Maroko gagal lengkapi penyelenggaraan Piala Afrika terbaik dengan gelar juara. Senegal tegaskan miliki generasi tim Afrika terbaik dalam empat tahun terakhir.
19 Jan 2026 07:18 WIB · Olahraga
AFP/SEBASTIEN BOZON
RABAT, SENIN — Senegal menggenggam trofi Piala Afrika kedua dengan penuh martabat. Meskipun dinaungi sejumlah keputusan wasit yang tidak memihak, ”Singa Teranga” menunjukkan kualitas apik demi menaklukkan Maroko, tim tuan rumah, 1-0, di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1/2026) dini hari WIB.
Kontroversi terbesar dalam sejarah laga final Piala Afrika tercipta di Rabat. Laga terhenti nyaris 20 menit pada masa tambahan waktu babak kedua. Pemain-pemain Senegal meninggalkan lapangan untuk memprotes dua keputusan kontroversial wasit dalam dua menit berselang.
Senegal sempat mencetak gol melalui sundulan gelandang, Ismaila Sarr, pada menit 90+2. Namun, wasit asal Kongo, Jean-Jacques Ndala, menganulir gol itu karena menganggap ada pelanggaran terhadap pemain Maroko dalam proses gol itu.
Dua menit kemudian, tepatnya 90+4, Ndala menunjuk titik putih akibat adanya tarikan bek Senegal, El Hadji Malick Diouf, kepada penyerang sayap Maroko, Brahim Diaz. Situasi itu meledakkan kekecewaan pemain, ofisial, dan pendukung Senegal.
Sebanyak 11 pemain utama Senegal yang berada di dalam lapangan menuju ruang teknis mereka di sisi lapangan akibat enggan melanjutkan pertandingan. Di sisi lain, suporter tim tamu melempar sejumlah barang, termasuk kursi fotografer, ke dalam lapangan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/19/d2560ff5-2e32-4896-864d-aa07f608f942_jpg.jpg)
Situasi penuh kekecauan itu menyebabkan sejumlah petugas kepolisian Maroko masuk ke sisi lapangan. Mereka berusaha mengantisipasi adanya keributan yang semakin parah untuk suporter tim tamu.
Ketika laga dimulai menunjukkan waktu 90+24, Diaz justru gagal menjalankan eksekusi penalti yang seharga gelar juara Piala Afrika untuk negaranya. Trofi yang mengakhiri dahaga gelar Piala Afrika yang telah berlangsung 50 tahun.
Tembakan penalti dengan gaya panenka yang mengarahkan bola ke sisi tengah lapangan berakhir derita untuk Diaz dan warga Maroko. Bola bisa diantisipasi oleh kiper Senegal, Edouard Mendy.
Situasi tragis menyelimuti Maroko pada masa perpanjangan waktu. Senegal mencetak satu-satunya gol di partai puncak Piala Afrika edisi ke-35 melalui sepakan kaki kiri keras gelandang Pape Gueye, di menit ke-94. Bola menghunjam ke sisi kiri gawang Maroko yang dikawal Yassine Bounou. Itu adalah gol kedua yang bersarang ke gawang Bounou di Piala Afrika 2025.
”Alhamdulillah, kami bisa memenangkan laga final ini. Kemenangan ini tidak hanya untuk kami. Prestasi ini untuk dirayakan oleh seluruh masyarakat Senegal,” ucap Idrissa Gueye, kapten Senegal di laga final itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/19/b009ac41-4685-4269-9ec4-6e5adf7fdf1b_jpg.jpg)
Disinggung tentang aksi keluar lapangan pada pengujung babak kedua, Gueye menyebut bahwa mereka berusaha menenangkan diri dan akhirnya sepakat untuk kembali merumput di tengah situasi tidak menguntungkan.
”Kami menghormati keputusan penalti itu. Wasit telah menggunakan VAR yang tetap tidak memihak kepada kami. Kami senang mereka gagal mencetak gol,” kata Gueye yang berusia 36 tahun sehingga menjadi pemain tertua di partai puncak itu.
Gelar Piala Afrika kedua dalam kurun empat tahun menegaskan generasi terbaik bagi sepak bola Senegal. Kumpulan pemain terbaik Singa Teranga itu dipimpin oleh empat pemain senior yang ikut mempersembahkan Piala Afrika edisi 2021.
Mereka adalah Idrissa Gueye, Sadio Mane, Kalidou Koulibaly, dan Mendy. Satu pemain lain yang tampil pada dua final Piala Afrika itu ialah Ismaila Sarr.
Pada final di Rabat, Koulibaly tidak bermain karena menderita cedera yang dialami pada gim semifinal. Meski begitu, kepemimpinannya tetap hadir dari sisi lapangan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/19/1a4687c1-3875-4498-871a-41a481433be6_jpg.jpg)
Pada prosesi penyerahan trofi juara, Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika Patrice Motsepe dan Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkan trofi Piala Afrika kepada Koulibaly yang berstatus kapten utama Singa Teranga. Namun, bukan pemain klub Arab Saudi, Al Hilal, itu yang mengangkat trofi di depan skuad Senegal.
Ia mengajak tiga pemain senior Senegal lain, yaitu Mane, Gueye, dan Mendy, untuk mengangkat trofi juara bersama. Meski pada akhirnya, Mane didorong oleh tiga rekan setim lainnya untuk mengangkat trofi pertama kali ke udara yang dibarengi dengan tembakan konfeti.
”Kami bermain dengan hati, hasrat, dan rasa lapar yang besar untuk menang. Kami bangga bisa memenangkan trofi ini,” tutur Pape Gueye yang dinobatkan sebagai pemain terbaik di laga final itu.
Duel di Rabat berlangsung sangat sengit. Kedua tim berbagi durasi penguasaan bola yang seimbang. Serangan besar silih berganti dikreasi dua tim Afrika dengan peringkat terbaik di ranking FIFA terkini. Senegal di posisi ke-19, sedangkan Maroko ada di posisi ke-11.
Walaupun menghasilkan tembakan lebih sedikit dengan 14 percobaan, Singa Teranga menciptakan tujuh tembakan tepat sasaran. Adapun Maroko mengkreasi hanya tiga tembakan mengarah ke gawang dari 20 tembakan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/19/cf32127e-9389-4232-90b8-f5d32f484f92_jpg.jpg)
Kiper dua tim sama-sama tampil luar biasa. Mendy catatkan tiga penyelamatan, termasuk tangkapan dari penalti Diaz yang amat krusial bagi kemenangan timnya. Bounou melakukan enam penyelamatan yang berbuah trofi hiburan, yakni Kiper Terbaik Turnamen.
Satu lagi gelar individu untuk mengangkat sedikit lara Maroko, tim ”Singa Atlas”, hadir berkat gelar Sepatu Emas atau Pencetak Gol Terbanyak untuk Diaz dengan koleksi lima gol.
”Kami telah memberikan segalanya untuk menang. Sayangnya, kami melewatkan peluang penalti. Namun, saya pastikan kami akan kembali lebih kuat,” kata Pelatih Maroko Walid Regragui yang memeluk satu per satu pemainnya setelah peluit panjang laga. (AFP/AP)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra