TEKNOLOGI CANGGIH

Trump Abaikan Kekhawatiran Dunia soal Risiko AI

Pandangan Trump senada dengan prinsip para penganut ”akselerasionisme” yang percaya bahwa kemajuan teknologi bermanfaat bagi masyarakat serta menghasilkan kekayaan.

15 Sep 2026 16:50 WIB · Internasional

AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON, SELASA - Amerika Serikat menepis kekhawatiran tentang pengembangan teknologi akal imitasi (AI) yang dapat mengancam umat manusia. Washington menempatkan AI sebagai aset strategis untuk mengalahkan China dan negara lain yang tidak membutuhkan regulasi.

Presiden AS Donald Trump, Senin (14/9/2026), waktu setempat, mengatakan, Washington sudah memiliki jaring pengaman untuk mengatur dan menuntut perusahaan-perusahaan AI. Pernyataan ini disampaikan justru setelah para pemimpin industri AI berupaya mengerem pengembangan AI. Kebutuhan kontrol ini menyusul prediksi penyalahgunaan AI dapat memusnahkan manusia.

“Satu-satunya kontrol atau ‘kontrol pembatas’ yang dibutuhkan AI adalah presiden yang kuat dan cerdas dengan IQ tinggi! AS memilikinya, berlimpah! Pemerintah telah menghentikan orang-orang AI dari melakukan hal-hal buruk atau berpotensi buruk,” kata Trump di Truth Social.

Trump merujuk pada Anthropic, salah satu perusahaan kenamaan AI asal AS. Anthropic bersitegang dengan pemerintah AS karena ingin menentukan batasan pada model AI-nya, Claude, untuk tujuan militer. Baru-baru ini, kekhawatiran publik tentang bahaya AI semakin meningkat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One saat dalam perjalanan kembali dari Irlandia menuju Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, Minggu (13/9/2026). Dalam perjalanan tersebut, Trump membahas kunjungannya ke Irlandia serta sejumlah isu, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (AI), Ukraina, dan pemilu paruh waktu AS.
Foto kombinasi ini memperlihatkan (dari kiri) pemilik xAI Elon Musk di Davos, Swiss, tanggal 22 Januari 2026; CEO Anthropic Dario Amodei di Paris, Perancis, tanggal 22 Mei 2024; dan CEO OpenAI Sam Altman di Washington DC, Amerika Serikat, tanggal 22 Juli 2025. Sejumlah petinggi perusahaan AI menyerukan perlambatan pengembangan kecerdasan buatan yang berlangsung sangat cepat untuk memahami risiko teknologi tersebut.

Pekan lalu, peneliti Anthropic, Jacob Coxon, mengatakan, ia telah mengundurkan diri karena para pakar AI percaya bahwa teknologi ini dapat membunuh manusia pada akhir dekade ini. CEO Anthropic Dario Amodei juga menulis esai akhir pekan lalu bahwa pemerintah AS harus membuat peraturan yang mewajibkan audit independen terhadap alat AI tercanggih (frontier).

Seruan Amodei mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman dan pemilik xAI Elon Musk. Alhasil, saham-saham terkait AI berjatuhan di seluruh dunia pada Senin.

Namun, Trump menyebut bahwa seruan para pemimpin di industri AI mengenai pentingnya regulasi sebagai “hoaks”.

Bahkan, ia membandingkan kekhawatiran atas AI setara dengan isu keterlibatan Rusia dalam Pilpres 2016 dan perubahan iklim. Trump tidak mempercayai dampak krisis iklim, meski sudah memiliki bukti ilmiah.

“Saya adalah pembasmi hoaks. Saya sekarang sedang membongkar hoaks lain, yaitu bahwa AI akan mengambil alih, mengonsumsi, dan menghancurkan dunia serta bahwa robot akan berbaris ke kota-kota dan menyingkirkan kita semua!” ujar Trump bersikeras.

Selain perusahaan-perusahaan AI, sejumlah pihak lain sudah menyoroti risiko AI, termasuk mantan peneliti Google, Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer Yoshua Bengio, fisikawan MIT Max Tegmark, dan ahli teori otodidak Eliezer Yudkowsky.

Pada Senin, Ketua Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa Volker Turk, Senin, berseru agar negara dan korporasi segera mengendalikan teknologi AI.

Buat regulasi

Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan, Senin, ia berharap agar Trump bertemu dengan para eksekutif AI pada pekan ini atau awal pekan depan. “Pertemuan tersebut akan fokus pada tanggung jawab perusahaan untuk menjaga keamanan dan peran apa, jika ada, yang harus dimainkan pemerintah dalam hal itu,” ujarnya.

Menurut Johnson, lembaga legislatif cenderung merespons masalah dengan birokrasi yang berbelit serta regulasi yang berlebihan. Hal ini dapat menghilangkan keunggulan AS di sektor AI yang berisiko pada keamanan nasional. 

Tiga senator AS sedang mengerjakan Rancangan Undang-Undang (RUU) terkait pengaturan AI. RUU ini akan mewajibkan perusahaan AI untuk menunjukkan upaya yang wajar dalam mencegah teknologi tersebut menyebabkan bahaya. Rinciannya masih dibahas.

Banyak anggota parlemen dan kandidat dari Partai Demokrat melihat perlunya pengaturan AI. Tidak hanya soal keamanan AI, kecerdasan buatan itu juga meningkatkan risiko kehilangan pekerjaan, ketidaksetaraan, dan tagihan listrik yang lebih tinggi.

“Ini sangat nyata, terlepas dari apa yang dikatakan Donald Trump. Kita perlu bertindak sekarang,” kata Pemimpin Demokrat DPR Hakeem Jeffries dari New York di Capitol Hill.

Foto kombinasi ini memperlihatkan (dari kiri atas searah jarum jam) pemilik xAi Elon Musk di Davos, Swiss, tanggal 22 Januari 2026; CEO OpenAI Sam Altman di Washington DC, Amerika Serikat, tanggal 22 Juli 2025; salah satu pendiri dan Chairman DeepMind Demis Hassabis di London, Inggris, tanggal 9 Juli 2025; CEO Meta Mark Zuckerberg di Washington DC, AS, tanggal 31 Januari 2024; CEO Microsoft Satya Nadella di Davos, Swiss, tanggal 20 Januari 2026; CEO Anthropic Dario Amodei di Paris, Perancis, tanggal 22 Mei 2024; CEO Google Sundar Pichai di Warsawa, Polandia, tanggal 13 Februari 2025; dan CEO Nvidia Jensen Huang di Tokyo, Jepang, tanggal 16 Juli 2026. Sejumlah petinggi perusahaan AI menyerukan perlambatan pengembangan kecerdasan buatan yang berlangsung sangat cepat untuk memahami risiko teknologi tersebut pada September 2026.

Dalam esainya, Amodei menguraikan kerangka kerja tiga langkah untuk memperlambat laju pengembangan dan mengelola risiko AI. Ia ingin agar perusahaan AI menyertakan pihak independen untuk evaluasi, menetapkan standar keselamatan dan pembatasan pengembangan, serta menetapkan kerja sama internasional untuk mengelola risiko AI. Usulan ini mendapat dukungan Musk dan Altman.

Pada Senin, Microsoft menerbitkan kode etik AI. Panduan “AI Humanis” ini mengatur bagaimana AI harus berperilaku serta tetap berada di bawah kendali manusia. Kode tersebut akan berlaku untuk model-model AI internal Microsoft.

Pengaturan AI semakin mendesak mengingat terjadi sejumlah peristiwa penting menyusul ledakan industri AI. Selama perang AS-Israel dan Iran pada tahun ini, muncul diskusi tentang bagaimana militer mulai menyerahkan pembuatan keputusan kepada AI.

Di sisi lain, pengembangan AI tidak luput dari insiden. OpenAI melaporkan model AI eksperimental keluar dari ruang pengujian, mencapai internet, lalu menyerang Hugging Face, sebuah situs tempat kode disimpan. Warga AS juga semakin menolak pembangunan pusat-pusat data AI karena boros energi.

Lawan China

Trump melanjutkan, China akan mendapat manfaat dari keraguan yang timbul dalam pengembangan AI. “Siapa pun yang memenangkan AI, akan menang! Kami memimpin China dan semua negara lain,” ucapnya.

Secara terpisah, Trump kembali menegaskan tentang pentingnya pengembangan AI untuk melawan China saat menelepon CEO Nvidia, Jensen Huang dalam acara All-In Summit di Los Angeles, Senin. Pembicaraan mereka selama lima menit terdengar oleh para audiens karena Huang mengaktifkan fitur pengeras suara.

“Pusat data membuat orang dan negara kaya. Ini adalah minyak bumi untuk 20, 25 tahun ke depan. Para kritikus AI bermain sesuai keinginan orang yang tidak ingin melihat pengembangan itu terjadi, dan itu bisa jadi orang-orang politik, bisa jadi China. Kita tidak akan membiarkan itu terjadi,” kata Trump yang disetujui Huang.

Pernyataan Trump senada dengan prinsip para penganut akselerasionisme (boosters). Kaum ini percaya bahwa kemajuan teknologi membawa manfaat fundamental bagi masyarakat serta menghasilkan kekayaan. Etos itu tersebar di Silicon Valley dan investor yang berpengaruh di Gedung Putih, seperti Marc Andreessen dan David Sacks.

Ponsel pintar yang menampilkan sejumlah aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), termasuk LLM, chatbot, dan AI generatif, di Saint-Mande, sebelah timur Paris, Perancis, Rabu (15/7/2026). Sejumlah aplikasi tersebut antara lain Lumo, Meta AI, Mistral Vibe, Grok, Copilot, Gemini, Claude, Perplexity, DeepSeek, ChatGPT, NotebookLM, dan Suno. Sejumlah petinggi perusahaan AI menyerukan perlambatan pengembangan teknologi tersebut untuk memahami risiko yang ditimbulkan oleh kemampuan AI yang semakin maju pada September 2026.
Robot kendali jarak jauh buatan Unitree Robotics tergeletak di tanah saat beraksi dalam Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia atau World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2025 di Shanghai World Expo and Convention Center, Shanghai, China, Senin (28/7/2025)

Kaum akselerasionis menentang regulasi. Mereka sering menuduh kaum pesimis (doomers) sebagai kedok bagi perusahaan-perusahaan yang berupaya menggunakan regulasi untuk menghancurkan pesaing.

Adapun Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Washington, pekan depan. Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa Washington dan Beijing berencana mengadakan pertemuan terpisah pada pertengahan September untuk membahas risiko AI di bawah kepemimpinan pejabat tingkat rendah.

Sementara itu, pejabat China mengeluarkan peringatan terkait AI. Menteri Keamanan Negara China Chen Yixin menulis dalam sebuah artikel bahwa AI sekarang adalah “medan pertempuran utama untuk persaingan teknologi global”.

Chen menyoroti model AI Claude Mythos dari Anthropic dan ChatGPT-5.5-Cyber ​​dari OpenAI karena mempunyai kemampuan peretasan canggih. Akibatnya, kekuatan asing dapat menggunakan teknologi ini untuk mengancam ketertiban sosial. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase