Demi memenuhi kebutuhan air dalam tubuh, sejumlah warga membawa tumbler untuk menemani mereka menjalani beragam aktivitas di luar rumah.
09 Apr 2025 07:00 WIB · Investigasi
Ada pemandangan berbeda di Masjid Al Aqsha De Latinos, Tangerang Selatan. Tumbler dengan bentuk, ukuran, dan warna-warni berjajar di depan barisan jemaah shalat Tarawih, bersanding dengan Al Quran.
Jemaah itu telah mengikuti imbauan pengurus masjid Al Aqsha untuk membawa botol minum sendiri saat shalat atau kajian keagamaan. Gerakan membawa botol minum sendiri tersebut, menurut Maiyusril, pengurus Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) Al Aqsha, baru masif dilakukan tahun ini.
Sebenarnya, lanjut Yusril, imbauan membawa tumbler dimulai sekitar tahun 2019 bersamaan dengan kampanye Go Green. Hanya saja, imbauan itu belum rutin dilakukan dan hanya beberapa orang yang melakukannya.
”Dulu dalam setiap pengumuman selalu disebutkan, bagi yang mau minum, silakan bawa tumbler sendiri dan kami menyediakan water station-nya (tempat pengisian). Tetapi tidak berlanjut karena tidak ada yang mengingatkan. Alhamdulillah, beberapa tahun ini sudah semakin banyak anggota jemaah yang membawa botol minum saat shalat atau kajian,” tutur Yusril di Masjid Al Aqsha, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (26/3/2025).
Imbauan membawa tumbler itu, kata Yusril, dilatarbelakangi oleh banyaknya sampah plastik dari botol air kemasan. ”Kami memang menyediakan air kemasan saat ada kajian atau shalat yang durasinya lama. Tapi kok malah bikin sampah dan kita coba evaluasi,” ujar Yusril.
Sosialisasi gerakan membawa botol minum terus digaungkan. Tidak hanya melalui pengumuman di masjid, tetapi juga ditulis di pintu masuk masjid. Setiap ada pengumuman kajian lewat media sosial selalu disertakan catatan ”mohon membawa tumbler sendiri”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/02/28a1b590-c354-4450-a07a-dc633f853f34_jpg.jpg)
Sosialisasi tersebut, menurut Yusril, berhasil. Jemaah mulai membawa botol minum sendiri. Masjid pun menyediakan tiga titik galon untuk isi ulang air minum. Bagi jemaah yang tidak membawa tumbler, masjid menyediakan gelas kertas dengan jumlah terbatas. Dalam pantauan Kompas, masjid juga menyediakan beberapa gelas melamin, khususnya bagi jemaah yang ingin membuat minuman teh atau kopi.
Setelah gerakan bawa botol minum ini masif dilakukan tahun ini, Yusril berharap agar gerakan ini tetap berlanjut. Untuk itu, Yusril meminta agar antar-anggota DKM saling mengingatkan gerakan yang telah berjalan ini. ”Beberapa hari yang lalu, ada pihak yang datang yang membagi-bagikan botol plastik kepada jemaah yang lain. Saya mengingatkan, program masjid kan mengurangi penggunaan botol plastik,” katanya.
Penghematan keuangan masjid juga menjadi poin penting supaya gerakan ini tetap bisa berlanjut. ”Sebelumnya masjid menyediakan 10 dus botol air kemasan ukuran 330 mililiter. Tapi, setelahnya, kita stok botol seadanya saja,” kata Yusril.
Ada pihak yang datang yang membagi-bagikan botol plastik kepada jemaah yang lain. Saya mengingatkan, program masjid kan mengurangi penggunaan botol plastik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/03/580a51e4-0b8b-444d-835c-bf4ed2e85be8_jpg.jpg)
Botol air kemasan, lanjut Yusril, tetap perlu disediakan karena kadang ada imam, ustaz, ataupun tamu yang tidak membawa tumbler. Pengurus masjid juga menyediakan tumbler dengan logo Masjid Al Aqsha sebagai suvenir yang dijual di minimarket milik masjid ataupun diberikan gratis kepada pihak yang membutuhkan.
Jemaah masjid yang rutin mengikuti kajian setiap minggu tidak kesulitan mengikuti imbauan itu. Sebab, mereka telah terbiasa menggunakan tumbler dalam keseharian.
Seperti Widya (40), warga Tangerang Selatan, peserta kajian mingguan di Masjid Al Aqsha. Ia terbiasa membawa tumbler. Saat di rumah, Widya bersama suami dan anaknya menggunakan tumbler. ”Di rumah, masing-masing punya tumbler. Gelas di rumah saya jarang dipakai. Gelas hanya dipakai untuk membuat air minum yang ada rasanya,” kata Widya, Kamis (20/3/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/20/6dca3a72-fcf0-478f-bcfa-94874fd5b1e9_jpeg.jpg)
Kebiasaan serupa dijalani Astri (39), warga Tangerang Selatan, peserta kajian lainnya. ”Saya sudah terbiasa bawa tumbler tiap keluar rumah sejak tahun lalu. Kalau saya bawa tumbler, kan, saya gak perlu beli air mineral. Jadi, bisa mengurangi biaya. Saya juga ikut mengurangi sampah plastik. Kebetulan di kluster saya ada bank sampah,” ujar Astri, Selasa (18/3/2025).
Saya sudah terbiasa bawa tumbler tiap keluar rumah sejak tahun lalu. Kalau saya bawa tumbler, kan, saya gak perlu beli air mineral. Jadi, bisa mengurangi biaya.
Jauh sebelum gerakan bawa botol minum (BBM) masif digaungkan, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) memulai gerakan serupa untuk mengurangi sampah botol plastik air kemasan sejak 2011. Gerakan bersama itu bermula dari keprihatinan pada banyaknya sampah plastik. Kini, hal itu sudah menjadi kebiasaan seluruh anggota WKRI KAJ.
Miranda (68), umat gereja Paroki Stella Maris Pluit, Jakarta Utara, menceritakan, gerakan itu tercetus dalam terbentuk dalam acara Rapat Koordinator Daerah (Rakorda). Saat itu, dia menjadi anggota presidium II Dewan Pengurus Daerah Jakarta WKRI periode 2008-2013. Pada masa itu, isu kepedulian lingkungan hidup mulai dibicarakan masyarakat sehingga salah satu topik yang didiskusikan mengenai dampak sampah plastik, khususnya botol dan kemasan plastik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/02/d9f7e15f-a30a-4d7e-8dea-36ef7a0f6502_jpg.jpg)
Namun, pro dan kontra mencuat dalam Rakorda. ”Kalau kita memerangi sampah plastik, kasihan orang-orang kecil (pemulung) yang selalu mengambil botol plastik air kemasan untuk menjadi uang buat mereka,” ujarnya yang sekarang masih aktif sebagai anggota Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi KAJ, Jumat (28/3/2025).
Akhirnya, semua peserta Rakorda menyepakati gerakan BBM. Setiap rapat, peserta tidak diperbolehkan menggunakan air kemasan dari botol plastik demi mengurangi puluhan hingga ratusan botol plastik. Peserta harus membawa botol minum yang bisa diisi ulang dari galon yang disediakan.
Gerakan BBM yang diputuskan saat Rakorda itu ditindaklanjuti dengan pembagian botol air minum gratis kepada seluruh peserta. Selama dua tahun berikutnya, tumbler itu dibagikan sebagai hadiah atau suvenir acara organisasi. WKRI KAJ juga membagikan dispenser ke 65 gereja paroki di KAJ agar tiap anggota dapat menerapkan BBM.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/03/29b1d9b2-5405-48b8-bd16-3683a04eaed4_jpg.jpg)
Pengurus WKRI KAJ selalu mengingatkan anggotanya membawa tumbler di setiap rapat atau seminar. Jika terdapat anggota yang tidak membawa botol akan ditegur. ”Setiap ada acara, harus membawa botol minum sendiri untuk minum. Kalau tidak bawa, ya tidak bisa minum. Saya juga sering lupa bawa botol di awal-awal, jadinya memang tidak minum selama acara,” kata Miranda sambil tertawa.
Kedisiplinan itu membuahkan hasil. Menurut Miranda, selalu ada botol minum yang dibawa setiap anggota WKRI hingga saat ini.
Sayangnya, Miranda menilai, tidak mudah menyebarluaskan ke komunitas lainnya dalam gereja Katolik. WKRI hanya menerapkan kedisplinan kepada anggotanya saja, tetapi belum pada komunitas lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/03/930b1104-4783-4d8f-8278-38555f1d1707_jpg.jpg)
Jika ada acara rapat WKRI yang melibatkan komunitas lain, panitia masih menyediakan gelas kaca dalam jumlah terbatas. ”Bisa jadi komunitas lain tidak tahu gerakan yang kita sepakati. Jadi, daripada mereka tidak minum, kita sediakan gelas kaca,” ujar Miranda.
Selain menerapkan kedisplinan bagi anggota, kunci keberlanjutan gerakan BBM adalah penghematan kas keuangan WKRI. Dia mencontohkan, dalam sebuah acara yang dihadiri sekitar 300 orang, biasanya membutuhkan 15 dus botol plastik air kemasan yang masing-masing berisi 24 botol dan menghabiskan sekitar Rp 720.000. Namun, jika peserta membawa tumbler, persediaan air minum diganti dengan 3-5 galon yang hanya butuh anggaran Rp 60.000-100.000.
Tidak hanya di Jakarta, gerakan serupa juga berjalan di Semarang, Jawa Tengah. Lucia (51), umat Gereja Paroki Santo Yusup, Gedangan, Semarang, selalu membawa tumbler setiap ada kegiatan di gereja, seperti mengikuti seminar atau rapat. Gereja pun menyediakan air di galon bagi umat yang hendak mengisi ulang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/03/51135752-0d0a-46b8-a0d4-21f73aa62aa5_jpg.jpg)
Dia menceritakan, gerakan bawa tumbler sudah ada sejak lebih dari 5 tahun lalu. ”Awalnya, (almarhum) Romo Maryono SJ meminta konsumsi kegiatan gereja harus menggunakan piring dan gelas yang dicuci. Awalnya saya lupa. Namun, sekarang sudah menjadi kebiasaan. Bahkan, saya kalau tidak bawa botol merasa seperti tidak bawa handphone,” tuturnya saat dihubungi, Sabtu (29/3/2025).
Kebiasaan itu dapat tumbuh, lanjutnya, karena dia berprinsip untuk tidak menghasilkan sampah. Jika dia tidak membawa tumbler, dia akan membeli air dalam botol plastik yang kemasannya menjadi sampah. Oleh sebab itu, dia merasa nyaman jika membawa tumbler, salah satunya demi memenuhi kebutuhan minum 2,5-3 liter per hari.
Bahkan, saya kalau tidak bawa botol merasa seperti tidak bawa ’handphone’.
Anak muda pun tak mau ketinggalan. Tessa (21), umat Gereja Paroki Santo Stephanus, Cilacap, rajin membawa tumbler setiap ada kegiatan organisasi Orang Muda Katolik (OMK). ”Kami memulai sejak tiga tahun lalu karena prihatin terhadap sampah plastik yang ada di bumi,” ujarnya.
Untuk isi ulang, gereja menyediakan dispenser dengan galon berisi air. Terkadang, ada juga anggota OMK yang sukarela membawa galon air minum. Dia menilai, peserta kegiatan pun tak perlu bingung untuk isi ulang. Bonusnya, dia merasa dapat menghemat pengeluaran karena tidak perlu membeli air minum dalam kemasan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/07/02/8609ac1e-7cb2-4f10-a4a5-679dbcf1fb5f_jpg.jpg)
Apakah dahaga yang pasti muncul jadi alasan untuk tidak membawa botol minum saat berlari? Ternyata tidak. Nova (29), warga Jakarta Timur, bergabung dengan komunitas pelari yang membiasakan anggotanya membawa botol minum guna ulang tiap kegiatan.
Nova menceritakan, sejak menjadi anggota sekitar tahun 2020, komunitas sudah menerapkan kebiasaan tersebut. Menurut dia, kebiasaan membawa botol minum sejalan dengan kampanye hijau yang diusung komunitas tiap tahunnya. Dia tak masalah dengan hal itu karena sudah terbiasa membawa botol sendiri sejak duduk di bangku sekolah.
Apabila ada agenda berlari bersama, pengurus komunitas sudah menyediakan galon untuk isi ulang botol minum yang dibawa anggota. ”Kulihat teman-teman (anggota) juga bawa botol sendiri karena memang pas lari perlu hidrasi. Buat yang lupa bawa, aku pernah dengar mereka sih malu kalo bawa botol plastik sekali pakai ke acara komunitas itu, jadi mereka akan sembunyi-sembunyi,” tutur Nova saat dihubungi, Rabu (26/3/2025).
Penulis:
M Paschalia Judith J, Margaretha Puteri Rosalina, Albertus KrisnaEditor:
Andy Riza HidayatPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .