Trump Ancam Tarif 100 Persen Lagi untuk China, Enggan Bertemu Xi Jinping

Trump kembali menabuh genderang perang tarif setelah Pemerintah China mengumumkan memperketat ekspor unsur tanah jarang.

11 Okt 2025 10:45 WIB · Internasional

Oleh Irene Sarwindaningrum

WASHINGTON, SABTU — Perang dagang Amerika Serikat-China kembali memanas setelah China memperketat ekspor elemen tanah jarang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi dengan rencana memberlakukan tarif tambahan 100 persen. Ia juga mengancam akan membatalkan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping.

Kantor berita Reuters, Sabtu (11/10/2025), melaporkan, Trump berencana memberlakuan tarif 100 persen terhadap semua impor asal China mulai 1 November 2025 atau lebih cepat. Ia menyebut langkah itu balasan terhadap kebijakan ekspor baru Beijing yang memperketat pengiriman unsur tanah jarang ke luar negeri.

”Mulai 1 November 2025, atau lebih cepat, tergantung langkah China selanjutnya, AS akan memberlakukan tarif 100 persen di atas tarif yang sudah ada,” kata Trump dalam unggahan di media sosial Truth Social, Jumat waktu setempat.

(FILES) US President Donald Trump holds a chart as he delivers remarks on reciprocal tariffs during an event in the Rose Garden entitled "Make America Wealthy Again" at the White House in Washington, DC, on April 2, 2025. A US federal court on May 28 blocked Donald Trump's "Liberation Day" import tariffs from going into effect, ruling that the president had overstepped his authority with the across-the-board levies. Trump unveiled sweeping tariffs on most trading partners on April 2, with a baseline 10 percent, plus steeper duties on China and the European Union. (Photo by Brendan SMIALOWSKI / AFP)

Trump juga mengancam menerapkan pengendalian ekspor terhadap semua perangkat lunak penting buatan AS. Menurut dia, tindakan China sangat agresif. ”China telah mengambil langkah yang luar biasa agresif. Sulit dipercaya China akan melakukan hal semacam ini,” tulisnya.

Ketegangan baru ini terjadi setelah enam bulan hubungan AS-China membaik. Bulan lalu, China-AS mencapai kesepakatan pengendalian operasi Tiktok di AS. Trump menilai langkah tersebut upaya menyandera dunia. ”Tidak seharusnya China dibiarkan menahan dunia sebagai tawanan,” ujarnya.

Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Associated Press terkait dengan ancaman tarif baru Trump. Sehari sebelumnya, Pemerintah China mengumumkan aturan baru yang mewajibkan izin khusus bagi perusahaan asing untuk mengekspor unsur tanah jarang.

Mereka juga mengumumkan larangan ekspor produk dan teknologi terkait yang digunakan untuk kepentingan militer. Beijing memberlakukan persyaratan lisensi pada penambangan, peleburan, dan daur ulang unsur-unsur strategis itu.

Pemerintah China menegaskan, kebijakan itu langkah sah yang sejalan dengan hukum nasional serta praktik internasional. Juru bicara Kementerian Perdagangan China dalam konferensi pers di Beijing menyatakan, unsur tanah jarang memiliki sifat ganda, digunakan baik untuk kepentingan militer maupun sipil.

”Menerapkan kontrol ekspor terhadapnya adalah praktik internasional yang lazim,” ujar juru bicara itu sebagaimana dikutip kantor berita China, Xinhua, Kamis (9/10/2025).

Langkah itu disebutkan bukan bentuk pembalasan, melainkan upaya menjaga keamanan nasional. Kebijakan ini juga untuk memastikan penggunaan yang bertanggung jawab atas sumber daya strategis.

TOPSHOT - Containers are seen at the port in Nanjing, in China’s eastern Jiangsu province on February 5, 2025. Global equities have been hit by volatility this week after US President Donald Trump announced hefty tariffs on China, Canada and Mexico. (Photo by AFP) / China OUT

Kementerian Perdagangan China menyebutkan, kebijakan baru itu ditetapkan melalui Pengumuman Nomor 61 Tahun 2025, yang disahkan oleh Dewan Negara China. Regulasi itu memperluas pengawasan terhadap ekspor produk dan teknologi yang mengandung komponen tanah jarang asal China, termasuk yang diproduksi di luar negeri.

”Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China menerapkan pengawasan terhadap unsur tanah jarang guna menjaga perdamaian dunia dan stabilitas regional, sekaligus berpartisipasi aktif dalam upaya nonproliferasi internasional,” demikian pernyataan dari situs resmi kementerian.

Kementerian Perdagangan China juga menegaskan, cakupan item yang dikontrol bersifat terbatas. Pemerintah China tetap membuka ruang izin ekspor bagi perusahaan yang mematuhi ketentuan hukum. Untuk kegiatan yang bersifat kemanusiaan, permohonan izin ekspor akan dikecualikan dari proses regulasi. Alasan kemanusiaan yang dimaksud, antara lain pengiriman bantuan medis, penanganan darurat kesehatan publik, atau bencana alam.

”China siap memperkuat dialog bilateral dan multilateral mengenai kontrol ekspor, mempromosikan perdagangan yang patuh regulasi, serta menjaga stabilitas rantai pasok industri global,” demikian disebutkan dalam pernyataan resmi.

Quote

China siap memperkuat dialog bilateral dan multilateral mengenai kontrol ekspor, mempromosikan perdagangan yang patuh regulasi, serta menjaga stabilitas rantai pasok industri global.

China menguasai sekitar 70 persen produksi tambang unsur tanah jarang dunia serta 93 persen produksi magnet permanen yang dihasilkan dari bahan tersebut. Unsur tanah jarang merupakan komponen penting bagi telepon pintar, kendaraan listrik, perangkat militer, hingga teknologi energi terbarukan.

Data dari Bea Cukai China menunjukkan, ekspor unsur tanah jarang pada 2024 mencapai 55.431 metrik ton, naik sekitar 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk periode Januari–Mei 2025, volume ekspor mencapai 24.827 ton, meningkat dari 24.266 ton pada periode yang sama tahun 2024. Hingga Juli 2025, total ekspor kumulatif tercatat 38.563 ton, atau naik sekitar 13 persen dibandingkan tahun lalu.

Ancam pertemuan

Seiring kemarahan Trump, ia mengancam membatalkan pertemuannya dengan Xi. Pertemuan itu dijadwalkan berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (KTT APEC) di Korea Selatan pada akhir Oktober 2025. Pertemuan itu digadang-gadang sebagai pertemuan pertama mereka berdua sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025.

”Saya dijadwalkan bertemu Presiden Xi dalam dua minggu di APEC, tetapi sekarang tampaknya tidak ada alasan untuk melakukannya,” tulis Trump di Truth Social.

Namun, kemudian, ia mengatakan, rencana pertemuan itu belum dibatalkan sepenuhnya. ”Saya belum membatalkan, tetapi saya tidak tahu apakah itu akan terjadi. Saya tetap akan ke sana, jadi mungkin saja kami bertemu,” ujarnya di Ruang Oval Gedung Putih.

(FILES) In this file photo taken on November 9, 2017 shows US President Donald Trump (L) and China's President Xi Jinping leaving a business leaders event at the Great Hall of the People in Beijing. - President Donald Trump on September 18, 2018 accused China of seeking to influence upcoming US elections by taking aim at his political support base in the countries' escalating trade war. "China has openly stated that they are actively trying to impact and change our election by attacking our farmers, ranchers and industrial workers because of their loyalty to me," Trump tweeted.Trump's comments came a day after he targeted another $200 billion in Chinese imports with tariffs starting next week, drawing an immediate vow of retaliation from Beijing. AFP/NICOLAS ASFOURI

Tak hanya pembatasan ekspor, China mengumumkan pengenaan biaya pelabuhan khusus untuk kapal yang dioperasikan dan dibangun oleh perusahaan AS. Biaya pelabuhan diumumkan, Kamis (9/10/2025), sehari setelah pengumuman tanah jarang. Langkah itu balasan terhadap kebijakan Washington pada April lalu yang menambah biaya pelabuhan bagi kapal terkait China.

Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) menyatakan telah menghapus jutaan daftar produk terlarang asal China dari berbagai pelantar pasar daring. ”Partai Komunis China sedang melakukan upaya multi-arah untuk memasukkan perangkat tidak aman ke rumah dan bisnis warga Amerika,” kata Brendan Carr, Ketua FCC, di X.

Guncang pasar

Ketegangan baru China-AS mengguncang pasar keuangan global. Indeks Nasdaq turun 3,6 persen dan S&P 500 turun 2,7 persen. Penurunan ini yang terburuk sejak Trump terakhir kali mengancam tarif besar terhadap China, April lalu.

Para ahli memperingatkan, peningkatan tarif dari 30 persen menjadi 100 persen terhadap produk China berpotensi menghentikan arus perdagangan di antara kedua negara dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

Tarif China terhadap produk AS saat ini berada pada kisaran 10 persen. Tarif ini balasan terhadap kebijakan tarif Washington sebelumnya, termasuk tuduhan bahwa Beijing mendukung perdagangan fentanil dan praktik dagang yang dianggap tidak adil.

People walk in the Chinatown neighborhood of Manhattan, New York, on April 13, 2025. China said on April 11, it would raise its tariffs on US goods to 125 percent in a further escalation of a trade war that threatens to bring exports to a halt between the world's two biggest economies. Beijing's retaliation sparked fresh market volatility, with stocks seesawing, gold prices surging and US government bonds under pressure. (Photo by CHARLY TRIBALLEAU / AFP)

Pejabat Departemen Perdagangan AS menolak mengomentari potensi dampak inflasi dari kebijakan baru itu. Sebab, katanya, rencana tarif masih dalam tahap peninjauan lintas lembaga.

Direktur Program China di Stimson Center, Sun Yun, mengatakan, kebijakan ekspor Beijing merupakan reaksi yang tidak proporsional. ”Namun, Beijing masih membuka ruang deeskalasi jika Washington juga menahan diri,” ujarnya.

Gracelin Baskaran dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai, dominasi China atas rantai pasok unsur tanah jarang memberi daya tawar sangat besar dalam negosiasi dagang. ”Kebijakan ini jelas melemahkan kemampuan AS membangun basis industrinya dan menjadi alat tawar yang kuat,” katanya.

Craig Singleton, analis di Foundation for Defense of Democracies (FDD), memperingatkan, ancaman Trump bisa menandai akhir dari gencatan tarif di antara kedua negara. ”Kedua pihak kini menyiapkan senjata ekonomi mereka, dan tidak ada yang tampak ingin mundur,” katanya. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji