Donald Trump menarik pelatuk perang dagang dengan Meksiko, China, dan Kanada. Efeknya berantai bagi rumah tangga dan bisnis di Amerika Serikat.
05 Mar 2025 09:28 WIB · Internasional
WASHINGTON, RABU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Selasa (4/3/2025), telah menarik pelatuk perang dagang dengan dua tetangganya, Kanada dan Meksiko, serta pesaing strategisnya, China. Banyak analis memerkirakan efek negatif perang dagang ini akan sangat terasa bagi perekonomian AS dibanding manfaatnya.
Kebijakan menaikkan tarif mulai berlaku setelah Trump menilai bahwa pemerintah ketiga negara tersebut gagal membendung aliran fentanil ke AS.
Seiring itu, untuk meredam efek perang dagang, termasuk potensi kenaikan harga kendaraan di pasar AS, Trump dan kabinetnya mencoba mencari titik temu dengan ketiga pemerintahan.
Picu perang dagang ditekan Trump tepat Selasa tengah malam. Ia mengenakan tarif 25 persen pada semua barang impor dari Meksiko dan Kanada. Minyak dari Kanada dikecualikan dari dkema ini dan hanya dikenai bea masuk tambahan 10 persen. Sedangkan terhadap produk asal China, Trump menggandakan tarifnya menjadi 20 persen.
Keputusan itu membuat AS meninggalkan kebijakan perdagangan bebas yang selama ini menjadi penjuru kebijakan perdagangan global AS selama beberapa dekade usai Perang Dunia II. Trump menilai sistem perdagangan ini merugikan perekonomian AS, dan sebaliknya, menaikkan tarif akan membawa kemakmuran bagi negara tersebut. Ia menolak pandangan ekonom arus utama yang menyebut proteksionisme yang dijalankannya mahal dan tidak efisien.
“Pajak impor adalah senjata yang sangat ampuh yang tidak digunakan politisi karena mereka tidak jujur, bodoh, atau dibayar dengan cara lain," kata Trump, Senin (3/3/2025). "Dan sekarang kita menggunakannya.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/05/aea3a3c87030fc4d6362db05d1980c83-063_2203134896.jpg)
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyebut keputusan Trump itu sebagai tindakan bodoh dan akan menjadi bumerang. Kanada membalas kebijakan Trump itu dengan menaikkan 25 persen atas produk impor asal AS senilai 20,7 miliar dollar AS. Produk yang terimbas adalah jus jeruk, selai kacang, anggur, minuman beralkohol, bir, kopi, hingga sepeda motor.
Di luar itu, Trudeau juga mengatakan akan mengenakan tambahan tarif bea masuk barang impor asal AS senilai lebih dari 100 miliar dollar AS jika Trump masih ngotot memberlakukan tambahan tarif selama 21 hari ke depan. Barang-barang AS yang akan dikenai kenaikan tarif diantaranya kendaraan bermotor, baja, pesawat terbang, daging sapi, dan daging babi. Kanada juga akan menentang tarif AS berdasarkan aturan WTO dan perjanjian perdagangan bebas AS-Meksiko-Kanada.
"Mereka telah memilih untuk melancarkan perang dagang yang, pertama dan terutama, akan merugikan warga Amerika," kata Trudeau. Pada saat yang sama, Trudeau mengatakan, pemerintah AS di bawah Trump tengah berpikir untuk bekerja sama dengan pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin. ”Ini adalah hal yang sangat bodoh untuk dilakukan."
Berbeda dengan Kanada yang langsung membalas kebijakan Trump, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan mereka baru akan mengumumkan pilihan kebijakannya pada Minggu (9/3/2025).
Menanggapi langkah Kanada, Trump pun berencana untuk kembali menaikkan tarif terhadap negara itu. "Tolong jelaskan kepada Gubernur Trudeau, dari Kanada, bahwa ketika ia mengenakan tarif balasan pada AS, Tarif Timbal Balik kami akan segera meningkat dengan jumlah yang sama!" tulis Trump di platform media sosial pribadinya
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/30/8d53ca31c346dfe0ff8019a01b2e1b84-000_36NQ99J.jpg)
Menanggapi tindakan Trudeau, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan, Trump mungkin akan menyusun resolusi parsial untuk Kanada dan Meksiko. Tetapi, hal itu tidak akan menghentikan kenaikan tarif. "Tidak akan ada jeda, tidak ada jeda seperti itu. Akan tetapi, saya pikir dia (Trump) akan memutuskan, kamu berbuat lebih banyak, dan saya akan menemuimu di tengah jalan, dan kami mungkin akan mengumumkannya besok,” katanya dalam wawancara dengan Fox Business Network.
Lutnick juga mengatakan bahwa dirinya telah berbicara dengan sejumlah pejabat pemerintah kedua negara. Seorang sumber mengatakan kepada Reuters bahwa dia berbicara dengan Menteri Keuangan Kanada Dominic LeBlanc
Lutnick mengatakan Trump sedang mempertimbangkan untuk memberikan keringanan kepada perusahaan yang mematuhi peraturan berdasarkan Perjanjian AS-Meksiko-Kanada tentang perdagangan bebas, yang menurut rencana akan ditinjau ulang tahun depan.
Sejumlah analis dan pebisnis AS mengkhawatirkan pilihan kebijakan Trump itu memiliki efek balik terhadap perekomian AS ketimbang efek positifnya. Tidak hanya membuat pasar menjadi rentan, harga barang kebutuhan sehari-hari diyakini akan naik. Ujungnya, kesejahteraan warga akan tergerus di tengah pendapatan yang tidak mengalami perbaikan.
CEO Target, Brian Cornell mengatakan, mereka tidak punya pilihan lain selain menaikkan harga sejumlah produk musiman selama tidak ada perubahan kebijakan. Hal senada disampaikan CEO Best Buy Corrie Barry yang menyebut bahwa sumber utama produk yang dijual perusahaannya berasal dari China dan Meksiko.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/05/d78afb3a294a6c41ccacd4e9e68d3fae-063_2203087435.jpg)
Kenaikan tarif 20 persen untuk barang impor asal China disebut Barry akan berlaku untuk beberapa kategori, mulai dari ponsel pintar, laptop, konsol gim video, jam tangan pintar dan pengeras suara, serta perangkat Bluetooth.
Ekonom Dartmouth College Douglas Irwin, yang juga penulis sejarah kebijakan tarif AS tahun 2017, telah menghitung bahwa kebijakan Trump menaikkan tarif akan membuat tarif rata-rata Amerika Serikat naik dari 2,4 persen menjadi 10,5 persen, level tertinggi sejak tahun 1940-an. "Kita benar-benar berada di era baru."
Secara riil, kebijakan menaikkan tarif itu akan membuat beban rumah tangga menjadi lebih tinggi sekitar 1.000 dollar AS per tahun.
"Kami memperkirakan tarif tersebut dapat menyebabkan kenaikan biaya barang hampir 1.000 dollar per rumah tangga setiap tahunnya," kata kepala ekonom Nationwide Mutual, Kathy Bostjancic. Angka itu, menurut Bostjancic bisa lebih besar jika pemerintah tidak berhasil menekan laju inflasi.
Kebijakan Trump ini juga dinilai tidak cukup untuk mendorong kembalinya industri manufaktur di AS. Alan Russell, Kepala Tecma, yang membantu pabrik-pabrik berdiri di tempat-tempat seperti Ciudad Juarez, skeptis bahwa tarif baru yang dikenakan Trump akan membawa kembali manufaktur ke Amerika Serikat.
"Tidak seorang pun akan memindahkan pabrik mereka sampai mereka memiliki kepastian," kata Russell. Minggu lalu, katanya, Tecma membantu produsen North Carolina yang pindah ke Meksiko karena tidak dapat menemukan cukup pekerja di Amerika Serikat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/05/017f4e3574dfd96b675782dc65059045-063_2203287382.jpg)
Kenaikan harga juga akan terasa di sektor otomotif, terutama karena tidak mudah bagi para pengusaha memindahkan fasilitas produksinya dari satu negara ke negara lain.
"Anda tidak bisa begitu saja memindahkan produksi otomotif dan rantai pasokan dalam semalam. Itulah tantangan dan dilemanya: tarif otomotif di Amerika Utara dapat meningkatkan biaya bagi konsumen sebelum lapangan kerja kembali ke negara ini," kata John Bozzella, CEO Aliansi untuk Inovasi Otomotif yang beranggotakan beberapa perusahaan terkemuka seperti Ford, Toyota, Volkswagen hingga Stellantis.
Dalam sebuah surat elektronik pada diler-diler di seluruh AS, Stellantis menyebut mereka akan bekeja sama dengan pemerintah untuk mengelola tambahan beban biaya yang dirasakan oleh pelanggan.
"Karena industri ini sangat terintegrasi di seluruh Amerika Utara, tarif ini akan menempatkan merek unggulan Stellantis Chrysler, Dodge, Jeep, dan Ram pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan importir Korea, Jepang, dan Eropa," kata produsen mobil tersebut dalam email yang dilihat oleh Reuters.
Minggu lalu Lutnick telah bertemu sejumlah pemimpin perusahaan otomotif di AS yang menginginkan agar pemerintah tidak melanjutkan kenaikan tarif secara besar-besaran. Bulan lalu, CEO Ford Jim Farley juga telah memperingatkan bahwa perang tarif dengan Meksiko dan Kanada akan membuat lubang di industri otomotif AS. "Apa yang kita lihat adalah banyaknya biaya, banyaknya kekacauan," katanya. (AP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari