Perkembangan pusat-pusat data ke tengah kota mengikuti arus megatren global teknologi.
18 Sep 2024 09:01 WIB · Ekonomi
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/06/26/170013cb-6441-4589-87fc-310faa8a187e_jpg.jpg)
Pengembangan pusat data di tengah kota semakin masif. Tren pusat data yang mengisi lahan-lahan terbatas di perkotaan membidik kedekatan dengan para penggunanya (end user).
Megatren global teknologi yang bergantung pada data, termasuk internet of things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) kian mendorong pertumbuhan infrastruktur teknologi informasi (TI) berskala besar yang dapat disediakan oleh pusat data (data center). Kebutuhan pusat data telah menjelma menjadi fondasi transformasi digital dan urat nadi pertumbuhan ekonomi. Sejalan dengan itu, perkembangan pusat data semakin semarak, dari pinggiran kota hingga ke pusat kota.
Baru-baru ini, Sinar Mas bersama dengan LG CNS Co Ltd resmi membentuk perusahaan patungan (joint venture), yakni LG Sinar Mas, guna membidik kebutuhan pasar TI yang terus tumbuh. Proyek kongsi perdana itu berupa pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) senilai Rp 4,6 triliun.
LG CNS merupakan perusahaan penyedia pusat data, layanan TI, solusi komputasi awan (cloud), dan spesialis transformasi digital yang berbasis di Korea Selatan. Perusahaan baru hasil kolaborasi tersebut bakal membangun pusat data di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta, yakni di Kuningan, Jakarta Selatan, dengan total area pengembangan seluas 8.516 meter persegi.
Baca Juga: ”Booming” Kecerdasan Buatan Picu Pembangunan Pusat Data
Proyek pusat data di pusat kota tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2026, dengan target utama perusahaan domestik dan multinasional, khususnya yang bergerak di sektor industri perbankan, perusahaan Sinar Mas, dan perusahaan-perusahaan Korea.
”Kami berharap pada masa depan kami akan berusaha bersama-sama untuk mengembangkan seri kecil, infrastruktur yang berkembang, seperti data center, dan cloud, servis IT finansial, dan ekosistem IT yang dapat menerima manfaat dari bisnis dan masyarakat,” ujar CEO LG CNS Hyun Shin-gyoon, dalam keterangan resmi, di Jakarta, Rabu (11/9/2024).
Perusahaan konsultan real estat global JLL memperkirakan infrastruktur TI yang berfokus pada pusat data akan mengikuti pertumbuhan perangkat IoT. Pertumbuhan TI dan pusat data diproyeksikan naik dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 9,8 persen dalam kurun lima tahun ke depan.
Di tingkat global, pengembangan infrastruktur TI dan pusat data yang canggih diprediksi bakal mencapai nilai 317 miliar dollar AS hingga tahun 2026, atau tumbuh 107 persen dibandingkan tahun 2020 yang senilai 153 miliar dollar AS. JLL mendefinisikan pusat data sebagai sebuah fasilitas yang membawa daya komputasi lebih dekat ke tempat data dihasilkan atau digunakan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/16/31d45409-7eb9-4479-8e66-2428a7dcf6a7_jpg.jpg)
Analisis JLL menyimpulkan bahwa perusahaan biasanya menggunakan kombinasi berbagai jenis pusat data, termasuk on-premises, pendapatan dan pasokan kolokasi (colocation), serta layanan komputasi awan (cloud computing) saat menggunakan infrastruktur TI, sesuai dengan kebutuhan. Namun, pertumbuhan data dan perangkat yang terhubung secara terus-menerus telah mendorong kebutuhan penyimpanan, komputasi, dan kemampuan jaringan yang lebih dekat dengan titik akhir penggunaan.
Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah mengungkapkan, kapasitas pusat data di kota Jakarta telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak akhir tahun 2020. Sebelumnya, banyak pelaku pusat data membangun fasilitas pusat data di dalam kawasan industri yang terletak di timur Jakarta.
”Saat ini, para pemain pusat data memperluas fasilitas ke wilayah tengah Jakarta dan area komersial sekitarnya di pusat bisnis Jakarta, terutama di lokasi yang memiliki infrastruktur memadai untuk membangun fasilitas dan mendekatkan keberadaan end user,” tutur Farazia, dalam keterangan pers, pekan lalu.
Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim, akhir pekan lalu, menambahkan, total pusat data kolokasi saat ini mencapai lebih dari 200 megawatt (MW), sebagian besar berlokasi di pusat kota Jakarta dan beberapa di kawasan industri di Bekasi. Di pusat kota Jakarta, sebagian besar pengembangan pusat data berlokasi di kawasan Kuningan, yakni mencapai 30 persen dari total pasokan pusat data di Jabodetabek.
Beberapa proyek pengembangan pusat data sedang dalam tahap konstruksi dan ditargetkan akan beroperasi akhir tahun ini dan tahun depan, seperti Equinix, BDx, dan Bersama Digital Data Center.
Baca Juga: Semarak Fasilitas Pusat Data
Sementara itu, konsultan properti global Knight Frank mencatat sedikitnya 39 pusat data di Kota Jakarta, dengan berbagai lapisan (tier) layanan. Sebanyak 70 persen di antaranya berlokasi di Kota Jakarta Selatan, seperti di Kecamatan Mampang Prapatan, Kebayoran Baru, dan Setiabudi.
Perkembangan pusat data juga melebar ke kota-kota lain di Indonesia. Terdapat lima kota yang tercatat sebagai kota dengan pusat data terbanyak, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Batam, dan Bekasi. Jakarta menjadi kota dengan pusat data terbanyak saat ini.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengemukakan, tingkat penggunaan data Indonesia saat ini masih rendah, di bawah 1 watt per kapita dibandingkan 10-100 watts per kapita di negara-negara Asia lainnya. Namun, Indonesia menunjukkan potensi pertumbuhan pemakaian data secara substansial.
Jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 180 juta orang menjadikan bisnis pusat data terus berkembang. Apalagi, pemanfaatan kecerdasan buatan, terutama di kalangan generasi muda, telah membuat pengembangan pusat data menjadi lebih masif lagi.
”Bisa dibayangkan, bisnis pusat data memiliki pasar yang terus bertumbuh, tidak hanya untuk kebutuhan pengguna internet, tetapi juga pengembangan kecerdasan buatan,” kata Syarifah, akhir pekan lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/20/cbcad6f6-da5e-4b10-b1fd-a4ac20eb4e93_jpg.jpg)
Pusat kota menjadi opsi ekspansi pusat data karena sudah memiliki infrastruktur serat optik (FO) yang mapan, serta konektivitas dengan pasar yang lebih dekat jika dibandingkan dengan area di pinggiran Jakarta. ”Secara lokasi, ekspansi data center di tengah kota merupakan lokasi premium, dekat dengan pasar dan kesiapan infrastruktur,” ujarnya melanjutkan.
Director Knight Frank Indonesia Sindi S Adinata berpendapat, tren pengembangan pusat data di pusat kota tidak akan menggerus pertumbuhan pusat data di kawasan pinggiran kota ataupun kawasan industri di sekitarnya. Pada 2023, pusat data masih menjadi salah satu sektor yang signifikan menyerap ruang di kawasan industri. Setidaknya sekitar 33 persen lahan di kawasan industri di koridor Timur Jakarta terserap oleh sektor pusat data.
”Pengembangan pusat data di tengah kota ataupun di kawasan pinggiran kota memiliki pasarnya masing-masing. Setiap korporasi punya kebijakan yang menentukan mereka membutuhkan pusat data di pusat kota atau pinggir kota. Ini memperkaya opsi-opsi korporasi untuk memilih pusat data,” papar Sindi.
Baca Juga: Pergerakan Pasar Pusat Data Mengarah ke Negara Berkembang
Dari data Center Research Report Malaysia yang dirilis Knight Frank Malaysia, potensi pertumbuhan pusat data di Asia Pasifik terus didorong permintaan layanan komputasi awan, mahadata (big data), dan tingginya pertumbuhan e-dagang. Potensi pusat data yang prospektif terdapat di lima negara, yaitu Malaysia, Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Thailand.
Indonesia tercatat memiliki transaksi data berkisar 22 MW, dengan pasokan terbesar di antara lima kota prospektif di Asia Pasifik, yaitu lebih dari 700 MW pada 2022. Sebanyak hampir 100 pusat data terdapat di Indonesia saat ini.
Meski demikian, perkembangan pusat data di Indonesia masih memerlukan sejumlah pembenahan, seperti ketersediaan sumber energi listrik dan sumber daya manusia. Kecukupan energi listrik berperan besar dalam operasional pusat data, mengingat layanan pusat data membutuhkan energi listrik yang besar, serta operasional yang bersifat spesifik membutuhkan tenaga ahli di bidang TI, elektronika, dan komputasi.
”Tidak hanya infrastruktur yang perlu disiapkan investasinya di Indonesia, tetapi juga pembiayaan untuk pembangunan kapasitas SDM menjadi urgensi pengembangan pusat data di Indonesia saat ini,” kata Syarifah.
Penulis:
BM LUKITA GRAHADYARINIEditor:
MUHAMMAD FAJAR MARTA