Trump murka karena Ukraina menolak melepas wilayah Krimea. Eropa Barat khawatir usulan damai AS berarti Ukraina harus melepas sebagian wilayah bagi Rusia.
24 Apr 2025 13:35 WIB · Internasional
KYIV, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memarahi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Rabu (23/4/2025), karena tidak mau melepas kedaulatan Semenanjung Krimea yang sudah dikuasai Rusia. Trump menilai, tindakan Zelenskyy sebagai langkah memperpanjang perang dan pembantaian.
Trump di media sosial menulis ”tidak ada yang meminta Zelenskyy mengakui Krimea sebagai wilayah Rusia. Kalau dia mengingingkan Krimea, kenapa Ukraina tidak memperjuangkannya 11 tahun silam ketika wilayah itu diserahkan kepada Rusia tanpa satu letusan senjata pun”.
Rusia menganeksasi Krimea di tahun 2014 setelah mengirimkan pasukan ke wilayah tersebut. Beberapa pekan kemudian, kelompok separatis pro Rusia melancarkan perlawanan di Ukraina timur yang mayoritas dihuni penduduk etnis Rusia. Sebaliknya, Rusia menyatakan, sejak rezim pro Barat berkuasa di Kyiv, warga etnis Rusia mengalami persekusi di Ukraina sehingga mendorong mereka melakukan perlawanan.
Trump menilai penolakan Zelenskyy sangat merusak upaya membangun perdamaian. Trump mengklaim sudah hampir mencapai kesepakatan dan pemimpin Ukraina dipersilakan untuk berdamai atau bisa melanjutkan perang tiga tahun lagi sebelum kehilangan seluruh negeri mereka.
”Pernyataan Zelenskyy akan memperpanjang pembantaian dan tidak seorang pun menginginkan itu terjadi,” kata Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/18d88b792352b30fd76c16a3151d89f9-Russia_Crimea_128319665.jpg)
Penolakan Zelenskyy disampaikan, Selasa, sebelum pembahasan perundingan damai Ukraina dengan negara Eropa Barat di London, Inggris. Perundingan itu melibatkan pejabat Eropa, AS, dan Ukraina.
”Tidak ada yang perlu dibahas. Itu adalah wilayah kita dan tanah rakyat Ukraina,” kata Zelenskyy mengomentari usulan AS.
Dalam perundingan serupa di Paris, Perancis pekan lalu, seorang pejabat Eropa secara anonim mengatakan, para pejabat AS mengusulkan agar Rusia tetap menguasai wilayah yang sudah dikuasai sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Pertemuan Rabu di London pada menit akhir juga mengalami banyak perombakan dari usulan awal. Wapres AS JD Vance mengatakan, perundingan sudah hampir mencapai hasil yang memuaskan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/20/1556c5cac64943a20c8c8b4de4b1866d-Russia_Ukraine_128241941.jpg)
”Kami menyampaikan usulan yang eksplisit bagi Rusia dan Ukraina. Kini waktunya mereka bersikap menerima atau menolak dan AS akan mengambil sikap meninggalkan perundingan jika ditolak,” kata Vance di sela kunjungan kenegaraan di India.
Vance mengatakan, usulan AS sangat adil dan akan mengatur perbatasan Rusia–Ukraina, tidak berbeda jauh dari posisi penguasaan setiap pihak di fron pertempuran saat ini.
Menurut Vance, kedua belah pihak yang bertikai harus menerima kondisi wilayah yang dikuasai lawan demi mencapai perdamaian. Namun, dia tidak memberikan perincian lebih jauh.
Seorang pejabat Eropa yang terlibat dalam rangkaian perundingan damai Ukraina mengatakan, usulan AS disebut sebagai tawaran akhir yang sudah disampaikan di Paris pekan lalu. Usulan tersebut dianggap adil, tetapi masih bisa mengalami penyesuaian.
Ketika proposal AS tersebut beredar di media massa, para pejabat Ukraina mengaku terkejut ketika mendapati pihak AS mengklaim itu sebagai usulan akhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/03d8388e7cdea5c6180c9673306d5ab1-wires_photo_93_.jpg)
Zelenskyy pun, pada Rabu, di Kyiv, mengatakan, pihaknya siap untuk berunding demi gencatan senjata dan juga perdamaian permanen saat mengunjungi keluarga sembilan warga yang tewas akibat serangan drone Rusia sehari sebelumnya.
”Kami mendesak gencatan senjata segera, menyeluruh, dan tanpa syarat,” tulis Zelenskyy dalam akun media sosialnya. Gencatan senjata tersebut mengacu pada usulan AS enam pekan lalu.
Ukraina dan sejumlah negara Eropa Barat menuduh Putin sengaja memperpanjang proses perundingan seraya militernya terus memperluas wilayah Ukraina yang dikuasai. Pihak Barat menilai, Rusia tidak terburu-buru mencapai perdamaian karena unggul dalam peperangan yang sedang berlangsung.
Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy mengatakan, perundingan di London untuk mencari jalan perdamaian Ukraina, kali ini hanya melibatkan para pejabat teknis. Hal itu disebabkan ketidakhadiran tokoh kunci, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Pembatalan kedatangan Rubio secara tiba-tiba menimbulkan kecurigaan tentang perundingan yang sedang berlangsung belum akan membuahkan hasil. Sebelumnya, Rubio mengklaim, perundingan di London akan memberikan hasil menentukan kelanjutkan keterlibatan AS dalam bina damai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/b8cf8d44c6099f8c3c9512c2441c8616-wires_photo_92_.jpg)
Menyikapi siapa yang hadir dalam perundingan damai di London, Juru Bicara Pemerintah Rusia Dmitry Peskov mengatakan, sejauh yang dipahaminya, Rusia belum bisa mencapai kesepakatan pada sejumlah isu. ”Kami masih berunding dengan para pejabat AS,” kata Peskov tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Salah satu tokoh AS yang menghadiri perundingan di London adalah Letjen (Purn) Keith Kelogg, Utusan Khusus Trump untuk Ukraina dan Rusia.
Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Ukraina Andrii Yermak mengatakan di media sosial bahwa delegasi Ukraina meliputi Menlu Andrii Sybiha, Menhan Rustem Umerov, dan dirinya tiba di London meski terjadi perubahan dalam rencana perundingan.
”Jalan perdamaian ini tidaklah mudah. Namun, Ukraina menjaga komitmen mencapai perdamaian,” kata Yermak. Para pejabat Ukraina akan membahas jalan terbaik mencapai gencatan senjata tanpa syarat pada tahap awal untuk mencapai perdamaian sepenuhnya yang adil dan jangka panjang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/d98c9f8145b83c3d434a52ecfabf2baf-Russia_Ukraine_War_2_.jpg)
Berselang beberapa jam, Yermak mengatakan, dia bersama Sybiha dan Umerov bertemu dengan para pejabat keamanan nasional dan kebijakan luar negeri dari negara–negara Sekutu Sukarela dan menegaskan komitmen mereka terhadap upaya damai yang diajukan Trump.
Melalui media sosial, dia menjelaskan, Rusia kembali menolak gencatan senjata tanpa syarat dan menghambat perundingan serita memanipulasi negosiasi.
Tahun silam, Donald Trump dalam kampanye Pemilihan Presiden AS berulang kali mengklaim akan menghentikan Perang Rusia–Ukraina dalam jangka 24 jam setelah dirinya berkuasa. Namun, belakangan ini Trump menyatakan frustrasi menghadapi Putin dan Zelenskyy yang menolak usulan gencatan senjata 30 hari. Setiap pihak mengajukan syarat–syarat untuk gencatan senjata yang sulit dipenuhi.
Sejumlah negara Eropa Barat khawatir, usulan perdamaian AS adalah menukar wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia demi meraih kesepakatan damai. Negara Sekutu Barat mengakui, Rusia saat ini menguasai seluruh atau sebagian wilayah, yakni Krimea, Luhansk, Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kherson.
”Jika mencapai gencatan segera tentutnya berdasar kondisi garis depan pertempuran saat ini,” kata seorang pejabat Istana Kepresidenan Perancis.
Rusia diketahui sudah menguasai 20 persen wilayah Ukraina, terutama di wilayah timur. Sementara Ukraina menguasai sebagian wilayah Rusia di Kursk dan juga menyerang Belgorod.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/8d8479e280e516e0c6e8e3bad1a52282-TOPSHOT_UKRAINE_RUSSIA_CONFLICT_WAR_129225331.jpg)
Trump yang sedang mempersiapkan diri menghadiri pemakaman Paus Fransiskusi, Sabtu (26/4/2025), pada Rabu mengatakan belum memastikan apakah akan bertemu dengan Zelenskyy dan para pemimpin Eropa lainnya untuk membahas upaya damai saat berada di Italia. Menurut Trump, meyakinkan Zelenskyy lebih sulit daripada berunding dengan pihak Rusia.
Trump yang diagendakan pergi ke Timur Tengah pada Mei mendatang mengatakan, kemungkinan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Arab Saudi dalam perjalanan tersebut. Namun, dia menambahkan, peluang lebih besar adalah bertemu Putin sesudah perjalanan ke Arab Saudi.
Sementara itu, Utusan Khusus Trump Steve Witkoff dijadwalkan kembali datang ke Moskwa, pekan ini. Presiden Trump terus mendorong diakhirinya Perang Ukraina. Pada pekan lalu dia sudah mengancam, AS akan mundur dari perundingan jika Rusia dan Ukraina terus melancarkan serangan dan enggan mencapai perdamaian.
Sejauh ini, upaya awal untuk mencapai gencatan senjata 30 hari pun masih jauh dari harapan para juru runding perdamaian. Pihak Rusia dan Ukraina masih terus saling serang di fron sejauh 1.000 kilometer dengan menggunakan artileri hingga drone untuk serangan jarak jauh.
Yang terakhir, serangan drone Rusia menghantam sebuah bus yang mengangkut para pekerja di kota Marganets di wilayah Ukraina tengah-timur di Dnipropetrovsk, Rabu pagi. Gubernur Dnivpropetrovsk Serhii Lysak menambahkan, serangan tersebut juga mengakibatkan 40 orang terluka.
Lysak memasang foto sebuah bus dengan jendela–jendela hancur dan ceceran darah di lantai bus. (AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .