Trump mengklaim perundingan sedang berlangsung antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang. Ancaman untuk menyerang Iran kembali ditunda hingga 10 hari.
27 Mar 2026 18:53 WIB · Internasional
AP / Vahid Salemi
WASHINGTON, JUMAT — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda tenggat serangan atas infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026 pukul 20.00 waktu AS atau Selasa (7/4/2026) pukul 07.00 WIB. Trump menyebut bahwa penundaan itu atas permintaan Iran. Trump mengklaim saat ini perundingan antara AS dan Iran tengah berlangsung dan berjalan positif.
Perpanjangan tersebut, menurut Trump, merupakan permintaan Teheran menyusul keputusannya, Senin (23/3), untuk menunda serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari. Sebelumnya Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
”Pembicaraan (dengan Iran) sedang berlangsung. Terlepas dari pernyataan yang salah yang bertentangan oleh media berita palsu, dan lainnya, pembicaraan berjalan dengan sangat baik,” klaim Trump dalam unggahan di Truth Social.
Dengan penundaan 10 hari, keputusan itu secara efektif juga menunda batas waktu yang diberikan Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz hingga tanggal yang sama. Namun, mengutip pernyataan mediator perundingan, Wall Street Journal menyebutkan, Iran tidak meminta jeda 10 hari sebagaimana disebutkan Trump. Sejauh ini, Trump belum mengungkap siapa wakil Iran dalam negosiasi itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/22/4edb0354-dd12-49af-af5c-13751385d854_jpg.jpg)
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Pakistan mengatakan, pembicaraan tidak langsung sedang berlangsung antara AS dan Iran. Turki dan Mesir mendukung upaya mediasi itu.
Kamis lalu, Trump menyarankan agar Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak, termasuk kapal-kapal berbendera Pakistan, untuk melintasi Selat Hormuz. Hal itu akan menjadi isyarat niat baik dalam negosiasi.
Trump mengatakan, AS akan menjadi ”mimpi buruk terburuk” Iran jika negara itu tidak mematuhi tuntutan AS, yang meliputi pembukaan Selat Hormuz dan penghentian program nuklirnya. Trump menyebutkan, mengambil alih kendali minyak Iran adalah opsi lain yang tersedia.
Sebelumnya, seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters, Pemerintah Iran sudah mengkaji secara rinci proposal 15 poin AS pada Rabu (25/3/2026). Proposal yang diterima Teheran melalui Pakistan itu tengah dikaji oleh para pejabat senior Iran dan perwakilan pemimpin tertinggi Iran.
Hasil kajian menunjukkan, proposal tersebut hanya melayani kepentingan AS dan Israel. Adapun cakupannya, menurut sumber Reuters, antara lain berisi tuntutan pembongkaran program nuklir Iran, pembatasan rudal, dan penyerahan kendali Selat Hormuz.
Teheran, menurut seorang pejabat Iran, berkeras menuntut jaminan tak ada lagi aksi militer di masa depan. Teheran juga menuntut kompensasi atas kerugian, dan kendali formal atas Selat Hormuz. Menurut sumber-sumber regional, Iran juga mengatakan kepada para perantara bahwa Lebanon harus dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/327101a87a4b45381fbd97d921b0ee9f-20260307_KID_AFP_Teluk_Hormuz_mumed.jpg)
Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, Iran membalas dengan menyerang Israel dan aneka fasilitas terkait AS di negara-negara Teluk. Dalam perkembangannya, perang itu mengimbas pada serangan terhadap sejumlah infrastruktur energi di wilayah Teluk.
Untuk memberi tekanan kepada AS dan Israel, Iran juga menutup Selat Hormuz, salah satu nadi utama energi dunia. Saat ini, situasi ini telah memicu persoalan energi global. Pasar pun mulai ”beriak” dan sejumlah negara di Asia mulai mengambil langkah darurat.
Memasuki minggu keempat perang, arus logistik khususnya energi semakin terganggu. Gangguan menyebabkan harga minyak mentah naik sekitar 40 persen, harga gas alam cair (LNG) melonjak, dan harga pupuk berbasis nitrogen, yang penting untuk produksi pangan, naik sekitar 50 persen.
Indeks saham anjlok tajam pada Kamis, dengan Nasdaq turun lebih dari 2 persen. Sementara harga minyak Brent melonjak hingga lebih dari 105 dolar AS per barel karena perang masih berkecamuk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/27/78af4e6f-6ec5-4e7c-bfc5-c6bec02711f6.jpg)
Pada saat Trump menunda ancamannya, Iran meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal ke Israel. Serangan Iran menghantam Tel Aviv, Haifa, dan daerah lain, termasuk sebuah kota di Israel tengah.
Menurut militer Israel, setidaknya satu rudal balistik menghantam Tel Aviv. Sementara rudal lainnya membawa bom kluster, yang menyebarkan bahan peledak yang lebih kecil, merusak rumah dan mobil.
Sebaliknya, dalam serangan ke Iran, bom-bom Israel menghantam kota selatan Bandar Abbas dan sebuah desa di pinggiran Shiraz. Sebuah gedung universitas di Isfahan dilaporkan terkena serangan.
Sementara itu, saat Trump mengumumkan penundaan tenggat serangan, mengutip pejabat Departemen Pertahanan AS, Wall Street Journal melaporkan, Pentagon sedang mempertimbangkan untuk mengirim hingga 10.000 anggota pasukan darat tambahan ke Timur Tengah. Selain itu, menurut sumber Reuters di Pentagon, AS juga mengerahkan kapal cepat tanpa awak untuk patroli sebagai bagian dari operasi melawan Iran. Ini adalah pertama kalinya Washington mengonfirmasi penggunaan alutsista tersebut dalam konflik aktif. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul