Israel-Hamas saling tuding melanggar kesepakatan gencatan senjata. Israel melancarkan serangan mematikan ke Gaza dan menutup aliran bantuan.
20 Okt 2025 10:00 WIB · Internasional
GAZA, SENIN — Gencatan senjata Hamas-Israel terus menghadapi ujian. Kedua pihak saling tuding pihak lain melanggar kesepakatan. Israel menyerang Gaza dan menghentikan suplai bantuan kemanusiaan bagi warga.
Laporan kantor berita AFP, Senin (20/10/2025), menyebutkan, Israel menyatakan telah mulai kembali menegakkan gencatan senjata setelah serangan itu. Bantuan kemanusiaan juga mulai mengalir kembali ke Gaza setelah terhenti singkat.
Serangan Israel terhadap warga Gaza pada Minggu menewaskan 45 orang. Sementara Israel melaporkan dua tentara tewas di Gaza selatan akibat serangan Hamas.
Israel menuding Hamas melanggar gencatan senjata dengan serangan tersebut. Hamas membantah telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu lantas memerintahkan militer untuk menindak tegas pelanggaran gencatan senjata. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, Israel menyerang berbagai titik dengan target Hamas di seluruh Gaza.
Israel, antara lain, menyerang kamp Nuseirat dan Bureij di Gaza tengah. Sebuah kedai kopi darurat di kota Zawaida di Gaza tengah turut menjadi sasaran. Pasukan Israel juga melancarkan serangan di Beit Lahiya di Gaza utara dan di daerah Muwasi, Khan Younis, Gaza selatan.
Badan pertahanan sipil Gaza, yang beroperasi di bawah otoritas Hamas, mengatakan, setidaknya 45 orang tewas di seluruh wilayah yang diserang Israel. Selain korban tewas, rumah sakit juga menerima korban luka-luka.
Militer Israel mengatakan sedang menyelidiki laporan korban jiwa. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memperingatkan, respons Israel akan semakin keras. ”Hamas akan membayar mahal untuk setiap tembakan dan setiap pelanggaran gencatan senjata,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/20/104896cf-955f-49bd-9934-52330f3b5388_jpg.jpg)
Sebaliknya, Hamas terus menuduh Israel melanggar gencatan senjata. Hamas juga mengatakan, komunikasi dengan unit-unitnya yang tersisa di Rafah telah terputus selama berbulan-bulan. ”Kami tidak bertanggung jawab atas insiden apa pun yang terjadi di wilayah tersebut,” ujar Hamas.
Izzat Al-Rishq, anggota biro politik Hamas, dalam pernyataan menegaskan kembali komitmen kelompok tersebut terhadap kesepakatan gencatan senjata. ”Israel terus melanggar perjanjian dan mengarang dalih yang lemah untuk membenarkan kejahatannya,” ujar Al-Rishq.
Sayap bersenjata Hamas bersikeras bahwa kelompok itu mematuhi perjanjian gencatan senjata dengan Israel dan tidak mengetahui adanya bentrokan di Rafah.
Seorang saksi mata Palestina mengatakan kepada AFP, bentrokan meletus di Rafah, Minggu. Pria berusia 38 tahun itu meminta untuk tidak disebutkan namanya. Ia mengatakan, Hamas tengah memerangi geng Palestina lokal yang dikenal sebagai Abu Shabab.
Akan tetapi, Hamas terkejut dengan kehadiran tank-tank tentara Israel. ”Angkatan udara melancarkan dua serangan udara,” tambahnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/20/2ced513e-288e-466e-848e-59a9a117f7d9_jpg.jpg)
Serangan Israel pada Minggu menimbulkan kekhawatiran warga Palestina bahwa perang akan kembali terjadi. ”Situasinya seolah-olah perang telah kembali lagi,” kata Abdullah Abu Hasanin (29) dari kamp Al-Bureij, tempat Israel melancarkan serangan.
”Ini akan menjadi mimpi buruk,” kata Mahmoud Hashim, ayah lima anak asal Kota Gaza. Ia meminta Presiden AS Donald Trump dan mediator lainnya untuk bertindak.
Seorang pejabat senior Mesir yang terlibat dalam negosiasi gencatan senjata mengatakan, komunikasi sepanjang waktu sedang berlangsung untuk meredakan situasi. Pejabat Mesir itu berbicara dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang berbicara kepada wartawan.
Departemen Luar Negeri AS belum memberikan keterangan terkait serangan Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/16/62ce574c-1941-4050-9541-409cac54fce5_jpg.jpg)
Kesepakatan gencatan senjata Hamas-Israel tercapai pada 8 Oktober 2025 dan menghentikan perang yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Kesepakatan mulai berlaku pada 10 Oktober.
Secara garis besar, kesepakatan menetapkan pertukaran sandera dan tahanan. Bersamaan dengan itu, Trump mengusulkan peta jalan ambisius untuk masa depan Gaza.
Dari pertukaran sandera dan tahanan, Hamas-Israel berselisih mengenai pengembalian jenazah para sandera Israel. Israel menuntut Hamas memenuhi kewajibannya untuk menyerahkan jenazah 28 sandera yang tewas.
Sejauh ini, Hamas telah mengembalikan 12 jenazah sandera. Hamas mengatakan, mereka membutuhkan waktu, upaya, dan peralatan khusus untuk menemukan jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan.
Sayap bersenjata Hamas, Brigade Qassam, mengatakan telah menemukan jenazah sandera lain dan akan mengembalikannya ”jika keadaan di lapangan” memungkinkan. Hamas memperingatkan, eskalasi apa pun oleh Israel akan menghambat upaya pencarian.
Hamas mengatakan, kehancuran akibat perang dan kendali militer Israel atas wilayah-wilayah tertentu telah memperlambat penyerahan jenazah sandera. Israel meyakini Hamas memiliki akses ke lebih banyak jenazah daripada yang telah dikembalikan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/16/ed859536-21e2-45ab-982b-88820d572755_jpg.jpg)
Israel juga sudah memulangkan 150 jenazah warga Palestina ke Gaza. Namun, menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, Israel belum mengidentifikasi jenazah-jenazah ataupun menjelaskan bagaimana mereka meninggal.
Baru 25 jenazah yang teridentifikasi. Kementerian mengunggah foto-foto jenazah di lamannya untuk membantu keluarga yang berusaha menemukan orang-orang terkasih mereka.
Hamas sebelumnya membebaskan 20 sandera hidup. Sebagai balasan, Israel melepaskan lebih dari 1.900 orang tahanan Palestina.
Setelah tukar-menukar sandera dan tahanan, tahap selanjutnya dari implementasi kesepakatan fokus pada pelucutan senjata Hamas, penarikan Israel dari wilayah-wilayah tambahan yang dikuasainya di Gaza, dan tata kelola wilayah Gaza yang hancur di masa mendatang. Berdasarkan 20 poin yang diusulkan Trump, akan dibentuk otoritas yang didukung internasional.
Delegasi Hamas yang dipimpin kepala negosiator Khalil al-Hayya sudah tiba di Kairo, Mesir, untuk menindaklanjuti implementasi kesepakatan gencatan senjata dengan para mediator dan kelompok Palestina lainnya. Juru bicara Hamas, Hazem Kassem, mengatakan, Hamas sudah memulai diskusi untuk ”memperkuat posisinya”.
Ia menegaskan kembali, Hamas tidak akan menjadi bagian dari otoritas yang berkuasa di Gaza pascaperang. Hamas menyerukan pembentukan segera badan teknokrat Palestina untuk menjalankan urusan sehari-hari. ”Untuk saat ini, lembaga-lembaga pemerintah di Gaza terus menjalankan tugasnya karena kekosongan (kekuasaan) ini sangat berbahaya,” ujarnya. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto