Trump Desak Zelenskyy-Putin ”Berhenti di Tempat” dan Akhiri Perang Segera

Presiden Donald Trump beberapa kali kecewa dengan kemajuan proses penghentian perang Ukraina-Rusia. Ancaman demi ancaman dilontarkannya, tetapi belum mempan.

18 Okt 2025 10:15 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

WASHINGTON, SABTU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah melontarkan seruan, desakan, bahkan ancaman agar perang Ukraina segera dihentikan. Dia semakin frustrasi karena semua itu tak mempan dan perang belum berhenti.

Kantor berita Associated Press (AP), Sabtu (18/10/2025), melaporkan, Trump telah bertemu dan berbicara panjang lebar dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Mereka bertemu pada Jumat (17/10/2025) di Gedung Putih. Sehari sebelumnya, Trump berbicara via telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Tak lama setelah pembicaraan dengan Zelenskyy yang berlangsung lebih dari dua jam, Trump mengunggah pernyataan di Truth Social. ”Sudah cukup banyak darah yang tertumpah, dengan batas-batas properti yang ditentukan oleh perang dan keberanian,” tulisnya.

”Mereka harus berhenti di tempat mereka berada sekarang. Biarkan keduanya mengklaim kemenangan, biarkan sejarah yang memutuskan!” imbuh Trump.

Kepada para wartawan dalam perjalanan pulang ke West Palm Beach, Florida, Trump menyatakan, ”Berhentilah di garis pertempuran, dan kedua belah pihak harus pulang, menemui keluarga masing-masing.”

”Hentikan pembunuhan. Dan, itu sudah seharusnya. Berhentilah sekarang juga di garis pertempuran. Saya sudah menyampaikannya kepada Presiden Zelenskyy. Saya sudah menyampaikannya kepada Presiden Putin,” imbuh Trump.

President Donald Trump speaks before a lunch with Ukraine's President Volodymyr Zelenskyy in the Cabinet Room of the White House, Friday, Oct. 17, 2025, in Washington. (AP Photo/Alex Brandon)

Perubahan sikap

AP menyebutkan, pernyataan Trump tersebut menggambarkan perubahan sikap Trump terhadap perang Ukraina-Rusia. Sebelum ini, Trump semakin tidak sabar menghadapi Putin. Namun, nada bicara Trump tentang perang berubah setelah ia berbicara panjang melalui telepon dengan Putin, Kamis.

Dari sejumlah perundingan tentang perang Ukraina-Rusia hingga pertemuan Trump-Putin di Alaska pada Agustus lalu, berakhir tanpa terobosan besar. Putin belum menunjukkan tanda ingin bertemu dengan Zelenskyy, bahkan Rusia meningkatkan pengeboman ke Ukraina.

Setelah berhasil menjembatani gencatan senjata di Jalur Gaza, Trump ingin berhasil menghentikan perang Ukraina-Rusia. Setelah bertemu Zelenskyy di Washington, Trump berencana bertemu Putin di Budapest, Hongaria, dua pekan mendatang.

Dalam pertemuan dengan Zelenskyy di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pada September, Trump bahkan mengatakan, ia yakin Ukraina dapat merebut kembali semua wilayah mereka yang hilang sejak Putin melancarkan invasi pada Februari 2022. Ia sempat mengemukakan janji untuk membantu Ukraina dengan rudal jarak jauh Tomahawk yang dianggap bisa menjadi pengubah permainan.

Meski demikian, Trump menyiratkan pesan pada Zelenskyy bahwa ia ragu untuk menjual rudal Tomahawk kepada Ukraina. Hal ini tentu saja mengecewakan Zelenskyy yang datang ke Gedung Putih untuk mendapatkan rudal jarak jauh itu.

Seusai pertemuan dengan Trump, Zelenskyy hanya mengatakan sudah waktunya untuk gencatan senjata dan negosiasi. ”Presiden Trump benar, kita harus berhenti di sini, lalu bicara,” kata Zelenskyy ketika ditanya wartawan tentang unggahan media sosial Trump, yang belum dilihatnya.

Namun, Zelenskyy mengungkap betapa sulitnya upaya mencapai gencatan senjata. ”Kami menginginkan ini. Putin tidak menginginkannya,” ujarnya.

Ukraine's President Volodymyr Zelenskyy speaks to reporters in Lafayette Park across the street from the White House, following a meeting with President Donald Trump, Friday, Oct. 17, 2025, in Washington. (AP Photo/Manuel Balce Ceneta)

Tentang Tomahawk, Zelenskyy mengatakan, di awal perundingan ia berkata kepada Trump bahwa Ukraina memiliki kemampuan untuk menyediakan drone canggih bagi AS. Sementara Washington akan menjual Tomahawk kepada Kyiv.

Namun, Trump kemudian mengatakan, ia ragu untuk memanfaatkan persenjataan AS itu. ”Saya juga berkewajiban untuk memastikan bahwa kita sebagai negara memiliki persediaan persenjataan yang lengkap karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam perang dan damai,” katanya.

”Kami lebih suka mereka tidak membutuhkan Tomahawk. Sejujurnya, kami lebih suka perang berakhir,” imbuh Trump.

Retorika terbaru Trump tentang Tomahawk tentu saja mengecewakan Ukraina. Hal itu karena sebelum pertemuan, Trump mengisyaratkan ia serius mempertimbangkan pengiriman rudal tersebut untuk membantu Ukraina menangkis invasi Rusia.

Zelenskyy telah mengincar Tomahawk, yang akan memungkinkan pasukan Ukraina untuk menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia serta menargetkan situs militer utama, fasilitas energi, dan infrastruktur penting. Zelenskyy berpendapat, potensi serangan semacam itu akan mendorong Putin untuk menanggapi seruan Trump untuk negosiasi langsung guna mengakhiri perang dengan lebih serius.

Reaksi warga setelah serangan pesawat tak berawak menghantam bangunan di Kyiv, 17 Juni 2025.

Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Putin, mengatakan, dalam panggilan telepon dengan Trump, Putin memperingatkan, memasok Kyiv dengan rudal Tomahawk tidak akan mengubah situasi di medan perang, tetapi akan menyebabkan kerusakan substansial pada hubungan kedua negara.

Trump seusai pertemuan dengan Zelenskyy juga mengatakan, masih harus ditentukan apakah Zelenskyy akan terlibat dalam perundingan mendatang di Hongaria. Hal itu mengisyaratkan bahwa ”pertemuan ganda” dengan para pemimpin negara-negara yang bertikai kemungkinan merupakan opsi yang paling efektif untuk negosiasi yang produktif.

”Kedua pemimpin ini tidak saling menyukai dan kami ingin membuat situasi ini nyaman bagi semua orang,” tambah Trump. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan