Ukraina, dari Demonstrasi ke Invasi

Perjalanan 34 tahun kemerdekaan Ukraina.

25 Agt 2025 14:14 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Perjalanan kemerdekaan Ukraina tak lepas dari peristiwa ”rantai manusia” yang mereka lakukan dalam unjuk rasa damai pada 21 Januari 1990. Untuk mendukung kemerdekaan dari Uni Soviet, ratusan ribu masyarakat Ukraina bergandengan dan membentuk rantai manusia sepanjang lebih kurang 600 kilometer. Ini menjadi unjuk rasa terbesar di negara itu bahkan sampai sekarang. 

Sebelumnya Ukraina pernah menjadi negara merdeka setelah mendeklarasikan kemerdekaan pada 23 Juni 1917. Namun, sayangnya ini tidak bertahan lama. Setelah tiga tahun bergejolak, negara Ukraina berakhir dengan dimasukkannya Ukraina sebagai bagian dari Uni Soviet pada 1921.

Awalnya, unjuk rasa ”rantai manusia” dilakukan untuk memperingati ulang tahun ke-71 Republik Ukraina yang berumur pendek. Dalam dinginnya suhu udara saat itu, mereka berbaris sambil membawa bendera Ukraina berwarna biru dan kuning yang saat itu dilarang oleh Uni Soviet.  

Orang-orang mengibarkan bendera nasional Ukraina saat mereka berkumpul di luar gedung parlemen selama rapat umum pro-kemerdekaan, di Kyiv, 4 September 1991.

Aksi ini akhirnya berkembang ke kota-kota lain, seperti Kyiv, Lviv, dan Donetsk. Runtuhnya Uni Soviet dimanfaatkan masyarakat di Ukraina untuk kembali mendeklarasikan kemerdekaan kembali pada 24 Agustus 1991. 

Oleksandr Donii adalah salah satu pemimpin protes mahasiswa yang menuntut kedaulatan dan reformasi politik pada tahun 1990, sebelum Ukraina mendeklarasikan kemerdekaannya. Ia ingat pernah berpikir bahwa perjuangan untuk otonomi akan memakan waktu puluhan tahun. Sebaliknya, hal itu terjadi jauh lebih cepat dari yang pernah dibayangkannya.

Ketika Uni Soviet runtuh, Ukraina segera mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1991 dan kemudian menyelenggarakan referendum yang didukung oleh lebih dari 90 persen pemilih. ”Saya mempersiapkan diri untuk penjara dan kamp kerja paksa. Saya pikir perjuangan itu akan berlangsung 20-30 tahun,” kata Donii kepada Associated Press (AP).

Dua orang Ukraina memperdebatkan manfaat kemerdekaan di alun-alun pusat Kyiv, Selasa (2/12/1991).
Kadet tentara Soviet mendaftar untuk memilih dalam pemilihan presiden pertama Ukraina di Kyiv, Senin (1/12/1991).
Wanita Ukraina berteriak sambil melambaikan kupon mereka untuk membeli mentega di sebuah toko milik negara di Kyiv, Rabu Selasa (3/12/1991).
Monumen Ibu Pertiwi terlihat setelah pekerja menghapus lambang Soviet dari perisai monumen di Kyiv, Ukraina, Selasa (1/8/2023).
Orang-orang Ukraina merayakan hari kemerdekaan Ukraina di depan parlemen di Kyiv,  Sabtu (24/8/1991).

Saat negara itu memperingati 34 tahun peristiwa monumental tersebut pada hari Minggu (24/8/2025), Donii dan anggota parlemen serta aktivis generasi pertama Ukraina lainnya menggambarkan bagaimana meskipun terpisah dari Uni Soviet, cengkeraman Moskwa tetap bertahan.

Rusia menggunakan tekanan politik, perpecahan sosial, dan menyingkirkan suara-suara pro-Barat. Hal itu akhirnya membuka jalan bagi invasi besar-besaran ke Ukraina tiga dekade kemudian. Pada tahun 1990, Donii dan para pemimpin mahasiswa lain yang melakukan aksi mogok makan tidak hanya menyerukan pemisahan diri dari Moskwa, tetapi juga pembaruan sistem politik di dalam negeri.

Reaksi warga setelah serangan pesawat tak berawak menghantam bangunan di Kyiv, 17 Juni 2025.

Usulan pertama mereka adalah mengadakan pemilihan umum cepat untuk Parlemen Ukraina, yang dianggap penting untuk menyingkirkan anggota parlemen era Uni Soviet yang masih menjabat. Namun, gagasan tersebut gagal mendapatkan dukungan luas, bahkan di antara kelompok pro-kemerdekaan sekalipun.

Oleksandr Nechyporenko, seorang anggota parlemen dari Parlemen Ukraina pertama, mengingat betapa terfragmentasinya masyarakat di ambang kemerdekaan. ”Sebagian besar bersikap netral, termasuk orang-orang yang ragu-ragu, yang tidak memiliki cukup informasi,” kenangnya.

Menurut dia, toleransi Ukraina terhadap kelompok-kelompok berpengaruh Rusia sejak awal kemerdekaannya merupakan kesalahan besar. ”Seharusnya kita lebih tegas, lebih radikal,” ujarnya.

Tentara Ukraina berjalan melalui hutan hangus di garis depan beberapa kilometer dari Andriivka, wilayah Donetsk, Ukraina,  Sabtu (16/9/2023).
Seorang pria menanam bunga matahari di kebunnya dekat tank Rusia yang rusak dan menaranya di Velyka Dymerka, wilayah Kyiv, Ukraina, Rabu (17/5/2023).
Seorang prajurit Ukraina dengan latar belakang bendera negaranya saat berdiri di atas tank, di luar Kyiv, Ukraina, Sabtu (2/4/2022).
Seorang wanita berjalan di tengah tank Rusia yang hancur di Bucha, di pinggiran Kyiv, Ukraina, Minggu (3/4/2022).
Seorang tentara Ukraina yang terluka berbaring di tempat tidur di dalam bus medis khusus selama evakuasi oleh sukarelawan dari organisasi paramedis Hospitallers di wilayah Donetsk, Ukraina, Rabu (22/3/2023).
Orang-orang mengunjungi tembok peringatan para pembela Ukraina yang gugur di Kyiv, Ukraina, pada Sabtu, (23/8/2025).
Seorang tentara Ukraina menutup telinganya saat menembakkan mortir ke posisi Rusia di garis depan dekat Bakhmut, wilayah Donetsk, Ukraina, Senin (29/5/2023).

Perjanjian untuk menyerahkan persenjataan nuklir besar yang tersisa di tanah Ukraina setelah runtuhnya Uni Soviet kepada Rusia saat ini dianggap sebagai suatu kesalahan besar. Polemik serta pengaruh dunia Barat lewat Amerika Serikat dan NATO menimbulkan gejolak sosial dan politik di Ukraina. 

Memorandum Budapest, sebuah perjanjian yang memberikan jaminan kedaulatan dan integritas wilayah kepada Ukraina dari Amerika Serikat, Inggris, dan Rusia akhirnya hanyalan sebuah janji kosong. Moskwa mengoyak perjanjian tersebut dengan aneksasi Crimea pada tahun 2014 dan kemudian dengan invasi besar-besaran pada tahun 2022. Tiga puluh empat tahun kemerdekaan Ukraina yang belum sepenuhnya merdeka. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan