan investasi jangka pendek sebesar Rp 3 triliun, perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada April 2024 dengan kapasitas awal 12 miliar kemasan per tahun, termasuk produk pelengkap seperti sedotan kertas.
Sejak 1 Agustus 2025, Lamipak Indonesia telah beroperasi dengan kapasitas penuh sebesar 21 miliar kemasan per tahun, yang secara signifikan memperkuat rantai pasok kemasan dalam negeri.
”Sebagai salah satu pelaku utama di industri kemasan aseptik Indonesia, kami berkomitmen untuk mendukung program MBG melalui penyediaan kemasan yang aman, berkualitas tinggi, dan diproduksi di dalam negeri untuk produk susu maupun minuman bergizi lainnya,” ujar Anton.
Ia menambahkan, pihaknya percaya inovasi kemasan tidak hanya berperan dalam menjaga keamanan dan keberlanjutan produk, tetapi juga dalam mendorong peningkatan gizi dan ketahanan pangan nasional.
Melalui investasi dan inovasi berkelanjutan, ujar Anton, pihaknya menegaskan misi untuk menciptakan nilai keberlanjutan bagi bangsa, memperkuat kemandirian industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih sehat dan sadar gizi.
Penulis:
Dionisius Reynaldo TriwibowoEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul