OBITUARI

Momen Pemakaman Try Sutrisno dan Pesan untuk Jaga Persatuan

Sebagai sesama prajurit, para yunior mengenang Try Sutrisno sebagai patriot sejati. Sampai akhir hayat, ia menularkan pesan untuk menjaga persatuan bangsa.

02 Mar 2026 19:11 WIB · Politik & Hukum

KOMPAS/RIZA FATHONI

Oleh Nino Citra Anugrahanto

JAKARTA, KOMPAS — Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno meninggal dalam usia 90 tahun, di Jakarta, Senin (2/3/2026). Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan, tak terkecuali para yuniornya dari lingkup TNI. Semasa hidup, sang senior dikenal sebagai patriot sejati sekaligus negarawan yang tak kenal lelah mengabdi bagi negerinya.

Sejak pukul 12.00, para pelayat berdatangan untuk ikut mengantarkan Try menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Senin. Sejumlah anggota Kabinet Merah Putih terlihat datang melayat, antara lain Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Agama Nazaruddin Umar; Menteri Luar Negeri Sugiono; Menteri Kebudayaan Fadli Zon; Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra; serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Selain pejabat negara, tokoh-tokoh nasional juga tampak dalam barisan pelayat. Tokoh-tokoh itu, antara lain, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Budiono, serta Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Tokoh-tokoh itu datang menuju lokasi pemakaman hampir bersamaan untuk mengikuti upacara penghormatan terakhir bagi almarhum.

Upacara penghormatan terakhir itu dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto yang datang bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming. ”Saya, Presiden Republik Indonesia, dan Tentara Nasional Indonesia dengan ini mempersembahkan ke Persada Ibu Pertiwi jiwa raga dan jasa-jasa almarhum,” ucap Presiden sebelum pemakaman almarhum. 

Istri almarhum Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno, Tuti Sutiawati (tiga kanan) beserta putra dan putri melakukan tabur bunga saat upacara pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Senin (2/3/2026). Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno meninggal pada usia 90 tahun setelah dirawat di RSPAD Gatot Soebroto sejak pertengahan Februari lalu. Kompas/Hendra A Setyawan

Semasa hidup, sebut Presiden, Try telah membaktikan diri demi kepentingan negara dan bangsanya. Ia berharap, seluruh kiprah almarhum dijadikan teladan bagi segenap anak bangsa. Ia juga mendoakan agar arwah almarhum bisa memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan. 

Hal senada disampaikan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan. Sebagai seorang purnawirawan TNI, ia termasuk salah seorang junior Try. Dalam pandangannya, Try adalah sosok senior yang bisa dijadikan panutan dan teladan. Pasalnya, Try selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. 

”Ya, kita anak-anak muda contohlah dari perilaku beliau. Terkait bangsa ini, beliau selalu bicara persatuan dan kesatuan, jangan gampang mencerca, mendengarkan secara baik-baik, melihat data yang ada, saya kira Pak Try memberikan contoh yang baik soal itu,” kata Luhut. 

Di sisi lain, Luhut juga mempelajari arti loyalitas dari Try sewaktu menjadi Wakil Presiden selama 1993-1998. Semasa menjabat, Try mampu menjaga kesetiannya pada kepala negara ketika itu, yakni Presiden ke-2 Soeharto.

Tak hanya itu, Luhut pun kagum akan semangat yang terus ditularkan Try meskipun sudah berusia senja. Bahkan, penyakit yang dialami seolah enggan ditunjukkan. Sang senior selalu ingin membagikan ilmu bagi para juniornya.

“Beliau selalu merasa tetap sehat. Tetap punya fighting spirit tinggi walaupun kita tahu beliau sakit. Jadi tetap (merasa) sehat),” kata Luhut, yang juga seorang purnawirawan TNI AD seperti Try. 

Mantan Menteri Pertahanan Agum Gumelar mengungkapkan kesan serupa. Ia mengenang Try sebagai sosok senior yang selalu memberikan inspirasi. Terlebih lagi, sebut dia, Try selalu mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa. Segenap anak bangsa didorong sebisa mungkin menjaga keutuhan negeri ini. 

“Itu yang paling sering dikemukakan Pak Try. Bagaimana kita bisa menjaga keutuhan bangsa ini. Itu yang selalu menjadi pegangan kita dalam upaya bisa menciptakan kondisi agar purnawirawan itu menjadi alat pemersatu bangsa,” kata Agum, seusai melayat.

Patriotisme tinggi

Sementara itu, Mantan Panglima TNI (2013-2015) Moeldoko menyatakan, Try adalah sosok negarawan yang memiliki semangat patriotisme tinggi. Menurut dia, Try selalu memotivasi yunior-yuniornya agar menjadi patriot sejati yang mengutamakan kejujuran. Sebagai salah seorang yuniornya, ia menjadikan wejangan-wejangan Try sebagai pedoman menjalani karier keprajuritan.

Quote

Hanya dengan itu (bersama rakyat) TNI menjadi kuat. Kalau TNI meninggalkan rakyat, TNI akan lemah. Itulah kira-kira nilai-nilai yang saya tarik dari pelajaran itu.

Moeldoko juga mengingat betul pesan Try yang sering kali menekankan pentingnya kehadiran TNI di tengah-tengah masyarakat. Apalagi jika masyarakat memang sedang benar-benar membutuhkan. Aspek itu termuat dalam salah satu kewajiban dari delapan poin “Wajib TNI”.

“Dan, ada satu klausul yang luar biasa di situ: menghormati hak-hak wanita, sehingga prajurit harus berjalan di atas itu,” kata Moeldoko, setelah melayat di rumah duka Try, di kawasan Menteng.

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) bersama Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI Jusuf Kalla (kanan) didampingi Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono menghadiri upacara pemakaman jenazah Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Senin (2/3/2026). Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno meninggal pada usia 90 tahun setelah dirawat di RSPAD Gatot Soebroto sejak pertengahan Februari lalu. Kompas/Hendra A Setyawan

Saking melekatnya pelajaran dari sang senior, Moeldoko memasukkannya dalam doktrin pertahanan negara saat menjabat Panglima TNI. Semasa memimpin, ia melahirkan slogan yang sekarang kondang di tengah masyarakat yang bunyinya, “Bersama Rakyat, TNI Kuat”. 

”Hanya dengan itu (bersama rakyat) TNI menjadi kuat. Kalau TNI meninggalkan rakyat, TNI akan lemah. Itulah kira-kira nilai-nilai yang saya tarik dari pelajaran itu,” kata Moeldoko.

Secara pribadi, Moeldoko juga selalu menyempatkan bertamu setiap perayaan Idul Fitri dari tahun ke tahun. Sewaktu bertamu, Try selalu menjamunya dengan makanan-makanan khas dari Jawa Timur. Kebetulan memang mereka berasal dari daerah tersebut. Try dari Surabaya, sedangkan Moeldoko dari Kediri. 

“Itu sungguh-sungguh menjadi kenangan yang luar biasa,” kenang Moeldoko.

Presiden Prabowo Subianto menjadi inspektur upacara pada pemakaman jenazah Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Senin (2/3/2026). Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno meninggal pada usia 90 tahun setelah dirawat di RSPAD Gatot Soebroto sejak pertengahan Februari lalu. Kompas/Hendra A Setyawan

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi merasa sangat kehilangan atas wafatnya Try. Menurut dia, sosok itu memiliki dedikasi tinggi bagi bangsanya. Ia menilai, pengabdian panjang dijalankan sosok itu meskipun usianya tak lagi muda. Pun, kondisi fisiknya perlahan mengalami penurunan.

Hingga sebelum wafat, Try masih menjabat Wakil Ketua Dewan Pengarah BPIP. Jabatan itu diembannya sejak lembaga itu berdiri. Jika merujuk surat keputusan (SK) terkait kepengurusan, ia masih akan mengemban jabatan itu setidaknya sampai Juni 2027 nanti. 

”Beliau ini penuh disiplin, sopan, dan tegas, tetapi juga penuh perhatian. Beliau juga tidak pernah marah. Dan, kalau datang rapat, pasti mendahului jadwal. Beliau juga pulang pasti setelah rapat selesai. Ini keteladanan dan kedisiplinan, yang dalam bahasa BPIP, itu sangat Pancasilais,” kata Yudian.

Jalan pengabdian yang panjang telah ditempuh Try semasa hidupnya. Kini, ia telah berpulang dan mengakhiri baktinya bagi negeri. Selamat jalan, Sang Patriot sejati….


Kerabat Kerja

Penulis:

Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P