Eropa Matangkan Pengiriman Pasukan ke Ukraina

Rencana penempatan pasukan penjaga perdamaian dari negara anggota koalisi terus dimatangkan. UE juga mengantisipasi potensi invasi Rusia di masa depan.

21 Mar 2025 16:00 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

LONDON, JUMAT —Eropa terus mematangkan rencana mengirim pasukan ke Ukraina. Pengiriman itu bagian dari usulan gencatan senjata Rusia-Ukraina. Eropa juga terus mematangkan rencana pertahanan masa depan.

Isu-isu itu sebagian bahasan dalam rapat para petinggi pertahanan dan komandan angkatan bersenjata 31 negara Eropa. Mereka bertemu di Pangkalan Militer Northwood, London, Inggris, Kamis (20/3/2025).

“Sangat penting bagi kami untuk melakukan pekerjaan itu karena kita tahu satu hal yang pasti, yaitu kesepakatan tanpa apapun di baliknya adalah sesuatu yang akan dilanggar oleh Putin (Presiden Rusia Vladimir Putin),” kata Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Sejumlah negara Eropa berkumpul dalam kelompok yang disebut ”Koalisi Sukarela” gagasan Inggris-Perancis. Koalisi itu, kata Starmer, berharap ada kesepakatan mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Koalisi juga mempertahankan pendapat, posisi tawar Ukraina perlu dinaikkan. Caranya termasuk dengan memperkuat militer Ukraina.

Dengan mediasi Amerika Serikat, Rusia-Ukraina pada prinsipnya sepakat gencatan senjata terbatas. Pertemuan pejabat teknis AS-Rusia-Ukraina di Arab Saudi dalam waktu dekat akan memperinci cara kesepakatan dilakukan.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berbicara di Pangkalan Militer Northwood di utara London, Inggris, Kamis (20/3/2025), yang menjadi lokasi pertemuan 31 pemimpin militer negara-negara Eropa.

Soal pengiriman pasukan ke Ukraina, menurut Starmer, rencananya akan bertugas di darat, laut, dan udara. Pasukan itu juga akan berjaga di perbatasan. Selain itu, pasukan tersebut akan membantu Ukraina melatih tentara baru.

Eropa bisa menempatkan sampai 30.000 tentara. Penempatan akan disesuaikan dengan kesepakatan para pihak terkait dan berkepentingan.

Sejauh ini, baru Inggris dan Perancis siap mengirim pasukan. Sementara dua negara di luar Eropa, Australia dan Kanada, masih perlu membahas perincian pengiriman.

Peneliti senior Royal United Service Institute (RUSI) Jack Watling menyebut, pertemuan di Northwood sejatinya untuk membahas kemungkinan pasukan Eropa berhadapan dengan Rusia. Peneliti pada lembaga kajian keamanan dan pertahanan Inggris itu menyebut, Eropa terutama akan mengandalkan angkatan udara bila berhadapan dengan Rusia.

Sejauh ini, Moskwa telah menolak gagasan penempatan pasukan asing di Ukraina. Kehadiran pasukan Eropa, kata Juru Bicara Kantor Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov, akan membuat Eropa jadi negara yang terlibat perang.

Military vehicles cross the IJssel river on route to Germany for the Steadfast Defender NATO exercise held in Germany, in Welsum, the Netherlands, on April 10, 2024. Approximately 5,000 Dutch troops are participating in the military exercise gathering a total of 90,000 soldiers from 32 countries. (Photo by Remko de Waal / ANP / AFP) / Netherlands OUT

Pertahanan Eropa

Sementara komandannya bertemu di Inggris, para pemimpin anggota Uni Eropa bertemu di Belgia. Para pemimpin itu membahas kebutuhan pertahanan Ukraina dan rencana pertahanan jangka panjang Eropa. Penguatan pertahanan Eropa dinilai mendesak di tengah kekhawatiran atas serbuan Rusia.

Bahasan rapat Brussels antara lain soal agar anggota UE membeli lebih banyak senjata buatan UE. Pembelian itu untuk penguatan pertahanan mandiri EU.

Presiden Lithuania Gitanas Nauseda menyatakan, Eropa harus mempersenjatai diri agar terhindar sebagai korban agresi Rusia selanjutnya. Sementara Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis mengatakan, akan lebih baik UE menjadi lembaga yang membiayai pengeluaran pertahanan dan mempertimbangkan memberi hibah pada negara anggota alih-alih pinjaman.

Sedangkan PM Spanyol Pedro Sanches mengatakan, tidak menyukai penggunaan istilah mempersenjatai kembali yang digunakan Komisi Eropa untuk mendorong peningkatan anggaran pertahanan. Ada perbedaan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh negara-negara di selatan Eropa dan di wilayah timur.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen (kiri, membelakangi kamera) berbincang dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz (tengah) dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa (kanan) disela KTT Uni Eropa di Brussels, Belgia, Kamis (20/3/2025).

Komitmen negara-negara Eropa untuk menaikkan anggaran belanja pertahanan lebih dari 2 persen disepakati sejak hampir satu dekade lalu. Ini diingatkan kembali oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan mencabut “payung pertahanannya” dari Eropa jika UE tidak menaikkan anggran belanja pertahanannya.

Namun, tidak mudah bagi sejumlah negara, salah satunya Italia dan Spanyol. Sebab, mereka, terutama Spanyol, memiliki utang cukup besar. Menaikkan anggaran belanja pertahanan akan menambah beban keuangannya.

Selain membahas anggaran pertahanan UE, pertemuan Kamis juga membahas soal dukungan dana untuk belanja militer Ukraina. Dukungan dana ini penting bagi Ukraina untuk belanja persenjataan.

"Kami membutuhkan dana untuk peluru artileri dan akan sangat menghargai dukungan Eropa dengan setidaknya lima miliar Euro sesegera mungkin,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Infografik pangkalan militer AS di Eropa

Tidak ada jawaban konkret dari para pemimpin UE soal permintaan Zelenskyy tersebut. Akan tetapi, ketua pertemuan puncak Antonio Costa mengatakan, anggota UE berjanji memberikan bantuan senilai 15 miliar Euro untuk Ukraina. Costa yakin, UE akan terus meningkatkan bantuannya.

Besaran ini berbeda dengan besaran nilai yang diusulkan Kepala Kebijakan Luar Negeri UE yang baru, Kaja Kallas. Sebelumya Kallas mengusulkan bantuan militer sebesar 40 miliar Euro di 2025.

Bantuan hasil sumbangan seluruh anggota UE sesuai kemampuan ekonominya. Sejumlah anggota UE menolak usulan Kallas (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase