Punya karakter saja tidak cukup. Pelatih AC Milan Sergio Conceicao mengatakan, ada hal mendasar yang perlu dia ubah di tim. Itulah tugas besarnya.
15 Jan 2025 12:53 WIB · Olahraga
COMO, RABU — AC Milan memiliki karakter, sesuatu yang mengantar tim ini selalu bisa bangkit dari ketertinggalan dan meraih kemenangan. Namun, pelatih anyar AC Milan, Sergio Conceicao, menilai, hal itu saja tidak cukup bagi ”Si Merah Hitam”. Perlu ada perubahan fundamental dalam tim apabila ingin meraih kejayaan.
Untuk kali ketiga, AC Milan meraih kemenangan setelah sempat kebobolan lebih dulu. Melawan Como 1907 dalam laga lanjutan Liga Italia 2024-2025 di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Como, Rabu (15/1/2025) dini hari WIB, Milan comeback untuk menang 2-1. Gol Assane Diao pada menit ke-60 dibalas gol Theo Hernandez pada menit ke-71 dan Rafael Leao lima menit kemudian.
Hasil dengan skenario serupa diraih Milan di Supercoppa Italiana atau Piala Super Italia saat bertemu Juventus. Milan menang setelah tertinggal satu gol lebih dahulu, menyamakan skor, lalu membalikkan keunggulan. Pada partai final melawan Inter Milan, Milan bahkan tertinggal dua gol sebelum akhirnya menang 3-2.
”Dalam empat pertandingan, kami telah melakukan comeback tiga kali untuk menang, jadi itu berarti ada karakter,” kata Conceicao, dikutip dari Football Italia. Melawan Cagliari pada 11 Januari lalu, Milan hanya bisa meraih imbang 1-1 setelah mencetak gol lebih dulu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/15/9a3f6f0a59f8761b03c27aea9c251731-wires_photo_65_.jpg)
Namun, menurut Conceicao, punya karakter saja tidak cukup. Apalagi, pelatih asal Portugal ini ingat bagaimana babak pertama kontra Cagliari, permainan anak-anak asuhannya sangat buruk. Tidak ada soliditas, pemain seolah berjalan masing-masing, lalu lawan dengan mudah mengembangkan permainan.
Untuk itu, Conceicao menilai bahwa tugas besar harus dijalannya dengan merombak fondasi tim. Dia akan menerapkan filosofi permainan berbeda yang mengandalkan permainan menekan dan bermain dengan intensitas tinggi.
Conceicao mengakui ada banyak pemain yang tidak terbiasa dengan filosofi permainannya. Namun, demi kejayaan yang diharapkan bisa diraih, baik di Italia maupun di Eropa, pelatih 50 tahun ini bertekad untuk mengubahnya.
”Kami memiliki ide-ide yang jelas, tetapi para pemain tidak terbiasa dengan jenis pekerjaan tertentu. Mereka berpikir bahwa jika mereka menekan dengan tinggi, mereka akan lebih banyak berlari. Itu tidak benar, Anda berlari lebih sedikit,” ujar Conceicao.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/15/878bb38d31e31852263be0ffeadd86e5-wires_photo_63_.jpg)
Dengan kemenangan atas Como, Milan kini menempati peringkat ketujuh klasemen sementara Liga Italia dengan 31 poin dari 19 pertandingan. Theo Hernandez dan kawan-kawan terpaut lima poin saja dari empat besar atau zona Liga Champions yang menjadi target mereka.
Menurut Theo Hernandez, posisi Milan di klasemen saat ini tampak tidak meyakinkan. Walakin, Hernandez percaya, Milan pada akhirnya bisa finis di zona Liga Champions pada musim ini.
”Kami melewati momen yang sulit, tetapi dengan kemenangan Piala Super Italia dan pertandingan ini, kami berharap dapat memperoleh tempat di Liga Champions,” tutur bek sayap asal Perancis ini.
Adapun berkat gol ke gawang Como, Hernandez mengoleksi 30 gol bersama Milan di Liga Italia sejak musim 2019-2020. Catatan ini membuatnya menjadi bek pertama dalam sejarah Milan yang mencapai jumlah tersebut di kompetisi ini sekaligus melewati torehan 29 gol legenda klub, Paolo Maldini.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .