Trofi Piala Dunia telah hadirkan kenangan abadi bagi ribuan orang di Jakarta. Demi itu, ada rahasia yang dijaga rapat dan perjalanan mendebarkan.
23 Jan 2026 11:06 WIB · Olahraga
KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA
”Ini perjalanan paling menegangkan kami. (Cuaca) Asia Tenggara selalu sulit diprediksi,” ucap salah seorang delegasi FIFA dalam tur trofi Piala Dunia di Jakarta. Hal itu terucap dari mulutnya di hadapan Kompas dan Wakil Ketua Umum PSSI Ratu Tisha setelah pesawat berjenis Airbus A320 mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (22/1/2026) siang.
Kompas menjadi bagian dari sekitar 40 orang yang menaiki pesawat sewa milik Titan Airways untuk perjalanan tur trofi Piala Dunia menyambut edisi 2026. FIFA bersama mitra, Coca-Cola, telah memercayakan Titan Airways untuk membawa trofi yang digubah perusahaan asal Italia, GDE Bertoni, berkeliling dunia sejak 2018.
Jenis pesawat Airbus A320 yang Kompas naiki dari Bandara Internasional Subang, Kuala Lumpur, Malaysia, sudah digunakan jelang Piala Dunia 2022. Adapun pada 2018 pesawat yang digunakan adalah jenis Boeing 737.
Meskipun berada di kelas bisnis, Kompas bersama rombongan naratama lain, di antaranya Tisha, Presiden The Coca-Cola Company Asia Tenggara dan Pasifik Selatan Selman Careaga, serta Presiden Direktur Coca-Cola Indonesia Eva Lusiana, tidak dapat melihat trofi langsung selama perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam.
Selamat menikmati pengalaman sekali seumur hidup terbang bersama trofi Piala Dunia. Jangan tanya trofi di mana. Yang pasti, trofi ada di suatu tempat di pesawat ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/57b19cfef46b28430b7aa91efe9b439a-tempImageYa1B5F.png)
Penempatan trofi Piala Dunia itu hanya diketahui oleh segelintir tim FIFA serta legenda FIFA yang ikut dalam perjalanan. Di Malaysia dan Indonesia, Gilberto Silva, peraih Piala Dunia 2002 bersama timnas Brasil, didapuk sebagai pendamping trofi berlapis emas 18 karat itu.
Serupa dengan trofi, Silva juga menempati zona duduk khusus selama di udara. Ia tidak berada di kelas bisnis maupun ekonomi yang diduduki staf FIFA lainnya. Ada ruangan khusus di sisi paling belakang pesawat yang ditempati oleh Silva.
”Selamat menikmati pengalaman sekali seumur hidup terbang bersama trofi Piala Dunia. Jangan tanya trofi di mana. Yang pasti, trofi ada di suatu tempat di pesawat ini,” ucap staf FIFA lainnya yang menyambut tamu naratama sebelum lepas landas sembari tersenyum.
Mengikuti perjalanan dari Malaysia untuk menjemput trofi Piala Dunia, Kompas hanya berkesempatan bertatapan dengan trofi ikonik itu ketika dipamerkan di Sunway Pyramid, Petaling Jaya, Malaysia.
Penempatan trofi di hotel pun sangat dirahasiakan. Trofi yang mulai digunakan pada Piala Dunia 1974 selalu dikawal oleh dua pengawal khusus. Jumlah itu belum termasuk lima pasukan keamanan privat yang mengawal lima orang tim FIFA yang ditugasi mendampingi trofi itu.
Trofi itu dibawa khusus untuk masuk ke dalam pesawat di Bandara Internasional Subang. Tidak mampir sejenak di lounge naratama sebelum menaiki pesawat. Kondisi serupa juga diterapkan kepada Silva.
Ketika mendarat di Jakarta, trofi dan Silva merupakan rombongan terakhir yang turun. Mereka menunggu suasana benar-benar kondusif, terutama tidak ada kamera yang mengambil gambar dan video pada proses penurunan trofi dari pesawat.
Meskipun trofi Piala Dunia masih ditutup peti setinggi satu meter dan dibalut kain hitam, hukumnya haram bagi orang asing untuk memfoto trofi itu.
”Tolong kasih tahu ke mereka bahwa kami tidak ingin ada kamera,” ucap delegasi FIFA yang sebelumnya berbagi kesannya mendarat dengan cukup lama di Halim Perdanakusuma. Ia merujuk kepada fotografer dan petugas bandara yang memfoto kedatangan pesawat dengan kamera ponsel.
Dua motor dan satu mobil pengawal mengiringi perjalanan trofi Piala Dunia dan Silva dari Halim Perdanakusuma ke Jakarta International Convention Center (JICC), lokasi acara tur trofi di Jakarta.
Saat tiba di Plenary Hall A JICC, trofi di dalam peti langsung dibawa ke ruangan naratama yang hanya bisa dimasuki Silva dan tim kecil FIFA yang berjumlah tidak lebih dari 10 orang.
Mendaratkan trofi Piala Dunia bukan perkara mudah. Demi menyambangi Jakarta keempat kalinya setelah 2006, 2010, dan 2014, pesawat pembawa trofi berputar-putar di sekitar langit Halim Perdanakusuma selama lebih dari satu jam. Perjalanan yang awalnya berdurasi dua jam menjadi tiga jam.
Penundaan durasi perjalanan udara itu baru dialami dalam rangkaian tur tahun ini. Di 10 titik kunjungan sebelumnya, perjalanan berjalan tanpa hambatan berarti.
Hujan deras yang mengiringi Jakarta selama Kamis menyebabkan pilot berpikir ulang untuk mendarat tepat waktu. Sudah sempat berusaha mendarat, tetapi pilot memutuskan untuk naik kembali karena hujan membatasi jarak pandang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/4f36dd38905e3ef11a1568efaba795d1-tempImage7oVJtY.png)
Suasana tegang dan cemas dialami penumpang. Getaran hebat yang dialami selama lebih dari satu jam membuat para penumpang berusaha terlelap hingga merapal doa yang teringat di dalam kepala.
”Mau gerak ke kanan salah, ke kiri salah. Gue baca-baca doa,” ucap Tisha.
Ketika pilot berhasil mendarat dengan mulus, gemuruh tepuk tangan terdengar dari seluruh penumpang, salah satunya Careaga yang bertanggung jawab atas agenda tur itu di Malaysia, Indonesia, dan Thailand.
Sejumlah delegasi FIFA pun sepakat perjalanan di Indonesia merupakan yang paling menegangkan yang mereka rasakan. Mayoritas tim FIFA itu telah mengikuti perjalanan dari titik awal di Asia yang dimulai di Delhi, India.
Mereka sudah menyambangi Delhi dan Guwahati di India, Dhaka di Bangladesh, Seoul di Korea Selatan, Tokyo di Jepang, Petaling Jaya di Malaysia, serta Jakarta. Tim itu melanjutkan perjalanan ke Bangkok, Thailand; Almaty, Kazakhstan; dan Tashkent, Uzbekistan.
Susunan tim FIFA berbeda akan melanjutkan tur trofi di Afrika, Eropa Barat, serta Amerika Tengah mulai 31 Januari hingga 14 Februari mendatang.
Menjawab pertanyaan Kompas pada sesi wawancara khusus yang juga diikuti tiga media lain, Silva menyebut trofi Piala Dunia adalah salah satu simbol terbesar dalam dunia olahraga.
Keagungan trofi itu, kata Silva, merepresentasikan masifnya pengaruh Piala Dunia bagi kehidupan manusia di seluruh dunia. Mereka rela menghentikan aktivitas lain demi menyaksikan laga hingga menyisihkan uang untuk mendukung langsung tim dan pemain idola.
”Saat saya membuka (tirai penutup) trofi di Indonesia, saya melihat emosi dari mata orang-orang yang melihat trofi ini. Itu sangat mengagumkan dan juga menginspirasi saya,” ucap Silva.
”Ini yang membuat saya selalu bersemangat dan akan terus menjadi duta besar sepak bola. Hal yang telah membawa hidup saya di titik saat ini. Bisa memberikan pengaruh kepada orang lain; tidak hanya di Brasil, tetapi juga di seluruh dunia,” tuturnya melanjutkan.
Walaupun timnas Indonesia belum tampil di Piala Dunia, lalu belum bertambah pula jumlah warga Indonesia yang bisa memegang langsung trofi itu, Indonesia patut bangga sudah empat kali didatangi trofi Piala Dunia, serupa dengan Malaysia dan Thailand di kawasan Asia Tenggara.
Entah berdosa atau tidak untuk bermimpi timnas Indonesia bisa mengangkat trofi Piala Dunia. Setidaknya ada yang melanjutkan pengalaman Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono serta Wakil Presiden periode 2004-2009 dan 2014-2019 Jusuf Kalla yang bisa memegang langsung trofi ikonik itu.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra