Hadapi Strategi Rusia, Ukraina Mundur dari Konvensi Antiranjau Darat

Ukraina mengikuti jejak lima negara yang berbatasan dengan Rusia yang mengindikasikan mundur dari perjanjian pelarangan ranjau darat itu.

30 Jun 2025 09:28 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

KYIV, SENIN — Ukraina berencana menarik diri dari konvensi antiranjau darat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, langkah itu sebagai strategi Ukraina menghadapi Rusia yang masif menggunakan ranjau darat sejak menginvasi Ukraina pada Februari 2022.

Penarikan diri dari Perjanjian Ottawa tahun 1997 itu terungkap dalam dekrit yang ditandatangani Zelenskyy, Minggu (29/6/2025). ”Saya dengan ini memutuskan untuk memberlakukan keputusan Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina tertanggal 29 Juni 2025 tentang penarikan Ukraina dari konvensi penting tersebut,” kata Zelenskyy.

Keputusan yang termuat dalam situs resmi Kepresidenan Ukraina itu juga wujud dukungan pada usulan Kementerian Luar Negeri Ukraina untuk menarik Ukraina dari Konvensi Ottawa pada 18 September 1997.

Konvensi Ottawa, merujuk laporan Euronews, Senin (30/6/2025), merupakan perjanjian yang diikuti lebih dari 160 negara. Perjanjian ini melarang penggunaan, memproduksi, menimbun, dan memindahkan ranjau darat anti-personel, dan memusnahkannya. Perjanjian ini bertujuan untuk melindungi warga sipil dari ledakan ranjau setelah konflik berakhir.

Ukraina meratifikasi konvensi itu pada 2005. Sementara Rusia bukan negara yang ikut menandatangani perjanjian itu.

Ukrainian President Volodymyr Zelenskyy speaks during a press conference in Kyiv, Ukraine, Friday, April 4, 2025. (AP Photo/Evgeniy Maloletka)

Zelenskyy melalui video yang dirilis pada Minggu malam menyampaikan, ranjau anti-personel sering kali menjadi instrumen yang tidak dapat digantikan oleh apa pun untuk tujuan pertahanan. Dalam perang Ukraina-Rusia yang sudah berlangsung 40 bulan, Rusia sering kali menggunakan ranjau darat itu secara masif di wilayah Ukraina.

Zelenskyy menggambarkan penggunaan ranjau darat sebagai ”gaya khas pembunuh Rusia”.

”Rusia menghancurkan kehidupan dengan segala cara yang mereka miliki,” kata Zelenskyy. ”Rusia tidak pernah menjadi pihak dalam konvensi ini. Rusia menggunakan ranjau darat antipersonel dengan cara yang sangat sinis bersama dengan senjata lain, termasuk rudal balistik,” kata Zelenskyy.

”Dengan mengambil langkah politik ini, kami mengirimkan sinyal kepada semua mitra politik kami tentang apa yang harus difokuskan. Ini berlaku untuk semua negara di sepanjang perbatasan Rusia,” kata Zelenskyy.

Alasan pertahanan

Penggunaan ranjau darat antipersonel oleh Rusia sudah membuat lima negara tetangga Rusia, yakni Polandia; tiga negara Baltik, yaitu Estonia, Latvia dan Lituania; serta Finlandia, merencanakan mundur dari konvensi antipenggunaan ranjau darat. Dalam laporan Kompas.id 14 Maret 2025, negara-negara itu khawatir sejak Rusia menyerbu Ukraina. Langkah penarikan diri itu diambil untuk keamanan negara mereka.

Petugas penyelamat Ukraina berjalan melewati mobil yang terbakar di depan bangunan yang rusak di lokasi serangan rudal di Sumy, timur laut Ukraina, pada 13 April 2025

Meskipun sudah mengumumkan rencana penarikan diri, keputusan tersebut masih memerlukan persetujuan parlemen. Sekretaris Komite Parlemen Ukraina bidang Keamanan Nasional, Pertahanan, dan Intelijen Roman Kostenko menyampaikan, keputusan yang diambil Ukraina merupakan langkah yang telah lama dituntut oleh realitas perang. Rusia bukan pihak dalam konvensi ini dan secara besar-besaran menggunakan ranjau terhadap militer dan warga sipil.

Kostenko, melalui media sosial Facebook, menulis, Ukraina tidak bisa terus terkungkung dalam lingkungan di mana musuh tidak memiliki batasan.

Ia juga menulis, keputusan legislatif tersebut harus secara definitif memulihkan hak Ukraina untuk secara efektif mempertahankan wilayahnya. Sayangnya, Kostenko tidak mengatakan kapan keputusan itu akan dibahas di parlemen.

Setelah lebih dari tiga tahun invasi skala penuh Rusia, Ukraina sekarang menjadi negara dengan ranjau terbanyak di dunia. Euronews melaporkan akan memakan waktu hingga 30 tahun untuk menyelesaikan pembersihan ranjau karena sepertiga wilayah Ukraina berpotensi berbahaya.

Media Ukraina melaporkan bahwa wilayah yang dibebaskan oleh Ukraina sejak 2022 telah tertutup ranjau dalam jumlah besar sehingga sulit dan berbahaya untuk membersihkannya.

(AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto