”Kompas” temukan bukti adanya kekeliruan penyematan gelar kejuaraan PSSI 1943. PSIM Yogyakarta berhak dicatat sebagai juara pamungkas sebelum bangsa merdeka.
27 Feb 2025 12:13 WIB · Olahraga
PSIM atau Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram adalah salah satu tim tertua di Indonesia. Berdiri sejak 5 September 1929, PSIM yang awalnya bernama PSM (Persatuan Sepakraga Mataram) adalah salah satu dari tujuh pendiri PSSI pada 19 April 1930.
Peran PSIM dalam kehadiran organisasi sepak bola bumiputra tidak bisa dianggap sebelah mata. Yogyakarta adalah lokasi pertemuan tujuh klub itu bersama tiga pengurus utama perdana PSSI, yaitu Soeration Sosrosoegondo (ketua umum), Amir Notopratomo (sekretaris), dan Anwar bin Noto (bendahara).
Namun, sumbangan besar PSIM terhadap berdirinya PSSI tidak sejalan dengan prestasi mereka di lapangan hijau. PSIM memang tercatat sebagai kampiun edisi kedua Kejuaraan Nasional PSSI pada 1932. Mereka mengalahkan VIJ (Jakarta) dan PSM (Madiun) untuk menyabet gelar juara pertama dalam sejarah klub.
Pada 10 edisi perdana Kejuaraan PSSI itu, PSIM mencatatkan tiga kali duduk di peringkat kedua. Capaian itu tercipta pada 1931, 1939, dan 1940.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/8163e36b9b410def4105a0d991269ddb-antarafoto_final_liga_2_psim_yogyakarta_juara_liga_2_1740632129.jpg)
Setelah Indonesia merdeka, prestasi seakan menjauh dari nasib PSIM. Kesempatan perdana PSIM merengkuh trofi juara baru tercipta di pengujung abad ke-21. Kala itu, PSIM bertarung dengan Persikota Tangerang untuk memperebutkan gelar juara Divisi Satu—sekarang Liga 2—edisi 1996-1997.
Sayang, ambisi PSIM meraih gelar juara pertama setelah bangsa ini merdeka pupus. “Laskar Mataram” tumbang 1-3 di kandang sendiri, Stadion Mandala Krida, DI Yogyakarta. Tiga gol Persikota yang dicetak Ali Shaha dan dua gol dari Francis Yonga hanya mampu dibalas lewat eksekusi penalti Bambang Sumantri.
Harapan PSIM untuk mengangkat trofi baru bersambut di Divisi Satu musim 2005. Setelah kembali terdegradasi ke Divisi Satu dari Divisi Utama 1999-2000, PSIM meraih tiket promosi lima tahun berselang.
Capaian itu pun dilengkapi dengan predikat juara Divisi Satu. Laskar Mataram menumbangkan Persiwa Wamena 2-1 pada duel perebutan juara kompetisi kasta kedua di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Jawa Barat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/1c23f64d34e8ffa48ed205b8ddbc318c-FC_07097_IV_36_DNY016.JPG)
Merujuk catatan klub dan data resmi PSSI, gelar Divisi Satu 2005 adalah trofi kedua yang diraih PSIM dalam historis eksistensi klub. PSIM setidaknya menjadi salah satu tim Indonesia yang pernah meraih trofi dalam dua abad berbeda, yakni abad ke-20 dan ke-21.
Dengan meraih gelar juara Pegadaian Liga 2 2024-2025, maka itu menjadi gelar kedua PSIM setelah pergantian milenium. Meskipun hanya meraih trofi di kompetisi kasta kedua nasional, prestasi itu tetap tercatat dalam riwayat kompetisi resmi Tanah Air dan, tentunya, dalam rekam jejak keberadaan klub.
Namun, jika mengulik lebih jauh sejarah kompetisi nasional, terutama pada era Kejuaraan Nasional PSSI pada periode 1931-1943 masih ada catatan yang patut diragukan. Dalam catatan RSSSF (Rec Sport Soccer Statistics Foundation), kompetisi edisi 1941, 1942, dan 1943 tidak dilengkapi hasil-hasil pertandingan.
Catatan RSSSF itu pun menjadi patokan bagi PSSI dan PSIM sendiri untuk menghitung perjalanan mereka di kejuaraan sebelum Indonesia merdeka. Pada edisi 1941 dan 1942, PSIM tidak mengikuti kompetisi babak nasional. Mereka baru tercatat berkompetisi di ajang nasional pada 1943.
Edisi 1943 merupakan musim pamungkas kompetisi PSSI sebelum Indonesia merdeka. Berbeda dengan kompetisi periode 1931 hingga 1942 yang masih dalam bayang-bayang kekuasaan Hindia Belanda, pada 1943, kegiatan politik, ekonomi, sosial, dan budaya berada di bawah kendali Jepang, termasuk kegiatan olahraga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/e64a830c985c2f2e909f0aef229e2e7d-BW_00023668_13_ROS002.JPG)
RSSSF mencatat bahwa Kejuaraan PSSI 1943 dimenangkan oleh Persis Solo. Hal itu membuat Persis meraih trofi PSSI ketujuh, yang lima di antaranya pada 1939, 1940, 1941, 1942, dan 1943, dicapai secara beruntun. Laman Persis juga mencantumkan gelar juara pada Kejuaraan PSSI 1943.
Namun, PSSI seharusnya menganulir gelar ketujuh Persis itu, lalu memberikan predikat juara Kejuaraan edisi 1943 kepada rival mereka, yakni PSIM.
Menurut laporan koran Asia Raya edisi 17 Februari 1943, PSIM dipastikan meraih gelar juara Kejuaraan PSSI 1943, walaupun pada pertandingan pamungkas dikalahkan rival abadi, Persis, 2-3.
Hasil laga terakhir Kejuaraan 1943 itu yang justru menjadi rujukan sejumlah pihak, termasuk PSSI, untuk menyebut kampiun Kejuaraan PSSI 1943 adalah Persis.
Padahal, sesungguhnya, hasil kekalahan dari Persis tidak menggoyahkan PSIM di puncak klasemen. Mereka menjalani tiga laga dengan koleksi poin akhir, yaitu empat poin. Perolehan poin itu diraih berkat mengalahkan Persibaja Surabaja dan Persipo Poerwakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/11db625f6d24dbf98c158d7104a5f622-WhatsApp_Image_2025_02_27_at_10.38.14_AM.jpeg)
Kala itu, kemenangan bermakna dua poin. Adapun seri dapat satu poin dan kekalahan artinya tanpa poin yang serupa dengan aturan berlaku saat ini.
Pada Kejuaraan PSSI terakhir sebelum Indonesia merdeka, empat tim berpartisipasi. Mereka adalah PSIM, Persis, Persibaja, dan Persipo.
Pertandingan kejuaraan dilangsungkan di Alun-alun Utara, Yogyakarta. PSIM memuncaki klasemen sekaligus menjadi juara, lalu dibuntuti Persis dan Persibaja yang sama-sama mengoleksi tiga poin. Persipo berada di juru kunci dengan perolehan dua poin.
Jadi, berpegang arsip Asia Raya itu, maka PSIM seharusnya tidak ragu mencantumkan trofi Liga 2 2024-2025 sebagai gelar juara keempat mereka. PSIM sudah empat kali kampiun, bukan tiga.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .