Trump: Amerika Telah Kembali

Sejumlah kebijakan yang diambil Donald Trump diyakininya bisa mendorong AS kembali sebagai negara adidaya.

05 Mar 2025 18:34 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

WASHINGTON, RABU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji, semua program kerjanya akan diwujudkan dengan sangat cepat. Ia menegaskan, tidak akan berhenti sampai semua keinginannya terwujud. Semua itu dilakukan demi mewujudkan mimpinya, menjadikan Amerika Serikat kembali digdaya dan disegani oleh semua pihak.

Keinginan dan tekad ini disampaikan Trump saat berpidato di Gedung Capitol, Washington, AS, Selasa (4/3/2025). Pidato ini disampaikan Trump di ruangan yang sama yang digunakan oleh ratusan anggota legislatif AS—termasuk dari Partai Republik—untuk berlindung dari serangan para pendukung Trump, 6 Januari empat tahun lalu, saat menolak pengesahan kemenangan Joe Biden pada pemilihan umum 2020.

”Saya kembali ke ruang sidang ini malam ini untuk melaporkan bahwa momentum Amerika telah kembali. Semangat kita telah kembali. Kebanggaan kita telah kembali. Kepercayaan diri kita telah kembali. Dan impian Amerika sedang bangkit—lebih besar dan lebih baik dari sebelumnya. Impian Amerika tidak dapat dihentikan dan negara kita berada di ambang kebangkitan yang belum pernah disaksikan dunia sebelumnya, dan mungkin tidak akan pernah disaksikan lagi. Tidak pernah seperti ini sebelumnya,” kata Trump.

Pidato Trump yang berlangsung hampir 100 menit disampaikan setelah berbagai kebijakan kontroversial dimulainya tidak lama setelah menjabat. Kebijakan kontroversial itu, di antaranya, adalah rencana pengosongan dan pengusiran rakyat Palestina dari Jalur Gaza, pengusiran hampir 10.000 imigran dari wilayah AS, penghentian perang Ukraina-Rusia yang tidak melibatkan Pemerintah Ukraina, hingga perang tarif dengan mitra dagang utamanya, yakni China, Meksiko, dan Kanada. Selain perang tarif, kebijakan terakhir Trump untuk menghentikan semua bantuan militer untuk Ukraina telah membuat relasinya dengan Ukraina serta negara-negara Eropa pendukung Ukraina menjadi tegang.

Dalam pidatonya Trump memuji upaya Elon Musk yang dipercayai memimpin Departemen Efisiensi Pemeirntah (DOGE) untuk mengurangi anggaran yang dianggapnya sebagai beban, termasuk didalamnya menutup USAID, mengurangi jumlah pegawai federal hingga sekitar 100.000 orang. Trump menyebut tindakan Musk melakukan efisiensi tidak lain sebagai tindakan mengungkap penipuan ratusan miliar dollar AS, sebuah upaya yang dipandangnya sebagai upaya untuk merebut kembali demokrasi dari birokrasi yang tidak bertanggung jawab. Bagi para pekerja federal yang tidak sejalan dengan agenda pemerintahannya, pemecatan menjadi pilihan.

Trump menyampaikan pidatonya dengan semangat setelah melalui era yang disebutnya sebagai ”pelecehan atau witch hunt” yang dilakukan oleh Partai Demokrat dan pemerintahan Joe Biden-Kamala Harris. Trump menyatakan, salah satu prioritas tertingginya adalah untuk menyelamatkan perekonomian AS, termasuk kebijakan menaikkan tarif bea masuk bagi barang impor seperti yang dilakukan terhadap barang asal China, Kanada, dan Meksiko.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance (kiri belakang) dan Ketua DPR AS Mike Johnson (kanan belakang) memberikan tepuk tangan ketika Presiden AS Donald Trump (depan) memberikan pidatonya di Gedung Capitol, Washington, Selasa (4/3/2025).

”Negara-negara lain telah menggunakan tarif terhadap kita selama beberapa dekade dan sekarang giliran kita untuk mulai menggunakannya terhadap negara-negara lain tersebut,” katanya.

Pada saat yang sama, ia mencoba meredakan kekhawatiran tentang potensi kenaikan harga yang diakibatkan perang dagang AS dengan ketiga negara itu dengan mengatakan, ”Akan ada sedikit gangguan, tetapi kita baik-baik saja dengan itu. Tidak akan banyak.”

Di atas podium, Trump juga menyampaikan kembali keinginannya untuk mendorong perdamaian di Ukraina dan Timur Tengah melalui serangkaian kebijakan, yang dalam pandangan banyak pihak, membalikkan sikap serta kebijakan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Dalam kasus Ukraina, sikap Trump yang dikesankan memahami keputusan Kremlin untuk menginvasi Ukraina bertentangan dengan sikap sekutunya, negara-negara Uni Eropa, NATO, sekaligus menempatkan posisi Ukraina sebagai pesakitan.

Trump tampaknya menyalahkan Ukraina karena memicu dimulainya perang. Sikap itu berbeda dari sikap umumnya warga AS. Jajak pendapat Reuters/Ipsos terakhir memperlihatkan 70 persen orang Amerika—termasuk dua pertiga adalah pendukung atau simpatisan Partai Republik—mengatakan Rusia lebih patut dipersalahkan.

Meski begitu, Trump kukuh dengan sikapnya. ”Kami telah melakukan diskusi serius dengan Rusia dan telah menerima sinyal kuat bahwa mereka siap untuk perdamaian,” kata Trump. ”Bukankah itu indah?”

Untuk Timur Tengah, Trump mengulangi janjinya mendorong perdamaian di kawasan itu, termasuk memperluas negara penandatangan Perjanjian Abraham. Meski begitu, dia tidak menjelaskan lebih jauh rencananya tentang perdamaian di Timur Tengah.

Protes Demokrat

Hampir setiap pernyataan yang disampaikan Trump mendapat tepuk tangan meriah dari anggota Partai Republik. Namun, pada saat yang sama protes juga bermunculan dari anggota legislatif Partai Demokrat.

Seorang anggota kongres Demokrat, Al Green, terpaksa digiring keluar ruangan karena menolak berhenti memprotes kebijakan-kebijakan yang diterapkan Trump. Anggota Demokrat lainnya mengangkat plakat bertuliskan ”Palsu”, ”Musk mencuri”, dan ”Itu bohong!”.

US President Donald Trump and Ukraine's President Volodymyr Zelensky meet in the Oval Office of the White House in Washington, DC, February 28, 2025. Zelensky on February 28 told Trump there should be "no compromises" with Russian President Vladimir Putin as the parties negotiate to end the war after Moscow's invasion. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Dan pada suatu saat, banyak anggota Demokrat meneriakkan ”6 Januari!” kepada Trump, merujuk pada serangan pendukungnya di Capitol pada tahun 2021. Mereka menolak mengakui kekalahan Trump dalam pemilihan umum kala itu.

Trump bergeming dan membalas setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh anggota Partai Demokrat dengan cemoohan. ”Saya melihat para Demokrat di depan saya, dan saya menyadari tidak ada yang dapat saya katakan untuk membuat mereka senang atau membuat mereka berdiri atau tersenyum atau bertepuk tangan,” kata Trump.

Para anggota parlemen dari Fraksi Demokrat memilih memberikan komentar seusai Trump berpidato.

”Sebagai anak muda yang lahir di era Perang Dingin, saya bersyukur atas Reagan dan bukan Trump yang berkuasa pada tahun 1980-an. Trump akan membuat kita kalah dalam Perang Dingin,” kata Elissa Slotkin, senator AS yang juga merupakan mantan analis CIA. ”Tindakan Donald Trump menunjukkan bahwa dalam hatinya, dia tidak percaya kita adalah negara yang luar biasa.”

Ketegangan antara Demokrat dan Republik sudah dimulai saat Trump memasuki ruangan. Ketegangan dimulai ketika Trump melewati senator Demokrat Melanie Stansbury, anggota kongres asal New Mexico itu mengangkat selembar kertas bertuliskan ”Ini tidak normal”. Seorang politisi Republik merampas kertas itu dari tangannya.

Sebaliknya, Marjorie Taylor Greene, politisi pendukung Trump dan kelompok sayap kanan, mengenakan topi merah bertuliskan, ”Trump benar tentang segalanya”. Tindakan Greene mengenakan topi melanggar larangan penutup kepala yang diperkenalkan hampir dua abad lalu.

Pernyataan Trump yang menyebut Biden sebagai presiden AS terburuk sepanjang sejarah juga menyulut kemarahan Demokrat. Beberapa di antara mereka mengecam hal itu sebagai sebuah kebohongan.

Beberapa politisi Demokrat di DPR AS bahkan meninggalkan ruang sidang sebelum Trump melangkah maju. Jasmine Crockett, legislator Demokrat asal Texas, melepas jaketnya, memperlihatkan kaus bertuliskan kata ”Resist”. Sikap itu menunjukkan bahwa Demokrat akan melawan seluruh kebijakan Trump di sepanjang masa pemerintahannya. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H