Memenangi Piala Super Spanyol mendekatkan Barcelona pada kejayaan di kancah domestik musim ini. Hansi Flick menegaskan diri sebagai pelatih spesialis final.
12 Jan 2026 07:29 WIB · Olahraga
AFP/FADEL SENNA
JEDDAH, SENIN — Sekeras apa pun Real Madrid berusaha, mereka pada akhirnya tidak mampu menggagalkan jalan juara Barcelona. Dua kali berhasil menyamakan kedudukan, Real tetap harus mengakui keunggulan Barca, 3-2, dalam final Piala Super Spanyol. Trofi Piala Super tiada ubahnya sinyal awal kejayaan Barca di Spanyol musim ini.
Real merupakan satu-satunya rival terberat yang paling mungkin menjegal langkah Barca. Di Liga Spanyol, Real terus membayang-bayangi Barca yang saat ini memimpin klasemen. Kedua tim memiliki kualitas materi pemain yang hampir setara. Mengalahkan Real di Piala Super menjadi semacam penegasan bahwa Barca adalah tim terbaik di Spanyol setidaknya hingga paruh musim.
Sinyal awal kejayaan Barca musim ini turut didukung catatan sejarah. Sejak format empat tim berlaku, ada semacam kecenderungan di Piala Super Spanyol. Tim yang keluar sebagai juara punya kemungkinan lebih dari 90 persen turut menjuarai Liga Spanyol. Piala Super berformat empat tim sudah enam kali terselenggara.
Dari enam kesempatan itu, hanya satu kali juara Piala Super gagal menjuarai Liga Spanyol. Momen itu terjadi saat Athletic Bilbao menjadi juara pada 2021. Selebihnya, Real dan Barca silih berganti memenangi liga setelah juga menjuarai Piala Super. Hal ini dapat dimengerti lantaran raihan trofi pada pertengahan musim sangat ampuh sebagai bahan bakar tim mengamankan gelar liga atau double winner. Kemenangan di Piala Super tentu bisa mengangkat moral dan motivasi pemain Barca untuk terus menjauh dari kejaran Real.
”Semoga ini tidak jadi gelar terakhir musim ini. Kami sedang dalam performa luar biasa. Memenangi Piala Super memberikan motivasi besar bagi kami,” ujar gelandang Barca, Pedri, seusai final di Stadion Kota Olahraga Raja Abdullah, Jeddah, Arab Saudi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/12/eece2836-ada8-48f3-a2d7-c5917621656f_jpg.jpg)
Di sisi lain, Pelatih Real Xabi Alonso gagal mengulangi debut manisnya pada el clasico di awal musim ini. Kala itu, Real mampu mengatasi Barca dengan skor tipis 2-1. Namun, kemenangan itu diraih saat Barca tidak didampingi Hansi Flick dari tepi lapangan karena akumulasi kartu. Kali ini Flick memimpin serta memberikan arahan langsung kepada para pemainnya.
Pelatih asal Jerman itu pun akan dikenang sebagai spesialis final. Sepanjang karier kepelatihannya, Flick tercatat sudah delapan kali memimpin tim di final dan semuanya berakhir dengan kemenangan. Dengan ini, Flick pun sukses mempertahankan gelar Piala Super. Pelatih Barca terakhir yang mampu memenangi Piala Super dua kali beruntun ialah Pep Guardiola.
Kekalahan dari Barca tidak ayal membuat posisi Alonso di Real makin terancam. Menjelang laga beredar luas kabar yang menyebut hasil pada Piala Super akan jadi ”ujian akhir” bagi Alonso. Trofi Piala Super sudah pasti akan menambah keyakinan jajaran petinggi klub terhadap pelatih asal negara bagian Basque tersebut. Di sisi lain, kegagalan sudah pasti membuat kemampuan Alonso kian diragukan.
Gaya bermain menyerang yang atraktis seperti saat menangani Bayer Leverkusen tidak mampu diterapkan Alonso di Real. Pada laga final ini, Real justru bertahan cukup dalam demi meladeni permainan agresif Barca. Cara bermain seperti ini jelas melenceng jauh dari karakter Real yang identik dengan sepak bola menyerang.
Sejak laga dimulai, Barca mengambil inisiatif menyerang menggunakan garis pertahanan tinggi yang jadi ciri khas mereka di era kepelatihan Flick. Para pemain Barca berusaha mempersempit ruang gerak pemain Real. Mereka nyaris tidak membiarkan para pemain Real bisa dengan leluasa berpikir menentukan arah serangan. Upaya serangan yang dibangun Real acapkali sudah bisa dimentahkan di area permainan mereka sendiri. Hasilnya, Raphinha sukses membuka keunggulan berkat tembakan dari jarak dekat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/12/4df9a20e-8b19-4b4c-a296-16423d49d371_jpg.jpg)
”Tim berupaya keras. Kami tahu akan menderita tanpa penguasaan bola. Kami punya serangan balik yang berbahaya. Saat skor 3-2, saya sangat yakin kami punya kesempatan menyamakan kedudukan. Kami melakukannya, tapi kurang akurat,” kata Alonso.
Puncak drama el clasico baru muncul pada masa tambahan waktu babak pertama. Pada rentang waktu ini tercipta tiga gol. Vinicius Junior sukses mencetak gol balasan berkat kepiawaian Gonzalo Garcia melepaskan diri dari tekanan lawan. Setelah Garcia menyerahkan bola, gol Vinicius sepenuhnya bersandar pada kemampuan individu. Pemain timnas Brasil tersebut melewati pengawalan Jules Kounde. Meski dikepung tiga pemain di dalam kotak penalti, Vinicius tetap bisa melepaskan tembakan jarak dekat yang gagal dibendung Joan Garcia.
Penyerang Barca Robert Lewandowski menghentikan euforia para pemain Real berkat golnya hanya beberapa menit berselang. Lewy, sapaan Lewandowski, dengan tenang mencungkil bola setelah menerima umpan matang Pedri dari lini tengah. Gol Lewy kemudian dibalas Real lewat sepakan Garcia yang memanfaatkan kemelut dari skema tendangan sudut.
Bermain imbang pada babak pertama, Barca akhirnya berhasil kembali unggul di babak kedua melalui sepakan Raphinha yang membentur Raul Asencio. Thibaut Courtois telanjur salah langkah lantaran arah bola berubah.
Laga berjalan kian sengit setelah kapten Barca, Frenkie de Jong, mendapat kartu merah akibat menerjang Kylian Mbappe. Unggul jumlah pemain, Real mendapat dua peluang emas yang berpotensi jadi gol penyeimbang. Salah satunya datang dari Carreras yang menembak dari dalam kotak penalti. Namun, tembakannya terlalu pelan dan mengarah tepat ke dekapan Joan Garcia.
Meski kalah, kans Real merebut trofi musim ini masih ada. ”Los Blancos” berpeluang memenangi Liga Spanyol, Piala Raja Spanyol, dan Liga Champions Eropa. Peluang itu akan kembali lenyap seperti final Piala Super jika tidak ada impovisasi berarti dari Alonso dan manajamen Real untuk memperkuat tim hingga akhir musim. (AFP)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto