Udar Rasa: Dari Primata Menjadi Manusia

Dari buta menjadi sadar. Dari naluri menjadi tatanan.

29 Jun 2025 08:03 WIB · Kolom

Oleh Jean Couteau

Trump, Putin, Netanyahu, dan para pemimpin dunia lainnya—hampir semuanya hari ini tampak seperti primata yang lupa bahwa dirinya telah menjadi manusia. Saya menganjurkan agar mereka membaca kisah berikut ini. Siapa tahu, mereka tersadar bahwa mereka tengah bergerak mundur, kembali menjadi makhluk purba, tak kenal batas, tak hormat tatanan.

Kisah ini menggambarkan bagaimana seorang anak raja zaman purba mampu mengguncang langit dan bumi, lalu ditaklukkan oleh para dewa, dan akhirnya menjelma menjadi manusia seutuhnya. Sebuah pelajaran luhur yang layak direnungkan.

Anak itu adalah Watugunung, putra Raja Kulagiri yang sakti mandraguna—raja yang menghilang begitu putranya lahir, meninggalkan sang ibu dan ibu tiri untuk mengasuh bayi lelaki yang kelak akan mengusik jagat para dewa.

Sejak kecil, Watugunung gemar membuat onar. Kenakalannya luar biasa, hingga suatu hari, ibunya yang tak lagi mampu menahan murka, meraih centong kayu dan memukul ubun-ubunnya.

Jean Couteau, Penulis Udar Rasa

Luka itu bukan sekadar luka fisik, tapi luka yang membangkitkan dendam dan menyulut kesadaran. ”Tak pantas kau pukul darah dagingmu,” katanya. ”Karena itu, aku akan pergi meninggalkanmu dan ibu tiriku. Biarlah aku mengembara di bumi ini, jauh dari kasih yang melukai.”

Maka pergilah ia, melintasi tanah-tanah asing bertahun-tahun lamanya. Hingga suatu senja yang hening, ia tiba di hadapan sebongkah batu datar besar. Di sanalah ia duduk bersila dan mulai bertapa dalam diam yang dalam.

Hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Tapanya menembus langit, mengguncang kahyangan, menimbulkan geger di antara para dewa. Maka Batara Siwa pun turun dari langit, bersabda, ”Wahai Watugunung, apa yang kau cari? Katakanlah, akan kukabulkan agar kahyangan kembali tenteram.”

Dengan mata teduh, Watugunung menjawab, ”Aku ingin kuasa atas seluruh tanah dan makhluk bumi. Wahai Siwa, berikanlah semuanya padaku.”

”Permintaanmu kukabulkan,” kata Siwa. ”Namun ingatlah, jika suatu hari kau berhadapan dengan dewa berkepala penyu, itulah pertanda akhir kekuasaanmu.”

Dengan restu langit, Watugunung memulai penaklukan. Kerajaan demi kerajaan dihancurkannya. Ia membakar, menjarah, memerkosa, dan membunuh. Semua raja takluk, menjadikannya raja dari segala raja. Hanya satu kerajaan yang belum tunduk, diperintah oleh dua ratu: Sinta dan Landep. Ketika kabar ini sampai padanya, Watugunung menyerbu, menaklukkan, dan menjadikan kedua ratu itu istrinya.

Tibalah malam pertama. Di pelaminan, usai mencicipi madu sanggama, Sinta—sang ratu tertua—membelai wajah sang penakluk. Namun ketika jemarinya menyusuri ubun-ubunnya, ia tertegun. Sebuah luka lama yang amat dikenalnya.

”Siapakah yang melukaimu, Kakanda Raja?” tanyanya.

”Ibuku. Saat aku kecil dan membuat onar.”

Sinta pun terhuyung dalam kesadaran. Ia telah bersanggama dengan anak kandungnya. Landep pun tersadar akan kenyataan yang mengerikan itu. Mereka telah melanggar hukum semesta.

Dilanda kegelisahan, Sinta mencari jalan. Maka pada suatu pagi, ia berkata pada Watugunung: ”Wahai Kakanda, raja segala raja, mengapa tidak kau nikahi perempuan tercantik di semesta ini—istri Dewa Wisnu, Ni Nawang Sari?”

Tergoda nafsu dan ambisi, Watugunung menyerbu kahyangan. Pertempuran pun terjadi. Wisnu turun menghadang. Ketika nyaris kalah, ia menjelma menjadi kura-kura raksasa: sang Metriwikrama.

Pertarungan berlangsung sengit, dari hari Minggu hingga Jumat. Watugunung mulai bimbang. Keraguan menyelinap dalam dadanya. Ia mulai sadar, tetapi tetap melawan. Hingga hari Sabtu, ketika sang kura-kura bersiap melayangkan pukulan pamungkas, suara menggema dari langit:

”He, Wisnu, jangan bunuh Watugunung. Ia kini sadar bahwa kehidupan manusia harus berjalan teratur. Maka, mulai saat ini, pantanglah seorang anak meniduri ibunya.”

”Dan Watugunung, mulai kini, engkau menjadi penguasa waktu. Kutempatkan engkau di minggu terakhir dalam siklus Pawukon Jawa. Dan ibumu—yang mengawali hidupmu—menempati minggu pertama dalam siklus berikutnya. Di antara kalian, kupasang satu hari pemisah: hari terakhir dalam pawukon—hari Saraswati.”

Demikianlah akhir perjalanan Watugunung: dari anak yang ditinggalkan, menjadi penakluk dunia, lalu sang bijak yang menjaga waktu dan ritusnya.

Begitulah: ketika manusia sadar bahwa seks harus diatur, dan waktu ditata dalam upacara—kita, yang tadinya primata, menjadi Homo sapiens. Dari buta menjadi sadar. Dari naluri menjadi tatanan.

Kisah indah, bukan? Tak heran jika kini ia menjadi dasar kolaborasi antara guru musik dari Belgia di Jakarta dan sanggar Satria Lelana di Batuan, yang akan mementaskannya dalam bentuk Gambuh di Pesta Kesenian Bali. Semoga ajarannya benar-benar meresap.


Kerabat Kerja

Penulis:

Jean Couteau
 | 

Editor:

Dahono Fitrianto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto