Tujuh Jejak Intervensi Militer AS di Amerika Latin

Sebelum menyerang Venezuela, Amerika Serikat pernah melakukan operasi khusus ke sejumlah negara di Amerika Latin. Jejaknya tegas terekam dalam sejarah.

03 Jan 2026 20:16 WIB · Internasional

AFP

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

Sebagaimana telah banyak diduga, Amerika Serikat akhirnya menyerang Venezuela. Berawal dengan dalih memerangi kartel narkoba, Washington menumpuk kekuatan militernya di Karibia.

Ujungnya, pada Sabtu (3/1/2026) pagi, kekuatan itu dikerahkan ke Caracas. Dengan payung serangan udara terarah ke sejumlah sasaran vital seperti pangkalan udara dan basis militer, pasukan khusus AS merangsek masuk dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Intervensi militer seperti ini bukanlah yang pertama dilakukan AS atas sejumlah pemerintahan di Amerika Latin. Berikut rangkuman kantor berita AFP atas sejarah intervensi AS di Amerika Latin, terhitung sejak era Perang Dingin.

1.       1954: Guatemala

Pada 27 Juni 1954, Kolonel Jacobo Arbenz Guzman, Presiden Guatemala, digulingkan dari kekuasaan oleh tentara bayaran yang dilatih dan dibiayai oleh Washington, setelah reformasi agraria yang mengancam kepentingan perusahaan AS, United Fruit Corporation yang kemudian berubah menjadi Chiquita Brands.

Pada tahun 2003, Washington secara resmi mengakui peran badan intelijen AS, CIA, dalam kudeta tersebut. Dalih yang mereka gunakan adalah memerangi komunisme.

Warga bersandar pada sebuah truk dengan tempelan poster Fidel Castro di Santa Clara, Provinsi Villa Clara, Kuba, Sabtu (30/1/2022). Sosok Fidel Castro bagi masyarakat Kuba sebagai simbol perlawanan terhadap Amerika. People stand next to a truck with a poster depicting Cuban late leader Fidel Castro (1926-2016) in Santa Clara, Villa Clara Province, Cuba, on January 30, 2021. - Cuba's deputy minister for foreign relations Carlos Fernandez de Cossio hit out at the hypocrisy and

2.       1961: Kuba

Sejak tanggal 15 hingga 19 April 1961, sebanyak 1.400 militan anti-Castro yang dilatih dan didanai oleh CIA mencoba mendarat di Teluk Babi, sekitar 250 kilometer dari ibu kota Kuba, Havana. Terjadi pertempuran hebat yang menewaskan ratusan orang, baik dari pendukung Fidel Castro maupun dari pihak militan. Upaya kudeta itu gagal menggulingkan rezim komunis Fidel Castro.

3.       1965: Republik Dominika

Pada tahun 1965, dengan alasan ”ancaman komunis”, Amerika Serikat mengirim marinir dan pasukan lintas udara ke Santo Domingo. Misi mereka adalah menumpas pemberontak pendukung Juan Bosch, presiden sayap kiri.

4.       Di era tahun 1970 hingga 1980-an, AS justru mendukung beberapa diktator militer. Dukungan tersebut diposisikan sebagai upaya membendung gerakan sayap kiri dunia kala itu, dampak dari persaingan Perang Dingin.

Di masa itu, AS di antaranya aktif membantu diktator Chile, Augusto Pinochet, pada kudeta 11 September 1973 terhadap presiden sayap kiri, Salvador Allende.

Lalu pada tahun 1976, Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger menyatakan dukungan AS pada junta Argentina.

Secara keseluruhan pada tahun 1970-an dan 1980-an, enam kediktatoran (Argentina, Chile, Uruguay, Paraguay, Bolivia, dan Brasil) bergabung untuk melenyapkan lawan sayap kiri melalui operasi yang bertajuk ”Operasi Condor”. AS disebut-sebut, secara diam-diam menyokong operasi itu.

<p>A woman waves Cuban and American flags during a rally in calling for Freedom in Cuba, Venezuela and Nicaragua, in Miami, on July 31, 2021. &#8211; Human rights groups accuse Cuba&#8217;s rulers of using censorship and fear tactics to repress historic anti-government demonstrations &#8212; the biggest protests since the revolution that brought Fidel Castro to power in 1959. (Photo by CHANDAN KHANNA / AFP)</p>

5.       1980-an: perang di Amerika Tengah

Keberhasilan Sandinista menggulingkan diktator Nikaragua, Anastasio Somoza, pada tahun 1979 membuat Presiden AS Ronald Reagan cemas. Ia khawatir kelompok itu akan menjadi kaki tangan Kuba dan Uni Soviet.

Dipicu kekhawatiran itu, Reagen diam-diam mengizinkan CIA untuk memberikan bantuan sebesar 20 juta dollar AS kepada Contra, pasukan kontrarevolusioner Nikaragua. Bantuan itu sebagian besar didanai oleh uang hasil penjualan senjata ilegal ke Iran.

Konflik itu memicu perang saudara Nikaragua yang berakhir pada April 1990. Perang itu menelan 50.000 korban jiwa.

Di era yang sama, Reagen juga mengirim penasihat militer ke El Salvador untuk menumpas pemberontakan sayap kiri yang dimotori Front Pembebasan Nasional Farabundo Martí (FMLN). Perang saudara di negara tetangga Nikaragua itu (1980-1992) menyebabkan 72.000 orang tewas.

6.       1983: Grenada

Pada 25 Oktober 1983, marinir dan ranger AS diterjunkan ke Pulau Grenada setelah Perdana Menteri Maurice Bishop dibunuh oleh junta sayap kiri. Atas permintaan Organisasi Negara-Negara Karibia Timur (OECS), Reagan menyetujui Operasi ”Urgent Fury” dengan tujuan melindungi seribu warga AS. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam operasi yang menewaskan lebih dari 100 orang itu.

Jenderal Manuel Antonio Noriega di Panama, Mei 1989.

7.       1989: Panama

Pada tahun 1989, Presiden George W Bush memerintahkan intervensi militer ke Panama untuk menangkap Jenderal Manuel Noriega, mantan kolaborator intelijen AS. Sekitar 27.000 tentara AS diterjunkan dalam misi bertajuk Just Cause. Data resmi menyebutkan, dalam operasi itu 500 orang menjadi korban.

Noriega yang akhirnya menyerahkan diri serta diangkut ke AS dan mendekam di penjara negeri itu. Dakwaan yang dikenakan padanya adalah perdagangan narkoba. Ia kemudian menjalani hukuman tambahan di Perancis dan Panama. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul