Sektor tunggal Indonesia menyisakan tiga pemain di Daihatsu Indonesia Masters 2025. Tunggal putri kini mulai bisa unjuk gigi, meskipun masih mencari pola.
23 Jan 2025 20:29 WIB · Olahraga
Jatuh bangun dijalani tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, ketika menghadapi Lin Hsiang Ti dari Taiwan di babak kedua Daihatsu Indonesia Masters 2025, Kamis (23/1/2025). Kondisi tubuhnya yang tengah batuk dan flu berat tak menghentikan upayanya meraih poin demi poin, walaupun momen interval sejenak di pinggir lapangan buru-buru dimanfaatkan untuk membersit hidungnya sembari menyimak arahan pelatih.
Menang di gim pertama, rupanya bukan jaminan mengulang sukses di gim kedua. Gregoria mulai terseok-seok. Tiap pukulannya melebar atau mentok di net. Gregoria pun dengan muka masam bergegas menoleh ke bangku pelatih. Imam Tohari, pelatih tunggal putri Indonesia, dan asistennya, Nunung Subandoro, berusaha menenangkan dan memberikan masukan.
Ketika poin berubah menjadi 13-16 di gim kedua dengan keunggulan Hsiang Ti, Gregoria mengangkat kedua tangannya seakan putus asa karena lagi-lagi gagal mengejar kok yang berbuah tertinggal tiga poin dari lawannya. Kendala itu memaksa Gregoria harus bermain rubber game.
Dengan mengerahkan daya yang ada, Gregoria kembali bangkit dan rela tersungkur berulang kali. Bahkan, seperti tanpa lelah, ia bergerak mental seperti bola bekel, ke sana kemari, mengamankan wilayahnya. Lob dan dropshot menyilang yang fantastis dan tak terduga berhasil mematikan Hsiang Ti. Gregoria pun memastikan tempat di perempat final dengan skor 21-13, 15-21, 21-14.
Selanjutnya, pemegang medali perunggu Olimpiade Paris 2024 ini akan berjumpa dengan tunggal putri Korea Selatan, Sim Yu-jin, yang menundukkan Nozomi Okuhara dari Jepang. ”Tidak gampang bermain dalam kondisi kurang fit. Lawan juga memberikan perlawanan yang bagus. Saya mau coba terus walaupun keadaan belum membaik,” ungkap Gregoria di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (23/1/2025).
Ia mengakui permainan di gim kedua sulit berkembang. ”Kondisi angin berbeda. Saya kurang leluasa menerapkan permainan yang diinginkan dan banyak melakukan kesalahan sendiri,” ujar Gregoria yang terhenti di semifinal apdaIndia Open 2025, pekan lalu.
Selain Gregoria, Putri Kusuma Wardani juga bermain taktis di babak 16 besar ini dan menyusul ke perempat final. Ia mengalahkan Kaoru Sugiyama dari Jepang lewat dua gim langsung, 21-16, 21-16, dalam waktu 44 menit. Putri akan berhadapan dengan pemain Taiwan, Wen Chi Hsu, di babak selanjutnya.
Sebelumnya, di Malaysia Open 2025, Putri juga melaju hingga perempat final setelah menang atas Gregoria di fase 32 besar. Akan tetapi, usahanya terhenti setelah melawan Ratchanok Intanon dari Thailand. Dengan mulai moncernya prestasi Putri sejak paruh kedua 2024, Gregoria bisa berbagi beban tunggal putri yang selama ini berpusat pada dirinya.
Di Indonesia Masters ini, Indonesia mengirim lima atlet putri. Namun, tiga di antaranya, yaitu Komang Ayu Cahya Dewi, Chiara Marvella Handoyo, dan Ruzana, tersingkir lebih dulu. Chiara setidaknya memercik semangat saat lolos babak kualifikasi, tapi lunglai segera saat berjumpa Chiu Pin-Chian dari Taiwan di babak pertama.
Apabila bertahun-tahun tunggal putri harus berjuang hanya dengan satu pemain di berbagai kompetisi internasional, kondisi ini kini menimpa sektor tunggal putra. Jonatan Christie menjadi satu-satunya tunggal putra Indonesia yang memastikan langkah ke babak selanjutnya seusai menaklukkan pemain asal Taiwan, Lin Chun-Yi, lewat rubber game, 21-9, 10-21, 21-15. Meski mengaku sempat kepayahan di gim kedua, Jojo, sapaan akrabnya, membalikkan keadaan memasuki babak ketiga.
”Musuh bermain lebih sabar, lebih save. Sepertinya, kondisi hari ini di lapangan babak kedua itu di bagian musuh lebih nyaman. Terlihat tadi saat set pertama, saya lebih enak untuk mengontrol jalannya shuttlecock,” ungkap Jonatan seusai pertandingan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/22/68512375-5f05-4fc2-be0d-4d372e852708_jpg.jpg)
Pada gim pertama, meskipun tak membuka poin awal dan sempat bersaing ketat menjelang pertengahan gim, Jonatan akhirnya kian menjauh dari skor Chun-Yi dan berhasil menang. Variasi drop shot lurus dan menyilang yang diandalkan Jonatan tepat sasaran disertai akurasi pengamatan lapangan yang cermat membuahkan hasil.
Sayangnya, pada gim kedua, Jonatan keteteran. Bolanya kerap melebar dan menabrak net. Strategi dengan variasi drop shot sembari sesekali diakhiri dengan smes pun bisa dipatahkan Chun-Yi. ”Selain kondisi, kendala tadi kurang sabar dan kurang tenang juga. Di set ketiga, bisa balik lagi dan memutar strategi,” ujar Jonatan.
Lolos dari babak 16 besar, Jonatan akan meladeni pemain Jepang, Kenta Nishimoto, yang melenggang setelah mengalahkan tunggal putra Indonesia, Chico Aura Dwi Wardoyo, di hari kedua dan unggulan dari India, Lakhsya Sen. Jonatan pun memilih mengambil jeda sejenak untuk memulihkan tenaganya yang surut setelah pertandingan tiga babak berdurasi 61 menit ini.
Awal tahun ini, Jonatan langsung menguras tenaga. Selepas tahun baru, Jonatan berangkat ke Malaysia Open. Di kompetisi Super 1000 ini, Jonatan takluk langsung pada laga pertama 32 besar menghadapi jagoan Perancis, Toma Junior Popov. Tuntas dari Malaysia, perjalanan Jonatan lanjut ke India Open Super 750 dan terhenti di semifinal setelah kalah dari andalan Denmark, Viktor Axelsen.
Intensitas cukup maksimal memang. Harus pintar-pintar recovery. Dari kondisi otot, kondisi mental, dan jaga emosi kitalah. Target bisa melaju sejauh mungkin untuk bisa mengumpulkan poin dan manage ranking juga.
Memasuki 2025, Jonatan seakan menjadi tumpuan sektor tunggal putra. Ia masih sempat ditemani Anthony Sinisuka Ginting di Malaysia Open. Namun, ketika di India Open, Jonatan berjuang sendiri setelah Ginting memutuskan mundur. Di Indonesia Masters kali ini, tiga tunggal putra diturunkan setelah Ginting juga kembali mundur akibat cedera bahu. Walakin, Alwi Farhan lebih dulu takluk di babak kualifikasi dan disusul Chico.
Kiprah Grego, Putri, dan Jonatan masih berlanjut esok….
Penulis:
Riana A Ibrahim, Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus Harjono