Produk ETF emas ditargetkan rilis di pasar modal Indonesia pada akhir 2025.
11 Nov 2025 13:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
JAKARTA, KOMPAS — Tren kenaikan harga dan permintaan emas dunia turut didorong investasi reksa dana di pasar modal Exchange Traded Fund atau ETF emas. Di Indonesia, produk ini masih disiapkan regulator dan otoritas pasar modal Indonesia bersama pelaku pasar.
Harga emas dunia pada Selasa (11/11/2025) pagi kembali menembus level 4.130 dollar AS per troy ons atau naik 55 persen sejak awal tahun. Sebelumnya, di pertengahan Oktober, harga emas dunia menyentuh level tertingginya di atas 4.300 dollar AS per troy ons. Di dalam negeri, harga emas batangan dengan merek Antam dijual Rp 2,3 juta untuk ukuran 1 gram.
World Gold Council melaporkan, tren harga emas didominasi pengaruh permintaan emas dunia untuk investasi, selain fabrikasi perhiasan, teknologi, dan sarana hedging oleh institusi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/10/5c90ac0cdbbdeac862ca70ab60aabd88-Screenshot_20251110_125056_Samsung_Internet.jpg)
Lembaga itu mencatat permintaan sekitar 3.700 ton lebih emas dalam sembilan bulan pertama di 2025, permintaan tertinggi sebesar 1.566 ton datang dari kebutuhan investasi, baik dalam bentuk emas batangan maupun koin sampai produk derivatif keuangan, seperti ETF emas.
”Dengan dinamisnya harga emas dunia saat ini, tentu juga mendorong aktivitas di pasar derivatif dan ETF,” kata Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik kepada Kompas, Selasa.
ETF emas merupakan reksa dana berbasis emas yang diperdagangkan di bursa saham, dengan harga mengikuti pergerakan harga emas fisik yang disimpan di brankas kustodian.
Produk ini dilegalkan lewat Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) terkait izin usaha ETF emas. Aturan ini akan sejalan dengan POJK Nomor 17 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bulion.
Regulator dan otoritas pasar modal Indonesia berupaya mengembangkan produk pasar modal dalam bentuk ETF emas. Wacana ini sudah mengemuka setidaknya sejak awal 2025 dan ditargetkan meluncur pada triwulan IV tahun ini.
Namun, Jeffrey memastikan persiapan produk ini terus berlanjut. Bulan Oktober lalu, misalnya, Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terkait ETF emas Syariah yang sudah diterima BEI.
”Artinya sudah satu langkah progres untuk pengembangan ETF emas. Persiapan di teman-teman manajer investasi juga terus berprogres. Kami juga terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/11/e0e3a53a-c32e-43f2-8940-71b4922289a5.jpg)
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, yang ditemui di Jakarta belum lama ini, mengatakan, mereka juga masih berkoordinasi dengan lembaga penyedia dan penyimpanan emas seperti Bank Syariah Indonesia dan Pegadaian. ”ETF gold ini kami harapkan sudah bisa diluncurkan pada akhir 2025,” katanya.
Produk ETF emas sudah diperdagangkan di bursa di banyak negara. Transaksinya juga terus meningkat. World Gold Council dalam laporan Oktober, yang dirilis 6 November 2025, menyoroti arus masuk investasi global pada produk ETF emas yang meningkat selama lima bulan terakhir. Kawasan Amerika Utara dan Asia memimpin tren tersebut.
”ETF emas global yang mendorong permintaan emas fisik mencatatkan arus masuk selama lima bulan berturut-turut, menghasilkan 8,2 miliar dollar AS pada bulan Oktober,” tulis laporan tersebut.
Meskipun arus masuk pada bulan Oktober melambat dibandingkan bulan sebelumnya, arus masuk tersebut tetap berada di atas rata-rata data di 2025 sebesar 7,1 miliar dollar AS. Total aset kelolaan (AUM) ETF emas global naik 6 persen secara bulanan di Oktober menjadi 503 miliar dollar AS pada akhir Oktober dan kepemilikan naik 1 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 3.893 ton.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan