Trump Gagal Beri Kepastian, Minyak dan Saham Kembali Suram

Ketiadaan kejelasan itu langsung memukul pasar. Harga minyak Brent melonjak 4,9 persen. Harga saham berguguran.

02 Apr 2026 15:30 WIB · Internasional

AP

Oleh Irene Sarwindaningrum

HONG KONG, KAMIS — Pasar minyak dan keuangan global kembali bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump gagal memberikan kepastian soal akhir perang Iran. Pidato itu dinilai tidak memberi peta jalan menuju deeskalasi perang Iran. Trump justru mengatakan AS akan terus menghantam Iran dalam 2-3 pekan ke depan.

Pidato Trump di Gedung Putih, Kamis (2/4/2026), merupakan pidato nasionalnya yang pertama sejak perang Iran. Pidato itu semula diharapkan pasar menjadi sinyal bahwa konflik akan segera mereda.

Namun, harapan itu pupus setelah Trump mengatakan operasi militer masih berlangsung 2-3 pekan lagi. Trump juga tak menyebutkan kapan dan bagaimana perang benar-benar akan berakhir.

Menambah kegelisahan pasar, ia juga tidak memaparkan langkah konkret untuk membuka kembali Selat Hormuz. Bahkan, melemparkan tanggung jawab kepada negara-negara yang punya kepentingan. Padahal, sebelumnya, pembukaan Selat Hormuz merupakan bagian dari target serangan AS dan Israel ke Iran.

Ketiadaan kejelasan itu langsung memukul pasar. Harga minyak Brent melonjak lebih dari enam persen pada Kamis siang, menembus 107 dolar AS per barel. Minyak mentah acuan AS naik lebih dari 5 persen menjadi 105 dolar AS per barel.

Pada waktu yang sama, pasar saham juga bereaksi negatif. Indeks Nikkei 225 di Tokyo turun 1,9 persen menjadi 52.731,94. Indeks Kospi di Korea Selatan merosot 3,6 persen menjadi 5.281,22. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 0,9 persen menjadi 25.056,42, sedangkan indeks Shanghai melemah 0,5 persen menjadi 3.928,30.

Perople walk in front of an electronic stock board showing Japan's Nikkei index at a securities firm Thursday, April 2, 2026, in Tokyo. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,6 persen. Adapun Taiex Taiwan melemah 1,1 persen. Futures saham AS juga turun lebih dari 0,9 persen.

Sebelumnya, pasar sempat menguat, Rabu (1/4/2026), karena komentar Trump dan Rubio memberi kesan perang Iran sudah memasuki babak akhir. Investor sempat membaca itu sebagai tanda deeskalasi mulai terbentuk.

Currency traders work near a screen showing the Korea Composite Stock Price Index (KOSPI), top center, and the foreign exchange rate between U.S. dollar and South Korean won, top center left, at the foreign exchange dealing room of the Hana Bank headquarters in Seoul, South Korea, Thursday, April 2, 2026. (AP Photo/Ahn Young-joon)
A person stands in front of an electronic stock board showing Japan's Nikkei index at a securities firm Thursday, April 2, 2026, in Tokyo. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Sejumlah ahli menilai pasar kecewa karena pidato Trump justru memperbesar ketidakpastian. Padahal, pasar semula berharap pidato Trump berisi garis besar yang jelas tentang gencatan senjata.

”Pasar menunjukkan kekecewaan karena pidato Presiden Trump tak sesuai harapan. Tidak ada rincian konkret tentang berakhirnya permusuhan dengan Iran,” kata Takashi Hiroki, kepala strategi Monex di Tokyo.

Jumpei Tanaka, kepala strategi investasi Pictet Asset Management Japan Ltd, mengatakan, pasar sebelumnya mengharapkan sinyal bahwa konflik akan menuju akhir. Namun, yang muncul justru ancaman eskalasi baru.

”Pidato Trump bukanlah yang diharapkan pasar, yakni sinyal yang mengarah pada berakhirnya konflik. Sebaliknya, ia menyiratkan potensi eskalasi,” katanya, seperti dikutip Bloomberg.

Quote

Pasar menunjukkan kekecewaan karena pidato Presiden Trump tak sesuai harapan. Tidak ada rincian konkret tentang berakhirnya permusuhan dengan Iran.

Jon Withaar, manajer portofolio senior Pictet Asset Management di Singapura, menilai, pasar tidak memperoleh kepastian tambahan apa pun dari pidato itu. Selain 2-3 pekan lagi serangan, kemungkinan serangan darat belum dikesampingkan.

”Kami tidak mendapatkan kepastian atau kejelasan tambahan soal garis waktu dari pidato ini dan inilah yang dicari pasar,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Carol Kong, ekonom dan ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia. Menurut Kong, kenyataannya aset militer AS masih terus dikerahkan ke kawasan. Karena itu, kemungkinan ofensif darat tetap hidup dan dolar AS akan tetap kuat dalam jangka dekat.

Dari Hong Kong, Ken Wong, spesialis portofolio saham Asia Eastspring Investments, menilai, pasar kini mulai memikirkan dampak ekonomi yang lebih luas. Mereka mempertanyakan seberapa besar perkembangan ini akan merambat ke ekonomi global dalam beberapa kuartal ke depan.

”Dengan guncangan minyak yang sedang terjadi, kemungkinan Federal Reserve menurunkan suku bunga semakin berkurang,” katanya.

Tujuan akhir tak jelas

Peringatan soal dampak lanjutan itu juga muncul dari para kepala negara. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan, tujuan awal perang Iran pada dasarnya telah tercapai dan kini tidak jelas lagi apa yang masih ingin diraih. Serangan AS dan Israel disebut telah melemahkan angkatan udara, angkatan laut, dan basis industri militer Iran.

”Sekarang tujuan-tujuan itu telah terwujud, tidak jelas lagi apa yang masih perlu dicapai atau seperti apa titik akhirnya,” kata Albanese dalam pidato di Canberra, Kamis.

Australia bergantung pada impor bahan bakar dan hanya memiliki stok bensin sekitar 37 hari. Canberra telah berusaha meredam dampak lonjakan harga dengan memangkas pajak bensin.

Australia juga menjanjikan pinjaman 680 juta dolar untuk dunia usaha. Albanese sebelumnya juga menegaskan Australia bukan peserta dalam perang tersebut.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese (tengah) berbicara dalam acara resmi untuk menandai dimulainya reformasi media sosial Australia di Kirrilbilli House, Sydney, Australia, Rabu (10/12/2025). Australia secara resmi melarang sejumlah besar remaja di bawah 16 tahun dari media sosial, sebuah dengan tindakan keras pertama di dunia kepada perusahaan raksasa teknologi.

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan, Canberra sedang berdiskusi dengan Inggris dan Perancis mengenai kemungkinan kontribusi untuk membuka kembali Selat Hormuz.

”Kami punya kepentingan agar Selat Hormuz terbuka. Ini soal kapan kondisi memungkinkan langkah-langkah itu dilakukan. Dan, kondisi itu tidak ada sekarang,” kata Marles dalam wawancara dengan Sky News Australia.

Menurut Marles, Australia akan menghadiri pertemuan multinegara yang digelar Inggris. Namun, ia menegaskan langkah apa pun masih bergantung pada kondisi di lapangan.

This photograph shows signs on petrol pumps indicating that oil is out of stock at a gas station in Lutterbach, eastern France, on April 1, 2026, as US-Israel war on Iran, launched on February 28, has roiled global energy and equities markets, sending oil prices skyrocketing after Tehran virtually closed the key Strait of Hormuz. (Photo by SEBASTIEN BOZON / AFP)
Infografik Fluktuasi Harga Gas Alam dan Minyak Mentah Global Sepanjang 2026

Pidato Trump juga dikhawatirkan memicu stagflasi, yakni gabungan inflasi tinggi dan pertumbuhan lemah. Stagflasi sudah mengguncang pasar sepanjang Maret saat harga minyak melambung.

Wee Khoon Chong, ahli strategi pasar senior BNY untuk Asia Pasifik, menilai, mata uang di kawasan Asia Pasifik akan tertekan. Terutama bagi negara pengimpor minyak bersih. ”Tekanan inflasi dari sisi kenaikan dapat semakin menunda kemungkinan jalur pelonggaran The Fed,” katanya.

Klaim berlebihan

Sejumlah klaim Trump dalam pidato tersebut juga dinilai menyesatkan atau dilebih-lebihkan. Trump salah menggambarkan kondisi ekonomi AS, melebih-lebihkan klaim tentang perubahan rezim di Iran, serta tidak didukung bukti saat ia menyebut 45.000 orang tewas dalam protes di Iran.

Trump mengklaim ekonomi AS sebelumnya mati dan lumpuh, lalu menjadi negara terpanas di dunia tanpa inflasi. Faktanya, ekonomi AS pada 2024, tahun terakhir pemerintahan Joe Biden, masih tumbuh 2,8 persen setelah disesuaikan inflasi, lebih tinggi daripada hampir semua negara maju, kecuali Spanyol.

Pada 2025, pertumbuhan melambat menjadi 2,1 persen. Inflasi juga belum hilang karena indeks harga konsumen pada Februari masih naik 2,4 persen dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Tingkat inflasi ini lebih tinggi dari target Federal Reserve sebesar 2 persen.

WASHINGTON, DC - APRIL 01: A TV displays U.S. President Donald Trump's prime-time address inside a downtown Cheesecake Factory on April 01, 2026 in Washington, DC. Trump used the prime-time address to update the nation on the war in Iran.   Anna Moneymaker/Getty Images/AFP (Photo by Anna Moneymaker / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)
Fotyo file Mojtaba Khamenei putra pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, terlihat selama pertemuan di Teheran pada 18 Juli 2016. AFP/AMIR KHOLOUSI / ISNA

Trump juga mengatakan, perubahan rezim Iran bukan tujuan perang, tetapi perubahan rezim telah terjadi. Ia mengatakan, para pemimpin awal Iran telah tewas dan kelompok baru dinilai lebih moderat.

Faktanya, setelah Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Israel pada 28 Februari 2026, Iran justru mengangkat putranya, Mojtaba Khamenei, menjadi pemimpin tertinggi.

Tak sesuai dengan pidato Trump, Mojtaba justru dipandang lebih garis keras dari ayahnya. Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) pun lebih banyak tampil dalam perang sebulan terakhir. Sementara pimpinan sipil Iran menjadi target pembunuhan dalam serangan AS-Israel dan penggantinya tidak tampil dominan.

Soal korban protes di Iran, Trump menyebut rezim Iran baru-baru ini membunuh 45.000 rakyatnya sendiri yang sedang berdemonstrasi. Angka ini belum terverifikasi.

Organisasi hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS menyebutkan korban tewas sekitar 7.000 orang dalam gelombang protes nasional Januari 2026. Kelompok itu juga mencatat lebih dari 53.000 penangkapan. Sementara Pemerintah Iran pada 21 Januari 2026 menyebut 3.117 orang tewas.

Trump juga mengklaim AS kini tidak membutuhkan minyak Timur Tengah. Meskipun AS hanya mengimpor sebagian kecil minyaknya dari Teluk Persia, gejolak di kawasan itu tetap memukul harga energi AS karena minyak diperdagangkan di pasar global.

Impor minyak AS dari kawasan itu mencapai 8,5 persen pada 2025. Sejak perang Iran dimulai, harga minyak mentah acuan AS telah naik lebih dari 50 persen dan harga rata-rata bensin di AS menembus 4 dolar AS per galon.

”Harga minyak ditentukan di pasar global dan gangguan di mana pun memengaruhi harga di mana-mana,” kata analis energi University of Chicago, Sam Ori. (AP/Reuters/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto