”Kalian seharusnya tidak memulainya (perang). Kalian seharusnya bisa membuat kesepakatan,” kata Trump.
19 Feb 2025 17:14 WIB · Internasional
FLORIDA, RABU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyalahkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy atas invasi Rusia ke Ukraina. Pada saat yang sama, Kremlin menyatakan, pertemuan Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin kemungkinan berlangsung sebelum akhir Februari ini.
Trump merasa kecewa dengan pernyataan Zelenskyy yang menyebutkan Ukraina tidak diikutsertakan dalam pertemuan AS dan Rusia di Riyadh, Arab Saudi. Padahal, pertemuan itu, antara lain, untuk membahas perang Ukraina.
”Saya sangat kecewa, saya dengar mereka marah karena tidak mendapat kursi,” kata Trump kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Selasa (18/2/2025) waktu setempat atau Rabu waktu Indonesia.
”Hari ini saya dengar, ’Oh, baiklah, kami tidak diundang’. Ya, kalian sudah berada di sana selama tiga tahun. Kalian seharusnya tidak memulainya (perang). Kalian seharusnya bisa membuat kesepakatan,” ujar Trump.
Pernyataan Trump keluar setelah delegasi AS yang dipimpin Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan delegasi Rusia pimpinan Menlu Sergey Lavrov menyelesaikan pertemuan di Riyadh, Arab Saudi. Mereka sepakat merintis jalan untuk bernegosiasi guna mengakhiri perang Ukraina yang berlangsung selama tiga tahun ini. Selain itu, mereka sepakat untuk menggelar pertemuan bilateral Trump-Putin.
Zelenskyy mengkritik pertemuan itu karena mengabaikan Kyiv. Ia mengatakan, semua upaya untuk mengakhiri perang harus adil dan melibatkan negara-negara Eropa. Sebab, perang berkecamuk di wilayah Eropa.
Kritik Zelenskyy membuat Trump berang. Ia mengatakan semakin percaya diri setelah pembicaraan AS-Rusia di Riyadh. ”Saya kira, saya punya kuasa untuk mengakhiri perang,” kata Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/19/9ebf01033707713e080b62c26e33cad6-36e2fb86671c468fbb03b00387e1bd99_0_3eeca6cfd3194293b53b0e274918bc15.jpg)
Selain menyalahkan Ukraina, Trump juga mendesak Zelenskyy untuk segera mengadakan pemilihan umum. Desakan Trump itu menggaungkan keinginan kunci Moskwa.
Ditanya wartawan, apakah AS akan mendukung tuntutan Rusia itu sebagai bagian dari kesepakatan, Trump malah mulai mengkritik dengan apa yang disebutnya sebagai ”angka persetujuan” Ukraina.
”Mereka ingin kursi di meja perundingan, tetapi bisa dibilang... tidak ingin rakyat Ukraina mengatakan keinginannya? Sudah lama sejak pemilu digelar. Ini bukan soal Rusia, ini datang dari saya, dari negara-negara lain,” ujar Trump.
Zelenskky terpilih dalam pemilu tahun 2019 untuk masa jabatan lima tahun. Namun, dia masih menjabat karena perang membuat Ukraina berstatus keadaan darurat. Pemilu tidak bisa dilaksanakan dalam keadaan darurat.
Pernyataan terbaru Trump mengipasi kekhawatiran para pemimpin Eropa. Mereka sudah khawatir, Washington akan membuat konsesi pada Moskwa dan menulis ulang tatanan keamanan Eropa. AS hanya memberi tahu negara-negara Eropa bahwa mereka akan mendapat kursi di meja perundingan ”pada titik tertentu”.
Pertemuan AS-Rusia, yang pertama digelar sejak invasi Ukraina pada Februari 2022, menuai kritik keras dari Ukraina. ”Ini hanya akan memuaskan nafsu Putin,” kata seorang pejabat senior Ukraina yang meminta identitasnya dirahasiakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/7e918d21760c170569ebbab836e2297c-1000000180.jpg)
Di Moskwa, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan, Putin dan Trump bisa bertemu paling cepat bulan ini meski pertemuan tatap muka perlu waktu untuk mempersiapkannya. Ia mengatakan, pembicaraan AS-Rusia di Riyadh merupakan ”langkah penting” menuju kesepakatan soal perang Ukraina.
Namun, Peskov menekankan, relasi dua negara adidaya itu pertama-tama harus dihidupkan kembali sebelum diperbaiki.
Utusan khusus Trump untuk Ukraina Keith Kellogg tiba di Kyiv, Rabu, untuk bertemu Zelenskyy. Kellog mengatakan, dia berada di Kyiv untuk ”duduk dan mendengarkan”.
”Ini akan memberi kita peluang untuk pembicaraan substansial. Kami paham perlunya jaminan keamanan. Kami sangat jelas bahwa (jaminan itu) penting untuk kedaulatan negara ini,” kata Kellog.
Ukraina berulang kali menegaskan perlunya jaminan keamanan dari AS yang akan menggentarkan Rusia agar tidak melancarkan invasi baru saat kesepakatan damai tercapai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/16/fdc9b22f76ca4a420104222f386dfc18-000_36XV4DX.jpg)
Sementara negara-negara Eropa, Rabu, menyepakati rangkaian sanksi baru untuk Rusia guna meningkatkan tekanan setelah pembicaraan AS-Rusia. Paket sanksi itu beragam, termasuk larangan impor aluminium Rusia. Langkah itu akan diadopsi secara formal oleh para menteri Uni Eropa pada Senin pekan depan, bersamaan dengan peringatan tiga tahun perang Ukraina.
Ini merupakan putaran sanksi ke-16 yang dijatuhkan UE terhadap Rusia. Selain larangan impor aluminium, UE memutus 13 bank Rusia dari sistem pembayaran global SWIFT dan melarang delapan media Rusia untuk beroperasi di Eropa.
”Uni Eropa semakin gencar menekan dengan menarget lebih banyak kapal dan armada bayangan Putin serta menerapkan larangan impor dan ekspor baru. Kami berkomitmen meningkatkan tekanan terhadap Kremlin,” kata Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Sebelum pertemuan di Riyadh, sejumlah politisi Eropa menuding pemerintahan Trump memberikan konsesi cuma-cuma kepada Moskwa melalui penolakan keanggotaan NATO bagi Ukraina dan dalam isu penguasaan teritorial. Menurut Washington, keinginan Ukraina mendapatkan kembali 20 persen wilayahnya yang saat ini dikuasai Rusia adalah ilusi.
Para pejabat Rusia tidak menyebut konsesi yang mereka tawarkan dalam pertemuan di Riyadh. Begitu pula tidak ada pernyataan dari para pejabat AS yang mengklaim mereka telah memperoleh sesuatu yang diinginkan dari pertemuan itu. Hal inilah yang membuat sejumlah pihak ragu, apakah pertemuan-pertemuan lanjutan bakal menghasilkan perundingan damai secara serius. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Muhammad Samsul Hadi