BerandaEkonomiUang, Simbol Kepercayaan ...

Uang, Simbol Kepercayaan dan Keresahan Kelas Menengah

Tidak hanya dicari untuk memenuhi kebutuhan, uang pun kadang mengundang keresahan bagi masyarakat.

31 Okt 2024 10:03 WIB · Ekonomi

Oleh AGUSTINUS YOGA PRIMANTORO

Pengunjung merangkai <i>puzzel</i> bergambar mata uang rupiah dalam acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2024 di Jakarta Convention Center, di Jakarta, Rabu (30/10/2024). Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) diperingati setiap 30 Oktober.

Setiap tahunnya, pada 30 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Uang Nasional. Hal ini tidak lepas dari peristiwa bersejarah diterbitkannya Oeang Republik Indonesia atau ORI, yang menjadi cikal bakal mata uang rupiah di Indonesia.

Di balik acara seremonial tersebut, sebagian warga hampir selalu dibuat resah oleh alat tukar yang kini tak lagi sekadar berisi di dompet. Bagi sebagian besar orang, uang menjadi hal yang amat penting untuk menyambung napas kehidupan sehari-hari. Segala sesuatunya, mulai dari kebutuhan pokok, hingga demi memenuhi keinginan pribadi semata, membutuhkan uang.

Keresahan muncul ketika uang sebagai sarana untuk mendapatkan sesuatu tersebut kurang atau bahkan tidak ada, sedangkan kebutuhan terus bergulir. Berbagai upaya pun dilakukan untuk tetap memenuhi kebutuhan, mulai dari pinjam uang milik teman hingga gelap mata menghalalkan segala cara.

Baca juga: Segala Sesuatu Butuh Uang

Damianus Suryo (26), pekerja swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, kerap merasa resah ketika salah satu teman lamanya menghubungi secara tiba-tiba. Sebab, hanya sekali dua kali ia dihubungi oleh temannya yang hendak meminjam sejumlah uang.

”Uang bisa menjadi cerminan karakter seseorang. Rata-rata memang hampir selalu berujung merusak pertemanan, tetapi bisa juga untuk melihat sejauh mana orang itu bisa dipercaya,” katanya ketika dihubungi dari Jakarta, Rabu (30/10/2024).

single

Terlepas dari keresahannya dimintai pinjaman, Damianus justru lebih merasa resah ketika pundi-pundi penghasilannya tidak pasti. Sebagai karyawan yang tidak tetap, ia kerap merasa waswas sewaktu-waktu kontraknya tidak diperpanjang.

Senada dengan statusnya yang tidak tetap, penghasilannya pun demikian. Terkadang, gaji yang ia terima saban bulan bisa menembus upah minimum regional (UMR), kadang pula di bawah UMR. Oleh sebab itu, Damianus harus memutar otak untuk mengelola uangnya.

Quote

Tanpa perlu diperingati sebagai hari uang, setiap harinya orang pasti ingat untuk terus mencari uang. Apalagi, di zaman yang serba susah, harga-harganya mahal. Kadang mencarinya setengah mati, tetapi habisnya setengah sadar.

Setiap bulannya, ia mampu menyisihkan uang hingga sepertiga dari penghasilannya untuk ditabung. Selebihnya, gajinya habis untuk kebutuhan sehari-hari, seperti untuk membeli makanan, membeli bensin, serta kebutuhan pribadi lainnya seperti peralatan mandi.

”Tanpa perlu diperingati sebagai hari uang, setiap harinya orang pasti ingat untuk terus mencari uang. Apalagi, di zaman yang serba susah, harga-harganya mahal. Kadang mencarinya setengah mati, tetapi habisnya setengah sadar,” ujarnya.

single

Senada, Carolus Arya (27), karyawan swasta di Jakarta, menceritakan, tidak mudah untuk menghimpun pundi-pundi rupiah saat ini. Di tengah kenaikan harga-harga, dibutuhkan usaha lebih untuk benar-benar bisa menyisihkan penghasilannya.

Meski belum genap setahun bekerja, ia merasa cukup kelimpungan untuk menata keuangannya. Salah satunya karena biaya akomodasi tempat tinggal hingga hampir memakan sepertiga dari penghasilannya yang sedikit di atas UMR.

”Kalau datang ke ibu kota buat bertahan hidup, ya, setuju, mampunya bertahan hidup, bukan untuk mengembangkan hidup. Tidak mungkin rasanya meningkatkan taraf kehidupan di sini,” tuturnya.

Baca juga: Kaluna dan Kekalutan Kelas Menengah Merajut Hunian Impian

Menurut Arya, uang memang penting demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, uang kerap menjadi standar dalam hal apa pun sehingga bisa menjadi alat kontrol bagi masyarakat.

”Semua ujung-ujungnya uang pokoknya. Sampai kita lupa bahwa ada yang lebih penting daripada uang, seperti sekadar berbincang tentang hal apa saja,” katanya.

single

Kisah Damianus dan Arya kiranya menjadi potret kecil dari kebanyakan kelas menengah yang masih terus berjuang mencari uang dengan harapan dapat meningkatkan taraf hidup. Bagaimana tidak? Kenaikan harga-harga kebutuhan belakangan tidak berbanding lurus dengan kenaikan upah.

Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), rata-rata penghasilan bersih masyarakat selama 2017-2023 hanya naik 15 persen. Di sisi lain, kenaikan harga-harga yang tecermin dari indeks harga konsumen lebih tinggi, yakni sebesar 18,5 persen. Selain itu, kredit konsumer setelah pandemi Covid-19 melonjak hingga 44,8 persen.

Kondisi tersebut lambat laun membuat kelas menengah di Indonesia tergerus. Badan Pusat Statistik (BPS), dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2023 mencatat, jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 52 juta jiwa atau setara 18,8 persen dari total populasi, lebih rendah dibanding pada 2018 yang sebanyak 60 juta jiwa.

Adapun Bank Dunia mendefinisikan kelas menengah memiliki sebagai kelompok dengan tingkat pengeluaran Rp 1,2 juta-Rp 6 juta per orang per bulan. Sementara itu, BPS mendefinisikan kelas menengah dalam tiga kategori, yakni kelas menengah bawah (emerging middle), kelas menengah (middle), serta kelas menengah atas (upper middle).

Karyawan berjalan melewati trotoar menuju Stasiun Sudirman, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2024).

Mereka yang disebut kelas menengah bawah jika pengeluaran keluarga berkisar Rp 1,5 juta-Rp 2 juta per bulan, kelas menengah sebesar Rp 2 juta-Rp 3 juta per bulan, serta kelas menengah atas sebesar Rp 3 juta-Rp 5 juta.

Jumlah kelas menengah tersebut turun 8,5 juta jiwa penduduk menjadi calon kelas menengah. Menurut kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), penurunan jumlah kelas menengah disebabkan oleh pelemahan daya beli. Ini tecermin dari meningkatnya pengeluaran kelas menengah untuk makanan, dari 36,6 persen pada 2014 menjadi 41,3 persen pada 2023.

Baca juga: ”Stealthflation” yang Perlahan Menggerogoti Kelas Menengah


Kerabat Kerja

Penulis:

AGUSTINUS YOGA PRIMANTORO
 | 

Editor:

ARIS PRASETYO