Trump Sebut Persoalan Iklim sebagai Penipuan, Dunia Bereaksi

Trump menyampaikan skeptisisme terkait energi terbarukan dan krisis iklim. Trump menyebut, AS kini sedang menggencarkan energi fosil daripada energi terbarukan.

24 Sep 2025 14:30 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

NEW YORK, RABU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Selasa (23/9/2025), menyuarakan skeptisisme terkait isu iklim. Ia menyebut agenda hijau, seperti energi terbarukan dan perubahan iklim, sebagai kebohongan.

Pernyataan itu sontak menuai kritikan. Negara-negara dan komunitas ilmiah menyatakan tidak bertindak atas perubahan iklim merupakan pengkhianatan terhadap mereka yang paling rentan.

Trump menyampaikan hal tersebut dalam pidatonya di hadapan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa di New York. Dalam pidatonya, Trump menyebut isu perubahan iklim sebagai ”penipuan terbesar di dunia”. Trump juga mengkritik inisiatif lingkungan global yang menurutnya merugikan ekonomi.

”Semua prediksi yang dibuat PBB dan banyak pihak lain itu salah. Prediksi itu dibuat orang-orang bodoh yang membuat negara mereka kehilangan kekayaan dan kesempatan untuk sukses,” ujar Trump dalam pidato berdurasi hampir satu jam, beberapa menit di antaranya mengupas soal iklim.

Dalam pidatonya, Trump juga menyinggung kebijakan Uni Eropa yang gencar menurunkan emisi karbon. Menurut Trump, langkah itu akan merugikan perekonomian Uni Eropa. Ia juga memperingatkan, negara-negara yang berinvestasi besar dalam energi terbarukan juga akan mengalami kerugian ekonomi.

President Donald Trump addresses the 80th session of the United Nations General Assembly, Tuesday, Sept. 23, 2025, at U.N. headquarters. (AP Photo/Angelina Katsanis)

Trump kemudian membanggakan bahwa AS saat ini sedang memerangi penggunaan energi terbarukan yang di antaranya bersumber dari energi matahari dan angin. ”Kita sedang menyingkirkan energi terbarukan yang tidak efektif dan terlalu mahal,” kata Trump.

Upaya AS itu diperkuat dengan terbitnya Undang-Undang baru yang mengakhiri kredit pajak energi bersih. AS, menurut Trump, memilih mengesampingkan energi terbarukan.

AS saat ini tengah menggencarkan upaya besar-besaran untuk mengebor cadangan gas, minyak, dan batubara baru. Upaya itu terangkum dalam agenda bernama ”dominasi energi”.

”Kami memiliki cadangan minyak terbanyak dibandingkan negara mana pun di dunia, ditambah gas dan batubara. Jika digabungkan, kami memiliki sumber energi terbesar di dunia,” tegas Trump.

Melengkapi pernyataannya terkait agenda hijau dan perubahan iklim, Trump memastikan AS kembali menarik diri dari Perjanjian Paris 2015. Perjanjian tersebut merupakan perjanjian iklim yang ditandatangani 195 negara pada 2015 di Paris. Melalui pakta itu, negara-negara itu sepakat menjaga suhu global agar tidak naik di atas 1,5 derajat celsius.

Pada jabatan periode pertamanya, Trump sudah menarik AS dari perjanjian iklim itu. Setelah Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS untuk kedua kalinya, ia kembali menarik AS dari perjanjian iklim itu.

Penarikan diri dari perjanjian membuat AS berada dalam kelompok yang sama dengan Yaman, Iran, dan Libya. Ketiga negara itu merupakan negara-negara yang tidak ikut serta dalam perjanjian iklim itu.

US President Donald Trump points to attendees after delivering remarks to the United Nations General Assembly at the UN headquarters in New York City on September 23, 2025. (Photo by Brendan Smialowski / AFP)

Reaksi dunia

Pernyataan-pernyataan Trump tersebut menuai reaksi dan kritikan dari banyak pihak, termasuk komunitas ilmiah global. Menurut komunitas ilmiah global, perubahan iklim itu nyata, dengan sebagian besar diakibatkan aktivitas manusia. Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu global yang meningkat, badai yang semakin menguat, dan es kutub mulai mencair.

Adelle Thomas, ilmuwan iklim yang telah menerbitkan lebih dari 40 studi, menyatakan mengalami secara langsung kehancuran karena bencana iklim. Ia mengalaminya ketika badai Sandy menghantam Karibia dan New York City pada tahun 2012.

Thomas, yang juga Wakil Ketua Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB, menyatakan, ”Jutaan orang di seluruh dunia sudah dapat bersaksi tentang kehancuran yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dalam hidup mereka. Buktinya tidak abstrak. Ini sudah terjadi, ini mematikan, dan ini menuntut tindakan segera.”

Rachel Cleetus dari Union of Concerned Scientists mengatakan, ”Presiden Trump dan pemerintahannya terus menyebarkan kebohongan dan disinformasi tentang ilmu iklim dan manfaat luar biasa dari energi bersih, sebuah kerugian besar bagi rakyat Amerika.”

”Perubahan iklim telah terjadi, dampaknya sangat mahal, dan masyarakat membutuhkan solusi nyata, bukan propaganda yang dirancang untuk mendongkrak keuntungan para pencemar bahan bakar fosil,” imbuh Cleetus.

Ilana Seid, Duta Besar dari negara kepulauan Palau dan kepala organisasi negara-negara kepulauan kecil yang hadir dalam Sidang Umum PBB, menambahkan, ”Tidak bertindak atas perubahan iklim akan menjadi pengkhianatan terhadap mereka yang paling rentan.”

Pernyataan itu memperkuat pandangan Evans Davie Njewa dari Malawi. Ia mengatakan, ”Kita membahayakan nyawa orang-orang tak berdosa di dunia.”

Sebuah studi terbaru yang termuat dalam jurnal Nature Communications pada Selasa ini bahkan mendapati dalam beberapa dekade mendatang kota-kota akan menghadapi risiko kekurangan air. Perubahan iklim yang disebabkan manusia dan peningkatan konsumsi air merupakan faktor-faktor yang mendorong peristiwa ”Hari Nol” atau hari tanpa air.

”Kelangkaan air terjadi seiring perubahan iklim yang memperparah kekeringan,” menurut studi baru itu.

Kebakaran Los Angeles AS Paksa 50.000 Orang Mengungsi, Trump Hentikan Bantuan

Vecchia Ravinandrasana, salah satu penulis studi tersebut, mengatakan, ”Bahkan jika pemanasan global dipertahankan pada 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri, ratusan juta orang masih akan menghadapi kekurangan air yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

”Studi kami menunjukkan bahwa pemanasan global menyebabkan dan mempercepat kondisi Kekeringan Hari Nol di seluruh dunia,” kata Ravinandrasana dari Universitas Nasional Pusan ​​di Korea Selatan, pemimpin penelitian itu.

Pemanasan global mengubah siklus air, mengganggu curah hujan, serta memicu kekeringan di beberapa bagian dunia dan curah hujan yang dahsyat di bagian lain. Para ilmuwan juga memastikan perubahan iklim membuat kekeringan lebih lama, lebih parah, dan lebih sering terjadi. Akan tetapi yang kurang dipahami adalah kapan dan di mana kondisi kering ekstrem ini dapat memicu kekurangan air minum yang akut.

Para peneliti menggunakan model iklim terbaru untuk memperkirakan kapan permintaan air akan melebihi pasokan dari curah hujan, sungai, dan waduk. Simulasi menunjukkan titik panas ”Hari Nol” kemungkinan muncul di 35 persen wilayah rawan kekeringan dalam 15 tahun ke depan.

Kota Cape Town di Afrika Selatan menghadapi ancaman ”Kekeringan Hari Nol” pada 2018. Pada hari itu keran-keran air hampir kering bagi jutaan orang. Kota Chennai di India menghadapi krisis serupa pada tahun berikutnya.

Dengan pemodelan iklim, para peneliti memperingatkan frekuensi episode ”Hari Nol” dapat meningkat jauh lebih cepat daripada yang diantisipasi sebelumnya. Wilayah paling terdampak adalah wilayah Mediterania, Afrika bagian selatan, dan sebagian Amerika Utara.

Menurut studi tersebut, kondisi itu akan mengancam 750 juta orang di seluruh dunia pada tahun 2100. Dari populasi yang terancam, kira-kira dua pertiganya di perkotaan dan sisanya di perdesaan.

Saat ini saja, menurut studi itu, kota-kota sudahlah mengalami krisis serupa. Kota besar, seperti Los Angeles, tetap sangat rentan. ”Peristiwa semacam itu bukan sekadar kekhawatiran masa depan di dunia yang semakin memanas, tetapi juga kenyataan jangka pendek. Diperlukan perencanaan yang lebih baik,” kata studi itu. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari