Trump ”Hukum” India dengan Tarif 50 Persen

New Delhi sudah terkena tarif 25 persen yang berlaku pada 7 Agustus 2025. Tarif baru 25 persen akan berlaku pada 27 Agustus 2025.

07 Agt 2025 10:22 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON DC, KAMIS — Gara-gara tetap membeli minyak Rusia, India ”dihukum” oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan tarif impor total 50 persen. Ancaman kenaikan tarif juga dilontarkan untuk China.

Trump menandatangani perintah eksekutif untuk pemberlakuan tarif tambahan 25 persen untuk produk-produk India, Rabu (6/8/2025) waktu setempat. Tarif akan berlaku dalam 21 hari, tepatnya 27 Agustus 2025. Tarif baru ini akan melengkapi tarif 25 persen yang sudah dijatuhkan Trump kepada India yang mulai berlaku pada Kamis (7/8/2025).

Dalam sebuah acara di Ruang Oval bersama CEO Apple Tim Cook, Trump menegaskan angka tarif 50 persen bagi India. Dia tidak memberikan jawaban spesifik apakah tarif tambahan untuk India akan dicabut jika ada kesepakatan antara Rusia dan Ukraina.

”Kita akan menentukannya nanti. Namun, saat ini mereka membayar tarif 50 persen,” kata Trump.

Perintah eksekutif Trump juga mengancam sanksi bagi negara-negara lain yang secara langsung ataupun tidak langsung mengimpor minyak Rusia. ”Kalian akan melihat lebih banyak lagi, begitu banyak sanksi sekunder,” ucap Trump.

Ekspor minyak dan gas merupakan pendapatan utama bagi perang Rusia di Ukraina. Pembeli andalan Rusia adalah India, China, dan Turki.

Foto kombinasi yang dibuat pada Rabu (6/8/2025) ini menunjukkan, dari kiri ke kanan, Perdana Menteri India Narendra Modi pada tanggal 21 Juli 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada tanggal 22 Juli 2025, dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada tanggal 5 Agustus 2025. Trump memerintahkan tarif tambahan sebesar 25 persen untuk barang-barang India atas pembelian minyak Rusia.

BBC melaporkan, Rusia sekarang adalah penjual minyak terbesar ke India. Moskwa menyumbang lebih dari 35 persen dari total pasokan India, menurut data firma intelijen Kpler. India membeli sekitar 1,75 juta barel minyak Rusia per hari dalam enam bulan pertama tahun ini.

Adapun AS mencatat defisit perdagangan sebesar 45,8 miliar dollar AS dengan India pada 2024, menurut Biro Sensus AS. Konsumen dan bisnis AS membeli obat-obatan, batu mulia, tekstil, dan pakaian jadi dari India.

Kementerian Luar Negeri India menyebut tarif tersebut sangat disayangkan. Padahal, pembelian minyak dari Rusia dilakukan beberapa negara lain demi kepentingan nasional masing-masing. India akan melakukan semua upaya untuk melindungi kepentingannya. 

”Kami menegaskan kembali bahwa tindakan ini tidak adil, tidak dapat dibenarkan, dan tidak masuk akal,” kata Juru Bicara Kemenlu India Randhir Jaiswal.

India telah menjelaskan, keputusan impor negara tersebut berdasarkan faktor pasar dan tujuan untuk memastikan keamanan energi bagi 1,4 miliar penduduk. New Delhi mulai mengimpor minyak dari Rusia karena pasokan tradisional dialihkan ke Eropa akibat perang. Apalagi, AS dulu mendorong impor tersebut guna menstabilkan pasar energi global.

Produk terdampak

Ajay Srivastava, mantan pejabat perdagangan India dan Kepala Inisiatif Penelitian Perdagangan Global (GTRI), mengatakan, tarif terbaru Trump menempatkan India di antara mitra dagang AS yang terkena tarif paling tinggi. Malahan, India berada di posisi jauh di atas para pesaing, seperti China, Vietnam, dan Bangladesh.

GTRI memperkirakan, tarif tersebut akan membuat barang-barang India jauh lebih mahal di AS. Ada pula potensi memangkas ekspor ke AS sebesar 40-50 persen.

”India harus tetap tenang, menghindari pembalasan setidaknya selama enam bulan, dan mengakui bahwa negosiasi perdagangan yang berarti dengan AS tidak dapat dilanjutkan di bawah ancaman atau ketidakpercayaan,” ujar Srivastava.

Tarif total sebesar 50 persen dari Trump akan menghajar ekspor utama India, termasuk tekstil, permata dan perhiasan, suku cadang mobil, serta makanan laut. Untuk sementara, barang elektronik, termasuk iPhone, dan farmasi dikecualikan. Dengan demikian, Apple masih bisa bernapas lega.

”Ini menandai titik terendah dalam hubungan AS-India,” kata Farwa Aamer, Direktur Inisiatif Asia Selatan di Asia Society Policy Institute. Ia memperkirakan, akan ada tekanan domestik agar India menyetujui tuntutan AS, tetapi pilihan ini memang tidak mudah.

Aktivis Pusat Persatuan Sosialis India (SUCI) membakar patung Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama unjuk rasa untuk memperingati 80 tahun serangan bom atom pertama di dunia, yaitu di Hiroshima, pada akhir Perang Dunia II, di Kolkata, India, Rabu (6/8/2025).

Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi biasanya menyebut satu sama lain sebagai teman. Sejak masa jabatan pertama Trump, mereka saling menghadiri rapat umum politik di negara masing-masing.

Pemberlakuan tarif baru oleh Trump tersebut berbeda dengan strategi era Presiden AS Joe Biden dan para anggota G7. Waktu itu, mereka mendorong India membeli minyak Rusia murah dengan pembatasan harga pada 2022.

Harga minyak Rusia dibatasi 60 dollar AS per barel, sementara harga di pasar jauh lebih tinggi. Batas harga itu membuat perusahaan pelayaran dan asuransi wajib menolak menangani pengiriman minyak di atas batas harga.

Untuk mengakalinya, Rusia mengirimkan minyak menggunakan ”armada bayangan”. Armada itu terdiri dari kapal-kapal tua yang menggunakan perusahaan asuransi dan perusahaan dagang yang berlokasi di negara-negara yang tidak memberlakukan sanksi.

Pengumuman tarif baru untuk India terjadi seiring pertemuan Steve Witkoff, utusan khusus Trump, di Moskwa, Rabu. Witkoff ingin mengamankan kesepakatan perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

Tidak adil

China turut membeli minyak dari Rusia dan Iran, yang juga terkena sanksi AS. Namun, Beijing tidak disebutkan dalam perintah eksekutif baru Trump. Saat ini, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan perang tarif AS-China, Beijing mendapat tarif 30 persen dan Washington terkena tarif 10 persen.

Srivastava mengatakan, keputusan Trump ”hipokrit”. Sebab, China membeli lebih banyak minyak Rusia daripada India tahun lalu.

”Washington menghindari menargetkan Beijing karena pengaruh China atas mineral-mineral penting yang vital bagi pertahanan dan teknologi AS,” ujar Srivastava.

Langkah Trump juga dapat mengacaukan prospek ekonomi India. India belakangan dipandang sebagai lokasi alternatif oleh perusahaan-perusahaan AS yang ingin merelokasi pabrik dari China.

FILE- Russian President Vladimir Putin, Indian Prime Minister Narendra Modi, and Chinese President Xi Jinping stand at the start of the BRICS Summit in Goa, India, Oct. 16, 2016. Ahead of the G20 summit of leading economies, India has promoted itself as a rising global star with the potential to bridge the gap between the West and Russia. That stance also will be put to the test during the summit. So far, none of the G20 meetings this year have been able to agree on wording about Russia's war in Ukraine. Both Putin and Xi are not attending the summit but are sending representatives. (AP Photo/ Anupam Nath, File) *** Local Caption *** Arsip - Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan Presiden China Xi Jinping berdiri di awal KTT BRICS di Goa, India, 16 Oktober 2016.

Sebagai negara terbesar di dunia, India menjadi cara bagi AS untuk melawan pengaruh China di Asia. Namun, India tidak mendukung sanksi kepada Rusia yang dijatuhkan AS beserta negara sekutu untuk membela Ukraina.

Trump mengatakan, dirinya dapat mengumumkan tarif lebih lanjut terhadap China, serupa dengan impor 25 persen terhadap India. Namun, keputusan itu bergantung pada perkembangan situasi.

”Bisa saja terjadi. Saya belum bisa memberi tahu kalian. Kami sudah melakukannya dengan India. Kami mungkin melakukannya dengan beberapa negara lain. Salah satunya mungkin China,” tutur Trump kepada para wartawan, Rabu.

AS juga belum sepenuhnya memutus hubungan ekonomi dengan Rusia. Perdagangan AS-Rusia mencapai sekitar 3,5 miliar dollar AS, meskipun ada sanksi dan tarif yang ketat.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul