Trump dan Paus Leo XIV dipandang sebagai dua Amerika terkuat di bumi. Namun, mereka memimpin dalam peran dan ranah yang berbeda.
14 Mei 2025 10:09 WIB · Foto
Sebuah tulisan yang dirilis Associated Press ini menggelitik perasaan dan imajinasi kita.
”Trump dan Paus Leo kini menjadi orang Amerika paling berkuasa di Bumi. Mereka memimpin dalam peran dan ranah yang berbeda.”
Imajinasi langsung mengarah ke sosok Trump yang selalu berapi-api hampir dalam segala hal, tetapi mendadak tenang dan kalem ketika membayangkan sosok Paus Leo XIV.
Benar-benar berbeda, kalau kata kontras dianggap kurang pas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/14/0bb3234b-ddc7-47ba-85db-fa0c20ff924f_jpg.jpg)
Terpilihnya Paus Leo XIV, Paus kelahiran AS pertama, untuk memimpin 1,4 miliar umat Katolik di dunia dapat diartikan bahwa dua orang ”paling berkuasa” di planet ini adalah orang Amerika. Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang pengaruh Amerika pada saat perang tarif Trump dan ancaman ”satu arah atau yang lain”.
Prospek terlalu besarnya kekuatan Amerika dalam geopolitik secara luas dianggap sebagai salah satu alasan mengapa Gereja Katolik tidak memilih seorang Amerika untuk menjadi paus sepanjang sejarah negara yang hampir 250 tahun itu. Hingga, mantan Kardinal Robert F Prevost dari Chicago—Paus Leo XIV—dipilih minggu lalu untuk menjadi paus ke-267.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/14/29d580d8-6c4c-49e7-b488-b9b22d600b70_jpg.jpg)
”Ironi dari pemilihan Leo adalah bahwa banyak orang di seluruh dunia akan melihatnya sebagai tanda harapan, sebagai seorang Amerika yang dapat berbicara untuk mereka daripada bertindak melawan mereka,” kata David Gibson, Direktur Pusat Agama dan Budaya Universitas Fordham.
Paus Leo XIV adalah jenis orang Amerika yang lain di panggung dunia. Kejutan dan kegembiraan atas pemilihan kardinal yang tadinya tidak begitu dikenal itu segera beralih menjadi diskusi yang kuat tentang bagaimana puncak tatanan kekuasaan global dapat diisi oleh dua orang Amerika.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/14/947fafbe-6c62-4928-9766-4ae12519d3ac_jpg.jpg)
Trump dikenal tidak suka berbagi perhatian atau keutamaan sebagaimana pendekatan kebijakan luar negerinya yang ”mengutamakan Amerika”. Umat Katolik Amerika memilih Trump daripada saingannya dari Partai Demokrat, Kamala Harris.
Dalam satu kesempatan, Trump mengunggah gambar dirinya yang dibuat dengan AI saat berpakaian seperti paus selama hari-hari berkabung untuk Paus Fransiskus, yang meninggal pada tanggal 21 April. Tindakan tersebut tidak disukai umat Katolik dan Italia. Trump membantah telah mengunggah gambar tersebut dan mengatakan siapa pun yang tersinggung ”tidak bisa menerima lelucon”. Ia bersikeras umat Katolik menyukainya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/14/a7ca6955-e502-474f-bb31-2af3130b26a3_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/14/53f6ad13-8993-45a5-a625-1b560bc62d5d_jpg.jpg)
Sementara itu, Paus Leo dalam beberapa hal juga seorang politikus, dengan sikap tenang dan pendekatan berbicara kepada sesama kardinal dalam kelompok-kelompok kecil sebelum konklaf, kata mereka. Meskipun ia lahir di Chicago, Leo, yang saat itu bernama Prevost, menghabiskan dua dekade sebagai misionaris di Peru sebelum ditunjuk Paus Fransiskus pada tahun 2023 untuk memimpin kantor Vatikan untuk memeriksa para uskup di seluruh dunia. Ia bukanlah paus pertama yang terjun ke politik dunia. Paus Yohanes Paulus II, misalnya, dianggap membantu menjatuhkan komunisme.
Namun, Leo memasuki kepausan setelah mengkritik Wakil Presiden JD Vance, tokoh Katolik paling terkenal dalam politik Amerika, di media sosial. Leo berselisih dengan pemerintahan dalam isu-isu kebijakan, seperti imigrasi dan lingkungan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/14/facfbef1-d64e-445f-8383-1031409d72bc_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/14/df1ac9c4-3783-4745-b6ec-c0fbaede21c2_jpg.jpg)
Moto salah satu pemimpin dunia Amerika yang baru terpilih: "Berjuang!" Sedangkan pemimpin lainnya memperkenalkan dirinya kepada dunia dengan kata publik pertamanya sebagai paus: "Damai."
Kini mereka memimpin dalam peran dan ranah yang berbeda.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari