Uangku, Pahlawanku

Tampilnya wajah-wajah pahlawan nasional dalam mata uang RI, baik uang kertas maupun logam, merupakan penghormatan negara.

08 Nov 2025 10:00 WIB · Politik & Hukum

KOMPAS/MADINA NUSRAT

Oleh Kurnia Yunita Rahayu, Nina Susilo, Iqbal Basyari

Setiap kali membuka dompet, ada sejarah yang ikut terbuka. Lembaran rupiah yang berpindah dari tangan ke tangan itu tidak sekadar alat tukar. Uang adalah kisah panjang tentang perjuangan, pengorbanan, dan kebanggaan sebuah bangsa yang melawan penjajah.

Wajah-wajah pahlawan nasional di tiap pecahan rupiah bukan sekadar penghias desain, melainkan penanda jati diri. Di sana, ada Sukarno dan Hatta yang memproklamirkan kemerdekaan, Ngurah Rai yang berjuang sampai titik darah penghabisan, Ratulangi yang memanusiakan manusia, hingga Cut Nyak Meutia yang bertempur hingga akhir hayatnya.

Lembaran rupiah yang terkadang disimpan hingga lusuh sesungguhnya memuat denyut panjang perjuangan bangsa. Dari darah dan peluh para pejuang, dari meja perundingan, hingga ruang percetakan rahasia yang dulu bersembunyi di balik hutan dan gudang-gudang tua.

Kini, 79 tahun setelah ORI pertama kali beredar, wajah-wajah yang dulu berjuang di medan perang, ruang diplomasi, hingga pelosok negeri kembali hidup di tangan rakyat. Mereka tidak lagi memimpin pasukan atau berpidato di mimbar, tetapi menatap rakyat dari balik lembaran uang.

Uang kertas nominal Rp 1000 yang terbit tahun 1980 menampilkan sosok pahlawan nasional, Dr Soetomo, pendiri Budi Utomo.  Pada 1987, uang kertas Rp 1000 menampilkan pahlawan Sisingamangaraja.

Di pecahan Rp 100.000, terpampang sosok Sukarno dan Mohammad Hatta yang menjadi tonggak republik. Proklamator kemerdekaan yang pada 17 Agustus 1945 menandai lahirnya Indonesia.

Turun satu pecahan, Rp 50.000 menampilkan wajah I Gusti Ngurah Rai, pahlawan dari Bali yang memimpin Puputan Margarana tahun 1946, pertempuran tanpa menyerah melawan pasukan Belanda. ”Puputan” berarti perang sampai mati. Dan benar, Ngurah Rai gugur bersama pasukannya demi menjaga kehormatan Tanah Air.

Quote

Wajah para pahlawan di uang ini menjadi lambang bahwa perjuangan mempertahankan kedaulatan daerah adalah bagian dari perjuangan nasional.

Pada Rp 20.000, tampil Gerungan SJ Ratulangi, tokoh pendidikan dan nasionalis dari Sulawesi Utara. Ia mengajarkan falsafah Minahasa yang abadi ”Si tou timou tumou tou”, yang berarti manusia hidup untuk memanusiakan manusia. Uang ini seakan mengingatkan, nilai rupiah bukan hanya ekonomi, melainkan juga kemanusiaan.

Pecahan Rp 10.000 menampilkan Sultan Mahmud Badaruddin II, penguasa Palembang yang menolak tunduk pada kolonialisme. Ia berjuang mempertahankan martabat bangsanya hingga diasingkan ke Ternate. Wajah para pahlawan di uang ini menjadi lambang bahwa perjuangan mempertahankan kedaulatan daerah adalah bagian dari perjuangan nasional.

Petugas menunjukkan uang rupiah kertas emisi tahun 2022 saat Festival Rupiah Berdaulat yang diadakan oleh Bank Indonesia di GOR Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (19/8/2022). Dalam festival yang bertujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang peran rupiah dalam sejarah bangsa ini juga diperlihatkan uang rupiah kertas emisi tahun 2022. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 19-08-2022

Lalu ada KH Idham Chalid di pecahan Rp 5.000, seorang ulama dan negarawan yang ikut membentuk karakter Islam moderat Indonesia. Ia menunjukkan bahwa perjuangan bangsa tidak selalu di medan perang, tetapi juga di ruang ilmu dan kepemimpinan.

Pecahan Rp 2.000 menampilkan Pangeran Antasari dari Kalimantan Selatan, pemimpin Perang Banjar yang berjuang dengan semboyan: ”Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah.” Sementara pada Rp 1.000, tersisa wajah Cut Nyak Meutia, srikandi Aceh yang menolak menyerah hingga peluru terakhir.

Rasa memiliki

Sejak pemberian gelar pahlawan nasional dimulai pada 1959, Indonesia telah menetapkan 206 pahlawan nasional, terdiri dari 190 laki-laki dan 16 perempuan. Sebagian di antaranya digunakan untuk gambar di uang rupiah dalam berbagai pecahan. Uang-uang tersebut tidak sekadar menjadi alat tukar, tetapi juga alat yang membangkitkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap bangsa Indonesia.

Pegiat numismatik, Berthold Sinaulan, misalnya, mengoleksi banyak uang kertas atau banknote rupiah dari yang pertama kali diterbitkan pada 1945 hingga saat ini. Dari sejumlah koleksinya, tampak bahwa gambar pahlawan yang digunakan pada pecahan uang kertas berevolusi dari masa ke masa. Pada era awal pencetakan uang tahun 1945, 1947, hingga 1950, hanya gambar Presiden pertama RI Soekarno yang digunakan di uang kertas. Memasuki 1952, ada tokoh lain yang juga muncul, misalnya, Pangeran Diponegoro dan RA Kartini.

Contoh uang kertas dengan desain gambar pahlawan.

Berbeda dengan era Orde Lama yang identik dengan uang bergambar Bung Karno, pemerintahan Orde Baru menggunakan gambar Panglima Besar Jenderal Soedirman pada satu seri uang yang terdiri dari 11 pecahan, yakni Rp 1, Rp 25, Rp 5, Rp 10, Rp 25, Rp 50, Rp 100, Rp 1.000, Rp 5.000, dan Rp 10.000, yang diterbitkan pada 1968. Setelah itu, wajah pahlawan nasional kian banyak tampil di uang kertas rupiah. Mereka, antara lain, pendiri organisasi kebangkitan nasional Boedi Oetomo, Dr Soetomo, Raja Sisingamangaraja XII, dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Wajah Presiden ke-2 RI yang memerintah sejak 1966—1998 pun turut dicetak di uang pecahan Rp 50.000 pada 1993.

Dari sekian banyak pecahan uang kertas rupiah, kata Berthold, koleksi favoritnya adalah pecahan Rp 10.000 terbitan 1993 yang bergambar Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan latar belakang perkemahan Pramuka di bagian depan. Di bagian belakang, pecahan uang itu bergambar Candi Borobudur. Adapun tanda air dari uang kertas ini bergambar wajah WR Supratman.

Quote

Tampilnya wajah-wajah pahlawan nasional dalam mata uang RI (baik uang kertas maupun logam) merupakan penghormatan negara.

”Sebagai pembina Pramuka dan penulis sejarah kepanduan/kepramukaan, saya juga mengoleksi berbagai memorabilia kepanduan. Seperti diketahui, dalam mata uang kertas itu terdapat gambar perkemahan Pramuka dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka di Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste) pada 1988, telah ditetapkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia,” ungkap Berthold saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (6/11/2025).

Selain itu, gambar Candi Borobudur juga membuat Berthold merasa dekat dan terwakili di pecahan uang tersebut. Sebab, itu erat kaitannya dengan latar belakang pendidikan dia sebagai arkeolog yang kini menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah Jabodetabek.

”Tampilnya wajah-wajah pahlawan nasional dalam mata uang RI (baik uang kertas maupun logam) merupakan penghormatan negara dan bangsa atas perjuangan dan pengabdian mereka sekaligus pengakuan negara serta pemberitahuan ke seluruh masyarakat di dalam maupun di luar negeri, mengenai keberadaan pahlawan nasional kita,” kata Berthold.

Uang kertas terbit tahun 1968 dengan figur pahlawan Jenderal Sudirman.

Sejarawan dan penulis buku Uang Indonesia, Sejarah dan Perkembangannya, Erwien Kusuma, mengatakan, penggunaan gambar pahlawan dalam berbagai pecahan uang rupiah tidak terlepas dari tren serupa di seluruh dunia. Hampir semua negara memiliki pecahan uang yang menggunakan gambar tokoh atau pahlawan nasional yang bisa dijadikan simbol bagi negara serta pemersatu masyarakat. Oleh karena itu, sejak Indonesia merdeka dan menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI), wajah Bung Karno dicetak dalam berbagai pecahan uang.

”Jadi, ketika orang melihat uang itu dia memiliki sense of belonging (rasa memiliki) karena ada sesuatu yang mewakili dirinya di uang itu,” kata Erwien, saat dihubungi Jumat (7/11/2025).

Dinamika Politik

Penggunaan wajah pahlawan juga tidak terlepas dari dinamika politik nasional. Pada masa awal kemerdekaan, kata Erwien, ORI ditujukan menjadi simbol kedaulatan negara yang baru saja lepas dari penjajahan. Gambar yang dipilih untuk dicetak di berbagai pecahan uang pun merupakan tokoh yang bisa menyebarkan semangat perlawanan terhadap penjajah. Selain wajahnya sendiri, Bung Karno juga memutuskan agar gambar Pangeran Diponegoro yang memimpin perang melawan Belanda pada 1825-1830, serta RA Kartini yang memperjuangkan pendidikan dan emansipasi perempuan di awal abad ke-20, dicetak di ORI.

Memasuki era Orde Baru, semangat membangun rasa kebangsaan melalui uang juga masih dilanjutkan. Sebagai Presiden, Soeharto memilih Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang memimpin gerilya perang kemerdekaan Indonesia, untuk dicetak di berbagai pecahan uang rupiah. ”Ada perbedaan preferensi dengan Bung Karno karena Pak Harto berlatar belakang militer maka tokoh yang dipilih untuk dicetak di uang juga yang memiliki kedekatan dengannya, Jenderal Soedirman, seorang tentara,” tutur Erwien yang turut menjadi pengelola Museum Bank Indonesia.

Selain itu, Soeharto menjadikan uang sebagai alat propaganda berbagai program pemerintah. Di beberapa pecahan uang, misalnya, ada gambar sandang, pangan, papan, yang merepresentasikan prinsip Trilogi Pembangunan Orde Baru. Begitu pula program Keluarga Berencana. Bahkan, mengikuti jejak Bung Karno, wajah Soeharto juga dimunculkan pada pecahan uang Rp 50.000 yang terbit pada 1993.

Petugas memberikan penjelasan kepada pengunjung mengenai sejarah uang rupiah dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit Expo di Jakarta International Convention Center, Jakarta, Kamis (30/10/2025).

Langkah sejumlah Presiden yang menjadikan uang sebagai arena pertarungan politik itu pun wajar karena tidak ada ketentuan hukum mengenai desain mata uang. Baru pada 2011 atau 66 tahun sejak Indonesia merdeka, terbit Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Dalam Pasal 7 UU No 7/2011, diatur bahwa gambar pahlawan yang bisa digunakan di uang adalah pahlawan nasional. Adapun pahlawan nasional merujuk pada definisi yang diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

”Dengan begitu, pahlawan nasional yang ada di uang rupiah kian beragam, representasi daerah mulai muncul, dengan semangat memang uang harus memiliki sense of belonging bagi masyarakat,” tutur Erwien.

Quote

Jika tokoh-tokoh berpengaruh seperti ilmuwan, seniman, dijadikan tokoh yang ada di uang, itu bisa menjadi pemicu untuk menghargai semua profesi.

Kendati demikian, menurut dia, perluasan tokoh yang didasari UU No 7/2011 belum cukup. Negara semestinya berani memperluas makna pahlawan tidak hanya yang terkait dengan perjuangan politik dalam merebut kemerdekaan, tetapi juga dengan berbagai peran yang dilakukan rakyat untuk mengisi kemerdekaan. Di negara-negara lain, mulai muncul penggunaan gambar ilmuwan, seniman, dan pemain sepak bola yang berpengaruh untuk dicetak di uang.

”Jika tokoh-tokoh berpengaruh seperti ilmuwan, seniman, dijadikan tokoh yang ada di uang, itu bisa menjadi pemicu untuk menghargai semua profesi, prestasi, dan peran yang dihasilkan rakyat. Sayangnya, sampai sekarang semangat yang kita gunakan masih seperti pada era ORI,” kata Erwien.

Pengunjung mencoba memindai kode batang untuk melihat pahlawan-pahlawan perempuan yang ada di nominal uang dalam pameran bertajuk "Perempuan Kuat Ekonomi Bangsa Hebat" yang diselenggarakan Bank OCBC NISP di Mall Sarinah Thamrin, Jakarta, Kamis (3/11/2022).

Padahal, perluasan semangat kepahlawanan di dalam uang sangat krusial mengingat peran uang yang juga tidak sebatas membangun rasa kebangsaan, tetapi juga representasi kekuatan ekonomi negara. Bentuk uang juga bukan hanya logam dan kertas, melainkan juga uang elektronik yang mulai digunakan masyarakat secara luas.

Setelah membahas sejarah, tokoh, dan dinamika politik di balik pecahan uang kertas, penting juga diingat bahwa peran uang kini tidak hanya sebatas fisik. Pada era digital, uang rupiah hadir dalam bentuk elektronik melalui berbagai platform pembayaran, termasuk QRIS. Meskipun kini bentuknya layar ponsel, semangat yang sama tetap ada, yakni nilai, identitas, dan rasa memiliki terhadap bangsa tetap tersampaikan.

Lantas, setiap kali warga bayar pakai QRIS, ingatlah para pahlawan sedang tersenyum dari balik layar ponselmu. Tenang saja, mereka tidak menagih, hanya memastikan perjuanganmu tetap berlanjut meski saldo di dompet digital atau akun di mobile banking kadang pas-pasan….


Kerabat Kerja

Penulis:

Kurnia Yunita Rahayu, Nina Susilo, Iqbal Basyari
 | 

Editor:

Madina Nusrat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase